
Saat kembali ke meja makan Ferel langsung saja menohok Fanya dengan pertanyaaan sehingga makanan yang ada di mulutnya muncrat keluar sehingga membuatnya terbatuk-batuk. Dia langsung saja mengambil minuman didepan lalu meneguknya sampai tandas.
"Fanya yang tadi itu orang Jepang yang nelpon ya?" tanya Ferel.
"Siapa bilang?!"
"Aku"
"Ya nggaklah, lu dengar sendiri kan, kalau dia itu bisa bahasa Indonesia, mana mungkin orang Jepang."
"Tapi kenapa kamu nyuruh dia pakai bahasa Indonesia aja?" tanya Ferel sambil mengingat-ingat kata Fanya tadi.
"Ya iyalah, gua nyuruh dia pakai bahasa Indonesia jika dia pakai bahasa Jepang nanti gua nggak ngerti, emang lu yang mau jawab."
"Tuh kan berarti dia orang Jepang kan" kata Ferel.
"Nggak, dia itu teman grup gua tempat gua belajar bahasa Jepang" jelas Fanya.
"Oh gitu ya, emang moshi - moshi itu apa artinya Fanya?" tanya Ferel bingung dengan kata-kata yang baru saja didengarnya.
"Tanyakan aja sama Tazu" kata Fanya dengan santainya melempar pertanyaan itu.
"Nani? " kata Tazu reflek dan terkejut mendengar namanya dipanggil.
"Bukan nani Tazu, tapi moshi - moshi" kata Ferel gemas dengan tingkah Tazu.
"Moshi - moshi, oh anu...." kata Tazu kelimpungan menjawab pertanyaan Ferel.
"Moshi - moshi itu digunakan untuk menyapa seseorang lewat telepon sama juga artinya dengan Halo" kata Fanya memotong kata-kata Tazu yang tidak jelas.
Tak lama setelah itu, mereka bertiga selesai makan, sekarang mereka bertiga menuju ruang belajar Fanya. Ruang belajar Fanya bisa dibilang perpustakaan yang berada di rumah, semua buku-buku cukup lengkap disana, dari buku yang sudah kelihatan kuno sampai dengan buku yang terbaru ada di sana.
__ADS_1
Fanya memberikan beberapa kamus bahasa Jepang dan berapa CD film yang masih menggunakan bahasa Jepang, tapi sudah ada subtitle bahasa Indonesia.
"Untuk apa?" tanya Tazu sambil mengerutkan keningnya saat Fanya memberikan buku-buku dan CD tersebut.
"Ya untuk kamu pelajarilah" jawab Fanya singkat.
"Tapi kan kamu yang mau mengajarinya."
"Ya tapi kamu harus tahu dulu artinya."
"Sama saja aku belajar sendiri" kata Tazu tak terima dengan jawaban Fanya.
"Oke kamu tahu kan 'Nani' itu artinya apa?"
"Oh nani itu artinya apa, pantasan saja tadi Tazu terkejut sambil bilang Nani " kata Ferel mangguk - mangguk mengerti dengan penjelasan Fanya.
"Kamu manggil dirimu dengan sebutan ore, boku atau Watashi?"
"Iya aku tau itu kata - kata nya sangat sopan kebanyakan orang akan memanggil dirinya watashi saat bertemu dengan atasan, Presiden serta orang baru dikenal" jelas Fanya yang hanya di angukan oleh Tazu dan Ferel. "Jika kamu menggunakan ore kamu akan dibilang tidak sopan, kalau sama teman akrab sih nggak apa - apa" lanjut Fanya.
"Benar itu Fanya?" tanya Ferel memastikan.
"Iya."
"Aku jadi mulai tertarik ingin mempelajari bahasa Jepang Fanya, lain kali aku diajari ya?"
"Iya Ferel, baiklah Tazu kita lanjutkan lagi, tadi sampai mana Tazu?"
"Sampai panggilan untuk diri sendiri." Ferel mencoba mengingatkan Fanya yang seketika ditatap oleh Fanya.
"Itu artinya sama dengan aku atau gua, kamu udah bisa kan menghitung dari angka 1 sampai 10?"
__ADS_1
"Ichi, Ni, San, Yon...."
"Bukan bahasa Jepang, tapi bahasa Indonesia Tazu."
"Sa..satu, du..dua, ti..tiga, em...empat, li...lima, e...enam." Tazu mencoba mengingat - ingat lagi nama angka berapa setelah itu.
"Tujuh" kata Fanya membantu Tazu untuk mengingatnya.
"Tujuh, dela...pan, se.....sembilan, sepu...luh" kata Tazu.
"Bagus, kamu udah bisa."
"Eh iya masa sih."
"Yaudah, kita cukupin aja segini dulu pelajarannya, CD dan kamus boleh kamu bawa pulang."
"Arigatou gozaimasu Fanya."
"Iie, dou itashimashite."
Tak lama setelah itu Tazu dan Ferel pun pulang dari rumah Fanya saat itu Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore.
****
🎁🎁🎁🎁🎁🎁🎁🎁🎁🎁🎁🎁🎁🎁🎁🎁
terimakasih atas teman - teman yang telah membaca cerita ini serta jangan lupa untuk membaca cerita
CERBUNG CINTA DAN BENCI
__ADS_1