
"Fanya, kamu ini ingin manas-manasin kami, ya?!" ucap Alan tidak terima, kalau cewek yang dia suka memuji-muji cowok lain.
"Eh iya, kalau nggak salah. Sikap lu Alan, udah hampir sama dengan Ferel, beberapa hari ini?"
"Masa sih?"
"Iya, lu bahkan dulu nggak pernah manggil aku kamu sekarang udah main aku kamu"
"Oh itu kan lebih sopan kata-katanya dan lebih halus dari kata gua lu" kata Alan membela dirinya.
"Jangan pernah cewek merubah diri lu, jadilah diri lu sendiri. Jangan pedulikan orang lain. Cewek yang baik itu adalah cewek yang mau menerima lu apa adanya, bukan ada apanya" kata Fanya sok bijak.
"Iya gua akui. Rasanya gua udah berubah jauh dari sebelumnya." Alan membenarkan kata - kata Fanya.
"Yang jelas sekarang, lupakanlah yang sudah terjadi. Kembalilah jadi diri lu. Dan untuk lu Ferel, gua berterima kasih banget sama lu. Lu udah mau menemani dan memberi warna pada hidup gua, walaupun dengan tingkah konyol lu itu. Gua juga mau berterima kasih untuk Alan yang udah mau memberikan contekan dan menemani hari gua, walaupun terkadang dengan buku-bukunya" kata Fanya sambil tersenyum kearah kedua cowok itu.
"Lu nggak seperti biasanya, Fanya. Apa ada sesuatu yang terjadi sama lu?" tanya Alan merasa khawatir dengan perubahan sikap Fanya.
"Benar tuh, jarang - jarang kamu mau mengakui keberadaan ku" kata Ferel ikut bingung dengan perubahan Fanya ini.
"Ya, gua ingin kita kembali berteman aja, seperti dulu sama kalian. Tahun baru, kan beberapa hari lagi. Gua ingin kita semua memiliki harapan baru tanpa ada pertengkaran seperti kemarin, karena kalian semua adalah hal yang paling berarti dalam hidup gua. Kita lupakan saja, apa yang telah terjadi beberapa hari ini. Gua nggak ingin pertengkaran kemarin malah menimbulkan permusuhan seperti ini. Gua ingin kita tetap jadi sahabat sampai kapanpun" kata Fanya kemudian tersenyum. "Dan untuk lu Ferel, lebih baik dicintai daripada mencintai, karena kalau mencintai belum tentu orang itu juga mencintai lu. Tapi, jika lu dicintai sudah pasti orang itu mencintai lu. Tinggal lu yang berusaha menerimanya seperti halnya gua, gua selalu berusaha menerima lu. Walau terkadang hati gua menolak. Tapi, ada saatnya nanti, akan ada seseorang yang mau menerima lu dengan membawa kebahagiaan bukan kekecewaan, Ferel" kata Fanya menatap temannya itu.
Fanya kemudian melihat kearah Tazu. "Untukmu Tazu, Hana udah aku anggap saudara aku sendiri. Aku harap kamu jangan pernah melukai perasaan dia. Walaupun sekarang berbeda keyakinan. Tapi, aku harap kalian akan disatukan dalam satu keyakinan nantinya"
"Eh... eh... tunggu, kayaknya aku tahu lagu ini. Kalau nggak salah 1.000 harapan yang kita buat sekarang, kita akan menggantikannya menjadi satu harapan" kata Hana memandang Fanya dengan mata memincing.
"Kok kamu bisa tahu sih? Kukira kamu nggak dengar lagunya"
__ADS_1
"Masa nggak dengar sih, itu lirik lagu Nandemonaiya Ost film Kimi no Nawa. Tunggu - tunggu, kapan kamu nonton film itu? Padahal kan, kemarin kamu cuma menonton film Boruto: Naruto The Movie saja" kata Hana dengan wajah tak percaya karena sebelumnya dia tau kalau saudaranya belum pernah menontonnya.
