
"Tazu, Ferel, Alan ayo makan dulu" kata Mama Hana.
"Baik Tante" kata Ferel mewakili lalu diikuti oleh teman-temannya untuk pergi ke ruang makan. Disana ada Papa Hana yang sudah menunggu mereka. Mereka pun duduk di kursi meja makan.
"Silakan makan" seru Mama Hana.
"Baik Tante" kata Alan sambil mengambil makanan dan memasukkannya ke piring, yang diikuti oleh teman-temannya.
"Selamat makan" kata mereka secara bersama-sama barulah mereka semua makan.
"Tante, gimana keadaan Fanya? Di mana Hana, Tan?" tanya Ferel.
"Fanya udah baikan kok, jadi kamu tenang aja. Hana lagi keluar bentar. Dia bilang nanti dia akan makan" kata Mama Hana menyembunyikan sesuatu.
"Oh gitu ya, Tan" kata Ferel.
"Tazu, gimana kabarmu selama di Indo?" tanya Papa Hana.
"Baik-baik aja Om, selama di Indo aku baik-baik saja di sana"
"Oh, gimana keadaan Papamu? Kenapa nggak bertamu kerumah?"
"Papa, baik-baik aja, Om. Kata Papa, dia akan pulang malam ini. Aku kemaren pulang duluan, karena bosan di Indonesia Om. Soalnya di sana nggak ada teman, Om. Kan, semua teman - temanku yang ada di Indonesia ada di sini. Jadi, aku pulang duluan. Kata Papa, dia akan menyusul. Saat pekerjaannya selesai, Om" jelas Tazu panjang lebar.
"Oh iya, kayaknya malam ini akan terjadi badai salju"
"Ya Om. Oh ya, aku udah selesai makannya nih. Aku ingin pulang dulu ya Om, Tan."
"Kenapa nggak nginap di sini aja?"
"Takut dicariin sama Papa, Om"
"Hubungi aja Papa kamu. Bilang, kamu nginep di sini. Tadi aja, saat membeli obat untuk Fanya. Badai saljunya sudah turun. Sehingga, lumayan lama Om nunggu di apotik supaya badainya reda. Barulah Om bisa pulang"
"Oh iya, Tante ke dalam dulu ya. Untuk periksa keadaan Fanya" kata Mama Hana yang sudah menyelesaikan memakan makanannya.
"Baik, Tan" kata Ferel, Alan dan Tazu hampir bersamaan. Lalu barulah Mama Hana pergi dari sana.
"Yang benar, Om? Badai saljunya udah datang? Gimana dengan Hana? Kan kata Tante Hana masih di luar?"
"Iya..., masa Om bercanda sih. Lihat aja keluar jalanan sudah penuh ditutupi oleh salju. Palingan Hana bentar lagi pulang."
"Ya udah, mau nggak mau. Aku harus nginep ya, Om?"
"Iya kalau kamu mau pulang juga, nggak apa - apa"
"Tazu, nginep aja dulu. Soalnya, kan lumayan tambah teman sekamar satu orang lagi" kata Alan.
"Iya gua nggak mau juga kalau satu kamar dengan tuh cowok" kata Ferel.
"Kalian lagi berantem ya?" tanya Papa Hana.
"Nggak Om, aku cuma kesel aja sama dia" kata Alan.
"Lebih baik aku nginep di sini aja, Om. Daripada nanti rumah Om, diberantakin oleh mereka berdua. Lagian, udah lama juga aku nggak nginep di sini. Selain itu nggak asik juga terjebak di badai salju. Aku nggak ingin kondisiku jadi seperti Fanya, Om"
"Itu keputusan yang bagus. Kamu nggak usah sungkan-sungkan. Anggap aja rumah sendiri. Lagian, teman - teman kamu ada di sini. Kalau mau nonton TV. Kamu, kan udah tahu. Kalau di kamar ada TV. Sekalian ajak teman - temanmu ke kamar."
"Ya baik, Om. Biar aku aja yang beresin ini, sama teman-teman Om. Om istirahat aja dulu" kata Tazu.
"Kayaknya nggak usah, biar nanti Tentemu aja yang beresin sama Hana"
__ADS_1
"Nggak apa-apa Om" kata Ferel membantu Tazu membereskan meja makan.
"Baiklah, kalau kalian maksa. Om kekamar Fanya dulu ya! Dari tadi, Om perhatiin Tante kalian masih di sana setelah makan" kata Papa Hana langsung pergi ke kamar yang serba warna pink.
