Menggapaimu Kimi Ni Todoke

Menggapaimu Kimi Ni Todoke
Bab 31 Kesalahpahaman


__ADS_3

"Ferel, ma... maaf, soal yang di sekolah tadi" kata Hana saat setelah diantar ke hotel lagi oleh Ferel.


"Santai aja kali, kayaknya kamu lagi banyak masalah ya?" tanya Ferel.


Hana hanya menggelengkan kepalanya.


"Jika kamu mau cerita, cerita aja sama aku. Aku bisa jaga rahasia. Apa kamu sekarang ingin ketemu dengan Tazu dulu?"


"Kayaknya nggak usah"


"Jika kamu butuh teman untuk ngomong, temui aja aku. Aku ada di bawah" kata Ferel lalu berlalu menjauh dari sana.


Sementara itu Hana langsung saja masuk ke kamarnya untuk mandi serta memakai baju santai yang lebih feminim dari biasanya.


Setelah itu, dia langsung saja ke bawah untuk makan. Dia lebih suka makan di bawah dibandingkan makan di atas.


"Hana!" panggil Ferel dari sebuah ruangan yang semalam ditunjuk oleh Ferel kepadanya. Hana langsung saja menghampiri Ferel yang ada di sana.


"Apa?" tanyanya yang sudah ada di depan pintu ruangan itu.


"Masuk aja lah dan duduk. Mau makan, nggak?" tanya Ferel yang lagi makan.


"Kayaknya, aku makan di luar aja deh. Aku nggak enak jika terus mengandalkanmu"


"Tenang aja, aku kan yang ditugasi Fanya untuk jaga kamu selama di Indonesia. Lagian kita itu temenan. Kalau kamu takut, di sini ada CCTV. Itu nggak akan pernah mati walaupun sekejap mata" kata Ferel yang masih melanjutkan makannya.


"Kayaknya, aku merepotkan kamu jadinya. Maaf ya, karena aku, kamu jadi repot. Besok aku akan balik ke Jepang lagi" kata Hana sambil masuk ke dalam ruangan itu.


"Nggak repot kok. Lagian waktu di Jepang, aku juga merepotkanmu. Kenapa buru-buru pulangnya? Nggak suka ya di sini? Apa yang ingin kamu makan?" tanya Ferel.


"Bukannya nggak suka. Aku suka sih di sini, tapi kan tujuan awal ku untuk menemui Mama dan Papa. Tapi semalam udah ketemu gitu. Jadi sebaiknya, aku langsung pulang aja. Nggak baik juga lama-lama repotin kamu dan yang lainnya. Aku mau makan makanan yang pagi tadi aja, apakah makanannya ada disini?" tanya Hana.


"Oh tunggu bentar ya" kata Ferel lalu menelpon seseorang. Tak lama kemudian Ferel mengakhiri panggilannya.


"Makasih ya. Kamu baik banget sama aku" kata Hana sambil tersenyum.


"Tenang aja, namanya juga teman. Harus saling tolong-menolong, gitu"


"Aku yang jadi nggak enak sama kamu. Kayaknya kamu ada di sini melulu. Emang kamu nggak pulang ke rumah ya?" tanya Hana.


"Hotel adalah rumah kedua bagiku. Jadi, jarang pulang ke rumah"


"Pasti gara-gara aku ya" kata Hana dengan perasaan bersalah.


"Nggak, aku emang sering ke sini" kata Ferel sambil menyunggingkan senyumannya kearah Hana.


"Kok bisa? Emang nggak habis uangnya ya?" ucap Hana dengan wajah bingung.


"Masa bayar, kan punya sendiri"


"Maksudnya?" tanya Hana tambah bingung dengan ucapan Ferel.


"Iya, hotel ini adalah milik Papaku. Aku disuruh untuk kerja sebagai staff utama di sini. Walaupun cuma paruh waktu. Jarang pulang jadinya"


"Oh gitu ya"


"Kalau boleh tahu, kamu kok ingin cepat - cepat pulang? Bukannya, kamu disuruh liburan selama seminggu di sini ya?" tanya Ferel.


Tok..tok...tok

__ADS_1


Terdengar suara ketokan dari arah pintu. Ferel dan Hana melihat kearah sumber suara tanpa di komando.


"Maaf, ganggu Tuan Muda dan Nona, tapi ini pesanan makanannya?" tanya cewek itu sambil menujuk kearah pesanan Hana.


"Masuk" perintah Ferel. Pelayan hotel pun masuk kedalam ruangan itu sambil meletakan pesanan Hana di atas meja mereka.


"Makasih, berapa?" tanya Hana sampai mengambil uangnya.


"Hana, kamu tenang aja, semuanya udah dibayar oleh Fanya" kata Ferel sambil mencegah Hana membayar makanannya.


"Oh begitu ya" kata Hana mengangguk mengerti.


"Tuan Muda dan Nona, apakah masih ada yang diperlukan lagi?"


"Sudah tidak ada, kamu sudah boleh pergi" kata Ferel ramah.


"Makan?" tanya Hana menawarkan Ferel.


"Udah, lanjut aja makannya" kata Ferel yang sudah selesai makan.


"Kamu udah lama ya kenal sama Fanya?" tanya Hana.


"Dari awal masuk sekolah"


"Oh gitu ya, udah lama juga ya. Aku harap kamu atau Alan bisa mengisi hatinya yang terluka dulu"


"Maksudnya?"