"Ya sewaktu kamu keluar kamar bersama Alan." Fanya malah tertawa melihat raut wajah Hana yang tiba - tiba berubah.
"Jadi, kemarin itu kamu pura-pura tidur, ya?" tanya Alan.
"Kalau iya, kenapa?"
"Ya nggak apa - apa sih. Jika, kamu bukan temanku udah ku ceburin kamu ke dalam es itu. Aku nggak bisa menang debat dengan kamu, soalnya aku selalu kehabisan kata-kata gara-gara kamu" kata Alan.
"Aku penasaran film ini seperti apa sih? Kok bisa Fanya jadi berubah drastis gini sampai nasehatin orang panjang lebar? Aku mau nonton filmnya deh!" seru Ferel.
"Jangan" kata Fanya dan Hana serempak.
"Kok jangan? Aku juga penasaran dengan filmnya" kata Alan.
"Kok dosa? Aku juga ingin nonton filmnya, udah lama juga aku nggak nonton film anime Jepang" kata Tazu ikut penasaran.
"Kemarin kan kamu nonton film Boruto, masa iya udah lama nggak nonton sih?" tanya Hana.
"Eh iya - iya, aku lupa. Tapi, aku penasaran"
"Dasar kalian laki - laki mesum" kata Hana.
"Ya udah deh, kalau kalian maksa mau nonton. Silakan aja, nih kasetnya. Tapi, kita putarinnya di kamar Hana aja. Awas kalau kalian teriak nggak jelas. Gua usir kalian dari rumah ini" ancam Fanya kepada teman - temannya.
"Kamu bawa kaset ku keluar?" tanya Hana.
__ADS_1
"Nggak, tadi aku beli untuk dibawa ke Indonesia"
"Oh"
Mereka semua pergi ke kamar Hana untuk menonton kaset tersebut. Fanya pun, memutar lagu terakhir dari film itu, sehingga membuat para cowok itu protes.
"Kok lagunya aja, Fanya?" tanya Ferel.
"Kan tadi Hana cuma membahas lagunya aja. Jadi, lagunya aja yang diputarin" kata Fanya tersenyum jahil, yang juga diikuti oleh Hana.
"Iya, bener juga tuh, Fanya. Tadi, kita kan ceritanya cuma lagunya. Jadi lagunya aja yang kamu tayangin. Fanya, kamu itu pintar sekali" kata Hana yang malah tertawa cekikikan.
"Udah ah, nggak lucu tahu" kata Ferel yang di angguki oleh yang lainnya. Para cowok itu pura - pura ngambek. Di saat Fanya terlengah Ferel pun mengambil remote DVD dari tangan Fanya, lalu Ferel kemudian memutar kembali film itu dari awal.
"Ferel, berikan ke aku remoteny!" seru Fanya sambil menjangkau remote itu. Tapi, Ferel langsung memberikannya kembali ke Tazu. Sedangkan Tazu memberikannya kembali sama Alan. Alan memberikannya kembali kepada Ferel. Sehingga begitulah seterusnya, hingga Hana dan Fanya pun tidak bisa mengambil remotenya.
"Dasar cowok mesum!" ucap Fanya dan Hana berbarengan. Saat adegan pertama, Alan dan Ferel sudah tutup mata melihatnya."
"Sudah, biasa aja kali!" seru Tazu biasa saja, karena dia sudah sering menonton film anime yang begitu.
*****
Terima kasih telah membaca karya saya. Semoga ceritanya pada menghibur. Jangan lupa ktitik dan saran supaya kedepannya saya bisa berkarya lebih baik lagi.
Jangan lupa juga baca novel Cinta dan Benci
(Maafin author ya, jika waktu disini tidak sesuai dengan sekarang. Karena cerita ini dibuat pada tahun 2015. Dulu aku nggak pede untuk publikasikannya. Tapi tenang aja, ceritanya akan bersambung hingga tahun ini)
__ADS_1