
Sepuluh menit kemudian Ferel datang dengan membawa Alan ke kamar yang berwarna pink itu.
"Kalian itu lama sekali" kata Fanya.
"Ya maaf, soalnya tadi Alan mandi dulu"
"Oh gitu, tujuan aku manggil kalian kesini adalah supaya kalian dimasukan kedalam rencana kami yaitu menjaga rahasia identitas kami. Aku ingin kalian bisa membedakan mana Hana dan mana Fanya?, dan rahasiakan kalau kami bertukar penampilan dari Om dan Tante. Supaya rencana kami berdua berjalan dengan mulus, aku mohon kalian jaga rahasia ini.
"Yang jelas kamu itu Fanya, emang rencana apa Fanya?" tanya Alan.
"Salah, saat kami nyamar kalian tetap harus memanggil kami dengan nama sesuai samaran kami, rencananya adalah Hana udah lama nggak ketemu Mama dan Papa. Jadi, semester ini aku ingin membuat Hana pergi ke Indo dengan cara menyamar menjadi aku. Lagian kan, dia juga kangen dengan Tazu. Emang kalian berdua nggak kasihan sama saudaraku ini?"
"Oh gitu ya, gimana cara untuk membedakan kalian?" tanya Ferel.
"Jika feminim, kalian panggil dia Hana. Walaupun nama yang sebenarnya Fanya. Sedangkan, jika tomboy kalian panggil dia Fanya. Walaupun, nama sebenarnya Hana. Apa kalian mengerti?" tanya Fanya.
"Mengerti" kata Alan dan Ferel hampir serempak.
"Emang Hana ada hubungan apa dengan Tazu?" tanya Alan yang tidak tahu menahu.
"Ka...,kami berdua pacaran" kata Hana dengan wajah yang mulai memerah.
"Apa? Kalian berdua pacaran? Kok nggak ada yang beri tahu gua sih?" tanya Alan terkejut dengan apa yang didengarnya.
"Emang lu siapanya Tazu sih? Kok Tazu harus repot-repot memberi tahu lu? Bahwa, dia punya pacar" kata Fanya.
"Dia itu kan temen gua. Masa iya, sesama teman tidak memberitahukan kabar gembira ini sih. Oh iya Fanya, kenapa lu nggak ngajak Tazu juga sih? Pasti dia sangat kangen sama ceweknya In?" kata Alan.
"Bilang aja lu mau minta pj tuh. Gua nggak ngajak Tazu, karena nggak ingin melibatkannya dalam rencana gua ini. Bisa-bisa, kalau dia diajak dan tahu kalau Hana ke Indo. Pastinya, waktunya akan dihabisi berdua aja. Tujuan utama Hana ke Indo untuk bertemu dengan orang tuanya, bukan pacarnya" kata Fanya menegaskan.
"Fanya, pj itu apa ya?" tanya Hana dengan tampang polos.
"PJ itu adalah Pajak Jadian. Jika, di Indo ada salah satu teman yang jadian. Maka, kedua orang itu berhak memberikan pajak, yang semisalnya mentraktir teman- temannya, seperti acara syukuran gitu deh."
"Oh gitu, untung aja aku nggak tinggal di Indonesia, selamat deh uang aku. Oh iya Fanya, kalau nanti Kaminari-kun tiba-tiba datang ke Jepang. Gimana? Apakah kamu udah yakin kalau dia nggak bakalan datang" tanya Hana lagi.
"Kalau dia datang, kita susun kembali rencananya. Tapi, mengingat dia minta ajarin bahasa Indo selama liburan yang aku tolak, kemungkinan kecil dia akan datang."
"Oh gitu ya. Ya udah, sekarang kita latihan dulu deh, kalau nanti Otosan dan Okosan datang, kita udah bisa memerankannya dengan baik, selama dua minggu kedepan. Supaya aku dan Fanya tidak gugup di sekolah masing-masing" kata Hana yang hanya disetujui oleh semua orang yang ada dikamar itu.
*****
Seminggu setelah itu Fanya dikejutkan dengan kedatangan Tazu ke rumah Hana. Dia yang sekarang masih menjadi Hana pun, masih agak canggung dengan perannya. Setelah membukakan pintu untuk Tazu. Fanya pun menyuruh Tazu masuk ke rumah tersebut.
"Kisetsu-chan, apa kabar kamu? Aku kangen banget sama kamu."
