Menggapaimu Kimi Ni Todoke

Menggapaimu Kimi Ni Todoke
bab 3


__ADS_3

Obrolan mereka terhenti saat sampai di kelas, banyak siswa yang melihat aneh ke arah mereka karena setiap mereka bertemu mereka berdua selalu berantem, apa lagi Fanya selalu menjaga jarak dengan Ferel, bahkan bisa dibilang sudah menjauhi Ferel bagaikan seperti wabah penyakit menular yang patut dijauhi. Tapi semua anak yang berada di kelas XI IPA 1 itu sangat bersyukur kalau mereka berdua akrab, sehingga anak-anak yang lain tidak menghiraukan mereka berdua, kecuali dengan sahabat dekat mereka Alan  dan Egi, keduanya langsung menghampiri Fanya dan Ferel, yang udah duduk di bangku masing-masing.


"Fanya apa lu udah jadian sama Ferel?," tanya Alan yang sudah duduk di bangku sampingnya.


"Siapa yang bilang?," tanya Fanya.


"Tuh kenapa lu bisa akur sama dia, biasanya lu musuhan melulu dengan dia?," tanya Egi duduk di bangku depan Fanya, yang juga kelihatan bingung.


"Kalian itu maunya apa sih kalau kami bertengkar salah, kalau kami akur juga salah, emang apa mau kalian sih?," tanya Fanya agak emosian.


"Nggak mau apa-apa sih, kami cuma kaget aja."


"Yaudah deh biar supaya jelas, gua ceritain deh, gua tadi makan di kantin sendiri, eh tiba-tiba dia muncul dan ikutan makan. Dia tuh nanya apakah dia boleh duduk di kursi kantin,  makanya gua bilang boleh, nggak bayar kok, itu makanya gue bisa makan bareng dan masuk kelas bareng sama dia."


"Lu bener-bener Ferel, luar biasa. Lu terus saja ngejar-ngejar Fanya, padahal udah ditolak berkali-kali sama dia,"kata Egi kagum dengan keberanian Ferel.


"Pengumuman," kata Adana, Ketua Kelas XI IPA 1 untuk mengambil perhatian teman-temannya. "Pak Revan, Guru Matematika kita hari ini nggak datang, kita sekarang disuruh ngerjain tugas halaman 25 sampai halaman 30 di buku latihan. Nanti latihannya dikumpulkan," lanjut Adana.


"Hore...!!," seru sebagian anak-anak di kelas itu.


"Hah... !!," seru yang lainnya.

__ADS_1


"A... Apa??, soalnya ada 40!!, gimana bisa mengerjakan dalam waktu singkat?, apalagi jalannya panjang-panjang, padahal jam pelajaran Bapak itu cuma 2 jam," kata salah satu dari anak kelas tersebut.


"Yang benar, apa soalnya 40,"kata siswa yang lainnya tidak percaya.


"Ya kalau nggak percaya lihat aja soalnya sendiri," kata Adana.


"Yaudah gua sebagai Sekretaris Kelas, mengumumkan kita akan mengadakan rapat tentang masalah ini. Sekarang juga, gua harap Ketua Kelas mempunyai ide yang cemerlang," kata Fanya kepada teman-temannya.


"Terimakasih Fanya, baiklah gua akan memulai strateginya, walaupun gua nggak sepintar Alan, gua ingin memberi usul,  kita satu kelas berjumlah 16 orang termasuk anak baru itu, gimana kalau kita bikin kelompok menjadi empat kelompok, masing-masing kelompok menjawab 10 soal, dan masing-masing kelompok terdiri dari 4 orang,  setiap orang di kelompok tersebut wajib mencari isi dari 2 soal. Bagi kalian yang sudah siap boleh menuliskan jawabannya di depan. Apa kalian mengerti?."


"Mengerti," kata siswa yang ada di kelas tersebut.


"Apa kamu mengerti yang aku ucapkan Tazu?." tanya Adana.


"Yang mana?."


"S... Semuanya," kata Tazu masih kagok dengan Bahasa barunya.


"Ya udah kamu bisa minta penjelasan nanti ke teman sekelompokmu."


"Baiklah."

__ADS_1


"Pembagian kelompok yaitu ditetapkan melalui nomor urut absen saja, kalian bisa duduk di kelompok masing-masing sekarang." Tak lama setelah Adana mengatakan itu semua, siswa di kelas itu menyusun meja berbentuk segi empat untuk memudahkan kerja kelompok mereka.


Tak terasa 2 jam berlalu dengan singkat, sekarang mereka semua sudah hampir menyelesaikan tugas yang diberikan Pak Revan. Tazu merasa suasana di sekolahnya ini sangat berbeda jauh dengan yang dahulu. Disini semua siswa bekerja sama, baik yang pintar maupun yang bodoh. Sebenarnya soal yang dikasih Pak Guru itu sangatlah mudah, sebenarnya dia juga sudah mempelajarinya di sekolah yang lama. Kalaupun membuatnya sendiri- sendiri dia bisa menyelesaikan dalam waktu singkat. Tapi karena dia belum lancar berbahasa Indonesia dan masih banyak kata-kata sulit yang belum dia mengerti, makanya dia setuju saja dengan usul siswa sekelasnya.


Tak lama setelah itu bel pulang pun berbunyi. Sebelum pulang Ketua Kelas menyuruh teman-teman untuk mengumpulkan tugas yang disuruh Pak Revan kepadanya. Semua teman-temannya menuruti perintahnya, saat Tazu mengumpulkan buku tugasnya, Adana mengerutkan kening saat melihat nama yang ada di sampul buku Tazu.


"Tazu!," panggil Adana.


"A... Apa?," tanya Tazu.


"Kamu bisa nggak menuliskan namamu dengan menggunakan tulisan latin, nanti Pak Revan nggak bisa membaca tulisan ini," kata Adana dalam Bahasa Inggris sambil menunjuk ke arah buku Tazu.


"I... Iya bisa," kata Tazu dalam Bahasa Inggris sambil mengambil kembali bukunya dan mengubah namanya yang menggunakan tulisan kanji menjadi tulisan latin. Serta menyerahkan kembali bukunya kepada Adana.


"Kaminari Tazuneru," kata Adana  membaca tulisan Tazu. "Oh iya, apa kamu tadi mencatat yang ada di papan tulis menggunakan tulisan kanji juga?," tanya Adana menggunakan Bahasa Inggris lagi.


"Tidak," kata Tazu sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya udah sekarang kamu boleh pulang," kata Adana lagi.


"Bye." Setelah kata terakhir yang diucapkan Tazu, dia pun langsung menyandang tasnya dan pergi dari kelas itu.

__ADS_1


***


__ADS_2