
Keesokan harinya, Fanya menghubungi kedua temannya untuk berkumpul dirumahnya. Ferel dan Alan pun langsung ke rumah Fanya tanpa komentar apa-apa. Mereka tahu kalau Fanya akan membicarakan keberangkatan mereka bertiga ke Jepang. Sekarang mereka bertiga ada di ruang belajar Fanya.
"Alan, apa lu udah pesan tiket pesawat menuju Jepang?" tanya Fanya membuka obrolan mereka.
"Udah sejak seminggu yang lalu" kata Alan.
"Emang jam berapa kita berangkatnya?" tanya Ferel.
"Gua dapat tiket keberangkatannya siang, jadi kita harus sudah ada di Bandara 2 jam sebelum keberangkatan, untuk melakukan check-in sebelum masuk ke pesawat."
"Oh iya apakah kalian udah selesai mengurus Paspornya?" tanya Fanya.
"Kalau gua sih udah ada Paspornya, jadi nggak perlu ngurus lagi, udah gua perbaruin seminggu yang lalu" kata Alan.
"Kalau aku sih udah buat paspor setahun yang lalu waktu pergi ke rumah Om ku, dan kemarin sebelum Alan pesan tiket udah diperbarui" kata Ferel.
"Soal paspor udah beres, Oh iya kalian bawa barang yang diperlukan aja, jangan sampai barang-barang yang tidak diperlukan di bawa juga, nanti akan mendousaimo" kata Fanya memperingatkan.
"Mendousaimo, itu apa?" tanya Ferel dengan wajah polos.
"Merepotkan saja, Ferel, emang lu nggak pernah perhatiin Tazu belajar di sini, seharusnya lu bisa menggunakan bahasa Jepang walaupun sedikit - sedikit" kata Fanya kesal sama Ferel karena tidak memperhatikannya waktu menjelaskan bagaimana cara mengartikan bahasa Jepang atau sebaliknya.
"Ya... Maaf, soalnya aku terlalu fokus nonton film animenya" kata Ferel menyesal.
"Bukankah kalau lu nonton film itu mendengarkan apa yang diucapkannya dan menyamakannya dengan subtitlenya"
"Iya sih, tapi aku nggak ngerti cara mengartikannya"
"Ya udah deh, peringatan yang paling berat untuk lu, jangan bertingkah aneh - aneh di negeri orang, apalagi sampai menghilang begitu juga dengan lu, Alan."
"Baik Fanya" kata kedua cowok itu serentak.
"Oh iya, kalau gitu kalian boleh pulang dulu sekarang, lalu langsung siap-siap kan barang yang perlu dibawa, kalau nanti ada kabar terbaru dari saudara gua, maka gua akan hubungi kalian lagi."
"Oh ya udah, sampai jumpa besok Fanya" kata kedua cowok itu sambil keluar dari ruangan itu yang diikuti oleh Fanya untuk mengantar mereka berdua keluar rumah.
"Iya sampai jumpa besok, oh iya jangan lupa baca buku-buku yang gua kasih tadi, supaya nanti di sana lebih mudah komunikasinya, kalau tidak kalian bisa bahasa Inggris dengan lancar" pesan Fanya.
__ADS_1
"Kami berdua pulang dulu ya, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam" kata Fanya sambil melambaikan tangan ke arah dua cowok yang mulai menjauh dengan kendaraannya masing-masing.
*********
Setelah teman-teman Fanya pulang tadi, kemudian Fanya pun menghubungi saudaranya yang ada di Jepang.
"Hallo Hana, aku kangen banget sama kamu, emang liburan kali ini kamu ke Indo, nggak?" kata Fanya memulai obrolan.
"Hallo Fanya, aku juga kangen sama kamu. Aku juga ingin ke sana tapi salahnya, aku kali ini juga nggak bisa pergi ke sana."
"Hana, kamu jangan sedih ya. Aku punya kabar gembira buat kamu."
"Kabar apa? Soal Tazu ya?"
"Nggak, ini bukan soal Tazu, Hana. Aku akan pergi ke sana besok, aku akan liburan di sana selama dua Minggu penuh" kata Fanya dengan nada suara yang sangat bahagia. "Lagian di otakmu itu apa cuma Tazu aja yang ada?" tanya Fanya kesal dengan saudaranya.
"Yang benar? Serius kamu?" tanya Hana memastikan pendengarannya tidak salah. "He... he... he.., maaf biasanya kamu selalu membahasnya melulu, jadi kukira kali ini kabar tentang dia" lanjut Hana.
"Aku nggak sabar deh" kata Hana juga ikut senang.
"Oh iya, aku punya rencana untuk liburan kali ini"
"A... Aapa rencanamu? Aku harap rencananya nggak konyol kayak kemarin."