"Gimana keadaan Fanya sekarang?" tanya Papa Hana kepada istrinya. Saat sampai di kamar.
"Sudah baikan, kamu tenang aja. Putri kita yang satu ini, selalu aja mengalami ini setiap liburan ke sini"
"Iya Mama, Papa juga ingin Fanya kembali lagi ke rumah ini. Tapi, Fanya cuma kembalinya saat liburan aja."
"Ya, Pa. Mama masih ingat namanya sangat cantik sekali benar-benar anak kembar waktu itu" kata Mama Hana dengan mata berkaca - kaca.
"Iya keluarga Kisetsu namanya, Kisetsu Haruka. Benar indah namanya"
"Gimana dengan Hana? Apa dia udah kembali, Pa?" tanya istrinya lagi.
"Beri dia waktu, Ma"
"Ya udah, ayo kita kembali ke kamar kita" kata cowok itu langsung menarik tangan istrinya. Sementara itu cewek itu menurut saja dengan ajakan suaminya.
*****
Jam 12 malam, Hana masuk ke dalam kamarnya. Di sana, dia melihat Fanya sudah beristirahat dengan nyamannya. Dia langsung saja beranjak ke tempat tidurnya, lalu berbaring di samping Fanya serta memeluk saudaranya. Kemudian Dia menutup matanya.
Sementara itu di ruangan lain, tepatnya di kamar cowok. Mereka berdua masih belum bisa berbaikan. Masih ada api amarah antara mereka berdua. Sehingga membuat Tazu kerepotan untuk memisahkan teman - temannya yang bertengkar.
"Kalian berdua, bisa nggak tidur! Ini udah malam tahu!" seru Tazu mulai kesal.
"Tapi, dia dulu yang mulai Tazu. Gua mah ingin tidur" kata Alan membela diri. Seketika bantal pun mendarat di wajahnya.
"Kan lu yang membuat masalah ini" kata Ferel tidak terima atas tuduhan Alan. Sementara itu, Alan sudah bersiap - siap untuk melemparkan bantal ke arah Ferel. Tapi, dicegah oleh Tazu.
"Kalian bisa nggak! Nggak kayak anak kecil gini! Emang nggak malu dengan umur?" kata Tazu mengambil bantal itu dan meletakkannya di atas kepalanya.
"Cieee..., udah baikan nih. Terserah kalian mau berantem atau nggak. Yang jelas jangan ganggu Pangeran Hana ini untuk tidur" kata Tazu menyelimuti tubuhnya dari kaki hingga ke wajah.
"Apaan sih? Siapa juga yang mau baikan dengan dia" kata Ferel ikut - ikutan memejamkan matanya.
"Siapa juga yang mau baikan sama lu. Lagian, lu itu geer banget sih. Fanya itu nggak akan pernah berikan hatinya untuk seorang cowok yang kayak lu" kata Alan menghadap ke arah yang berlawanan dengan Ferel lalu memejamkan matanya.
Tak lama kemudian, tidak ada lagi suara Ferel yang terdengar untuk menimpali kata-kata Alan yang barusan. Tazu menyingkirkan selimut dari wajahnya dan melihat kedua temannya yang sudah tidur lelap.
"Udah tidur ya. Kenapa nggak dari tadi sih" gumam Tazu lalu berbaring kembali di tengah kedua cowok itu serta memejamkan matanya.
*****
Keesokan harinya, tepat di waktu subuh semua orang menunaikan shalat di rumah tersebut, kecuali Tazu dan Fanya. Tazu yang seorang Non Muslim sedangkan Fanya menunaikan shalatnya di dalam kamar. Sementara yang lainnya shalat berjamaah di sebuah kamar kosong yang ada di rumah tersebut. Ruangan itu memang sengaja dikosongkan dan tidak diisi apa-apa kecuali sejadah serta berapa buah Al - qur'an dan beberapa perangkat shalat, yaitu sarung dan mukenah.
Tazu pun keluar dari kamarnya. Dia tidak melihat teman-teman sekelasnya di kamar tersebut. Dia pun tidak sengaja melihat ke sebuah ruangan yang sekarang berisi seluruh orang yang ada di rumah itu kecuali dirinya dan Fanya dia pun segera pergi ke kamar Hana untuk melihat keadaan Fanya, teman sekelasnya.