"Dia sebenarnya trauma sama namanya cowok"


"Tapi dia berteman dengan cowok semua, nggak ada tuh berteman sama cewek"


"Maksudnya?" tanya Ferel makin tidak mengerti dengan kata - kata Hana.


"Aku nggak tau pasti, tapi cowok itu pergi disaat Fanya benar-benar sangat menyayanginya dan kamu tenang aja, Fanya itu cewek-cewek baik. Kalaupun pacaran nggak pernah ada adegan pegangan tangan atau pelukan sama cowok."


"Tapi kemarin itu gimana? Setauku juga gitu, saat sebelum kejadian kemarin?"


"Mungkin aja waktu udah mngubahnya, tapi setauku dia nggak ada pacaran sama sekali setelah cowok itu dan sampai sekarang dia kayaknya masih belum bisa melupakannya, aku nggak bisa kasih tau banyak soal cowok itu."


"Kenapa?"


"Nggak baik aja ngomonginnya lagi, kamu udah pernah pacaran ya?


"Pacaran ya!? Sebenarnya udah pernah, tapi udah putus saat sekolahnya berbeda gitu."


"Oh gitu ya" kata Hana menganalisis cowok yang ada di depannya. "Oh soal yang tadi itu, aku minta maaf, kayaknya nama kamu udah tercemar cuma gara-gara Alan ngomong sembarangan."


"Iya nggak apa-apa kok, tapi kamu tolong bersihin nama aku ya, teman-teman sekolah jadi pikiran negatif sama aku. Mereka kira aku bawa kamu ke rumahku, apalagi tadi pagi nemenin kamu ke toilet cewek. Mereka pikir aku udah apa-apain kamu."


"Iya tenang aja, besok Alan akan minta maaf sama kamu di depan sekolah. Lagian, aku udah cerita sama Pak Revan tentang aku sering ngelamun gitu bersama Alan tadi di ruang guru. Aku udah minta Pak Revan untuk membantuku menjelaskan semuanya kepada teman-teman besok."


"Maksud kamu, kamu udah bilang nama aslimu sama Pak Revan?"


"Belum sih. Oh iya, dari semalam kamu ingin tahu banget kan, kenapa aku nggak pulang?! Baiklah. Aku akan ceritain, tapi kamu janji jangan ceritain sama Tazu ataupun Fanya ataupun teman-teman yang gak perlu terlibat."


"Emang kamu percaya ceritanya sama aku?"


"Namanya juga teman, pasti saling percaya dong. Kamu itu mirip banget sikapnya sama Mitsuki."

__ADS_1


"Oh gitu ya, aku janji sama kamu. Tapi kalau nggak sengaja gimana? Lagian seharusnya, Fanya harus tahu juga. Dia kan saudara kamu."


"Lain kali aku ya akan cerita sendiri."


"Oh gitu ya, gimana? Emang kenapa kamu ke sini dengan wajah cemberut gitu?"


"Kemarin seharusnya hari yang paling senang mungkin untuk aku, aku bertemu dengan Mama dan Papa. Mereka berdua lagi sibuk, makanya aku putusin untuk ke sini aja"


"Oh gitu ya, kuperhatikan, tiap kali ke sana nggak ada tuh Om sama Tante di rumah, kayaknya mereka selalu sibuk."


"Nggak tau juga sih, aku jarang kesini, bahkan bisa dibilang baru yang pertama kali."


"Oh gitu ya, tapi kok kalian berdua itu harus dipisah, padahal kalian berdua kembar."


"Kalau soal itu aku nggak bisa cerita."


"Oh maaf ya, jika privasi kamu terganggu. Sekarang kamu mau jalan-jalan nggak?! Sekalian beli oleh-oleh untuk orang tuamu di Jepang!" tanya Ferel saat Hana sudah menyelesaikan makannya.


"Kayaknya lain kali aja deh."


"Maksudnya nggak jadi pulang besok ya?" tanya Ferel lagi.


"Tergantung mood. Lagian aku nggak mau juga kecewain Fanya, aku ingin kasih waktu untuk dia ngerasain perhatian dari orang tuanya."


"Maksudnya? Dia tinggal di sini nggak sama ortunya?!"


"Terus?"


"Kami mempunyai dua orang tua. Bolehkah temani aku kerumah orangtua ku?"


"Maksudnya?"


"Bisa antarin aku pulang, aku ingin lihat, apakah Mama dan Papa untukku atau nggak?"


"Kalau nggak gimana?"


"Ya aku akan balik kesini and langsung ngajak Tazu ketemuan gitu" kata Hana bersemangat sambil mengambil sampah bungkusan makanannya. Sementara itu, Ferel hanya diam saja dengan kelakuan Hana. Dia mengikuti Hana dari belakang serta meninggalkan piring kotornya begitu saja di ruangan itu seperti biasanya.


*****


@bersambung


Terimakasih sudah mengikuti novel - novel saya yang karya recehan. Oh iya jangan lupa mampir kekarya saya lainnya.


@Cinta_dan_benci_S2


@Siap_Melayani_Anda_Tuan_Putri


@Kekasihku_Adalah_Buku


@Istriku_Maafkan_Diriku


@Audio_Toxic


Semoga kisah - kisah ini dapat menghibur kita semua.


Salam manis,


Azumi

__ADS_1


__ADS_2