"Ya nggak lah, kamu akan tahu sendiri nantinya."
"Oh iya, kamu pergi ke sini dengan siapa?"
"Dengan teman"
"Kenapa nggak sendirian aja seperti biasanya?"
"Emang nggak boleh ya?" Fanya menanya balik.
"Boleh kok, aku merasa senang malah. Cowok apa cewek?"
__ADS_1
"Cowoklah, emang aku pernah berteman sama cewek?"
"Sulit dipercaya. Oh iya, ngomong - ngomong Kaminari-kun, apakah dia masih jadi muridmu?"
"Tuh kan, Tazu lagi, Tazu lagi. Tentu saja Hana, itukan permintaan kamu. Sekarang dia udah nggak dingin lagi, selain itu bahasa Indonya udah lumayan lancar, tinggal beberapa kata - kata sulit aja lagi. Hana, dia itu hebat juga ya, bisa rengking 5" puji Fanya.
"He... he... he, namanya juga cinta. Yang benar? Ku kira dia akan malas belajar mengingat dia selalu juara kelas di sekolahku dan juga murid terbaik di sini, waktu dia meninggalkan sekolah ini, banyak siswa yang sedih."
"Emang ada murid yang kayak gitu?, biasanya jika seseorang terlalu pintar banyak orang yang akan menjauhinya dan bahkan ada juga yang sampai membencinya"
"Iya ada, buktinya aja dia. Dia dari rengking 10 naik menuju 5 itu merupakan sebuah hal fantastis menurut aku. Dari yang tidak mengerti apa-apa bahasa Indonesia sekarang udah hampir lancar, tentu saja sangat mengejutkan, bukan?"
"Iya sih. Oh iya, dia tidak menyadari kalau wajah kamu dan aku itu sama. Menurutmu, apakah kita bisa mengecoh Om dan Tante, nggak?"
"Nggak tau. Fanya, Tazu pasti menyadarinya, mungkin aja dia belum punya cukup bukti untuk mengatakan, kalau kamu itu mirip dengan pacarnya dan tingkah laku kita yang berbeda serta juga bahasa yang berbeda, apalagi tingkah laku kita yang bertentangan. Dia nggak bisa menarik kesimpulan kalau kamu adalah saudara aku atau aku mengikutinya ke sekolahnya di Indonesia dan bersekolah di sekolahan yang sama dengannya, serta memakai karakter yang berbeda, tentu saja itu sangat tidak masuk akal, apalagi jika dia menarik kesimpulan bahwa aku juga mengikutinya ke Indonesia, seharusnya aku tidak bisa langsung berbicara Bahasa Indonesia sedangkan cewek yang ditemukannya di sana sudah lancar Bahasa Indonesia, jadi kesimpulan keduanya nggak bisa diterima tapi sedangkan kalau dia menarik kesimpulan pertama dia pasti akan berpikir ulang" kata Hana mengambil jeda untuk memastikan bahwa dongengnya tidak membuat Fanya tertidur.
"Kenapa"
"Jika kesimpulan pertama dia ambil, kenapa kita berdua nggak tinggal di Jepang saja atau di Indonesia saja, kenapa kita harus dipisahkan, pasti dia akan berpikir begitukan?, apalagi dengan nama kita yang berbeda jauh, aku kan menggunakan nama keluarga Otosan sedangkan kamu menggunakan nama modern, jadi itu akan tambah membingungkannya, jadi makanya dia cuma menjalani aja dulu perannya hingga takdir berpihak kepadanya, mengungkapkan siapa kita sebenarnya, sekarang aku yakin dia itu masih terombang-ambing diantara kedua kesimpulan yang akan ditariknya, lagian masuk akal kan teori penjelasan aku itu?"
"Iya, ternyata kembaranku itu sekarang memakai otaknya Houtoru kan, dari film Hyouka, aku nggak nyangka teorinya akan sebagus itu dan sepintar itu."
"Hanya kebetulan saja, lagian ditambah lagi penampilan kita yang sangat berbeda, kamu itu ceria, tapi tomboy, sedangkan aku pendiam tapi feminim. Jadi kalau penampilan kita disamain, baru kita akan ketahuan banget mirip, jadi orang nggak ada yang bisa bedain kita."
"Iya benar, ngomong-ngomong di sana sekarang musim salju nggak?"
"Ya iyalah, jangan bilang kamu bawa baju musim panas kayak liburan tahun kemarin."
"Eh iya ya, udah dulu ya, aku ingin siap-siap dulu, bye bye."
Telepon pun ditutup oleh Fanya setelah mengatakan salam perpisahan.
**********************************************
Terimakasih atas teman - teman yang telah membaca cerita ini dan jangan lupa kritik dan saran serta jangan lupa untuk membaca cerita
CINTA DAN BENCI
__ADS_1