Di sana Fanya juga melakukan apa yang dilakukan oleh Hana, Om, dan Tante serta teman-temannya.
Tak lama kemudian, Fanya pun selesai melakukan yang menurutnya seperti ritual itu.
"Tazu, ada apa?" panggil Fanya sesaat setelah menyelesaikan shalatnya.
"Nggak ada apa - apa. Oh iya, gimana keadaanmu?" tanya Tazu lalu duduk di kursi meja belajar Hana lalu menghadap ke arah Fanya.
"Ya, udah baikan. Kalau kamu ingin mencari Hana. Hana sedang shalat sama yang lainnya di ruang sebelah"
"Yang kamu lakukan tadi itu namanya shalat ya?"
__ADS_1
"Iya Tazu. Oh iya, aku belum tahu Agamamu apa?"
"Agamaku Buddha"
"Oh gitu ya, pantasan kamu di sekolah nggak pernah shalat"
"Oh iya, kenapa kamu nggak shalat bareng sama yang lain?"
"Ya aku masih belum bisa bergerak banyak karena kedinginan semalam. Kalau pergi ke ruang sana, itu terlalu jauh.
"Oh ya udah, kamu istirahat aja dulu"
"Iya, makasih untuk yang kemarin ya"
"Iya, itu nggak masalah. Semoga kamu cepat sembuh ya" kata Tazu lalu berlalu keluar dari kamar. Sementara itu Fanya sudah kembali memejamkan matanya.
Tak lama kemudian, dia mendengar suara pintu kamar itu dibuka kembali. Dia pun langsung membuka matanya. Di sana, dia melihat Hana yang sudah berbaring disampingnya.
"Hana tadi Tazu datang ke sini" kata Fanya.
"Dia ngapain ke sini Fanya?"
"Dia cuma menanyakan keadaanku aja. Yang jelas dia nggak bakalan berani godain aku, kecuali aku jadi kamu" kata Fanya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Kamu itu gitu ya, sama saudara sendiri. Kan itu di luar udah ada dua cowok yang suka sama kamu. Kenapa mesti ngambil cowokku sih?" kata Hana menanggapi candaan saudaranya.
"Tenang aja kok, aku itu mana berani ngambil pacar saudara sendiri. Tapi, aku masih menunggunya" kata Fanya dengan wajah yang kembali sendu.
"Jangan ingat lagi, Fanya. Dia itu nggak akan kembali lagi. Dia itu nggak akan pernah kembali lagi."
"Tenang aja, aku akan selalu berusaha melupakannya. Hana, aku udah cukup dengan teman-temanku yang sekarang untuk menghiburku. Walaupun, setiap huruf namanya, sangat sulit untuk dilupakan"
"Ikhlas kan lah dia, Fanya"
"Aku udah ikhlas kok" kata Fanya mencoba tersenyum kepada saudaranya.
"Ikhlas. Tapi, masih mengingat itu sama aja bohong. Oh iya, aku ada CD terbaru loh" kata Hana mengalihkan perhatian saudaranya.
"Apa aja itu Hana?"
"Nih dua sekaligus, yang satu film Boruto Naruto The Movies dan Kimi No Nawa"
"Aku mau nonton Boruto Naruto The Movie saja dulu"
"Oke" kata Hana sambil memasukkan CD nya ke DVD lalu memutarkan film tersebut.
"Makasih Hana, Hana boleh aku minta tolong sesuatu."
"Boleh, apa yang nggak buat saudaraku."
"Tolong bilang pada siapapun, aku nggak mau diganggu terutama kedua cowok yang lagi berantem itu, terkhususnya lagi buat Ferel."
"Baiklah, akan kukatakan pada mereka, Hana kemudian bangkit dari tempat tidurnya."
"Makasih Hana."
"Ya, lagian itu semuanya gara-gara aku juga, kalau kamu nggak biarin aku bersama dengan Tazu dan kamu menjauhi dua cowok itu dari keberadaan kami berdua dan jika aku nggak maksa kamu buat bicara sama Ferel, ini semua nggak akan terjadi.
"Kamu nggak usah merasa bersalah gitu dong, ini semua udah terjadi nggak perlu disesali."
"Ya udah aku beritahu mereka dulu ya, supaya nggak ada yang masuk ke kamar ini, terutama kedua cowok itu." Fanya pun hanya menjawab dengan anggukan, lalu matanya tertuju ke TV sedangkan Hana keluar dari kamarnya.
__ADS_1
*****