__ADS_1
"Aku baik-baik aja, aku juga kangen sama kamu" kata Fanya berusaha tidak terlalu gugup dan canggung dengan perannya.
Tiba-tiba saja Tazu akan memeluknya. Tapi, dihentikan oleh Fanya. Serta Fanya pun menggeser duduknya beberapa sentimeter dari posisi sebelumnya.
"Hana, siapa yang datang?" tanya Hana kepada Fanya sambil keluar bersama Ferel dan Alan.
"Ini Tazu, teman sekelas kalian" kata Fanya dengan posisi membenarkan duduknya. Tazu pun terkejut saat melihat teman-teman sekelasnya serta lebih terkejut lagi. Hana, pacarnya bisa bahasa Indonesia.
Saat tersadar dari terkejutannya. Badannya masih condong ke arah cewek yang ada di depannya, dia pun segera membenari posisi duduknya.
"Kenapa Kisetsu-chan, apa kamu nggak kangen sama aku?" tanya Tazu yang sudah duduk di posisinya. Sementara itu ketiga orang yang baru saja masuk ke ruang tamu pun duduk di kursi ruang tamu.
"Kami nggak ganggu kalian kan?" tanya Ferel dingin.
"Ya tentu saja enggak, kalian gabung aja! Nggak apa-apa kok" kata Tazu.
"Kaminari-kun, Iya. Aku kangen sama kamu. Tapi, aku nggak enak dengan teman-teman kamu" kata Fanya kepada Tazu dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh Ferel dan Alan.
"Oh iya, bagaimana kamu bisa bertemu dengan mereka?" tanya Tazu.
"Seminggu yang lalu, aku ketemu dengan mereka saat aku melihat mereka berada di Mall, mereka orang Indonesia. Makanya, aku menghampiri mereka. Setelah ngobrol - ngobrol dan kenalan. Eh, ternyata mereka tahu dengan kamu. Makanya, aku tawarin mereka untuk menginap di rumahku. Tapi, mereka menolaknya dan setelah aku tawarin lagi berapa hari ini. Akhirnya, kemarin mereka semua ingin menginap di rumahku ini"
"Oh begitu. Kok kamu bisa Bahasa Indonesia?" tanya Tazu.
"Masa kamu nggak tahu sih, Okaasan kan orang Indonesia asli."
"Masa iya, kamu enggak bisa menganalisisnya sih? Biasanya kamu selalu menganalisis keadaan sekitar tentang apa - apa yang terjadi. Bahkan kepada orang yang tidak kamu kenal"
"Oh iya, aku sekarang lagi padat kegiatan. Jadi, aku terlalu lengah dengan keadaan di sekitar"
"Bukan sekarang yang kamu analisis, kamu itu udah lebih ratusan kali ke rumah aku. Kok nggak tahu tentang Okaasan dan Otosan sih?"
"Iya aku minta maaf. Lagian, sekarang aku nggak sejenius dulu"
"Ya udah" kata Fanya lagi.
Mereka berdua bicara dalam menggunakan bahasa yang tidak dimengerti oleh Ferel dan Alan. Tidak untuk Hana yang sekarang berpenampilan seperti Fanya.
"Kalian, kok nggak ngajak aku, kalau kalian liburan ke Tokyo Jepang" kata Tazu kesal. "Terutama kamu, Fanya. Kamu bilang kamu ingin pergi ke rumah Om kamu. Kok malah ada di sini sih?" lanjut Tazu.
"Aku nggak enak bilangnya sama kamu. Lagian, aku selalu memberi alasan itu kalau Papa dan Mama nanya liburan kali ini, mau pergi ke mana. Saat kamu waktu itu nanya, aku nggak punya alasan lain selain itu. Aku minta maaf ya" kata Hana mencari alasan. Karena, dia tidak tahu - menahu, kalau Fanya membuat alasan yang tidak masuk akal untuk Tazu.
"Emang kamu nggak pernah liburan ke luar negeri ya?"
"Bukan nggak pernah. Tapi, nggak dibolehin. Kalau aku bilang 'aku ingin liburan ke luar negeri bersama teman-teman'. Jika, aku ingin pergi, aku selalu bilang 'ke rumah om dan tante' setelah meminta persetujuan dari mereka" kata Hana sudah mulai menguasai alur dramanya.
__ADS_1
"Wajah kamu itu. Kayaknya, mirip dengan Kisetsu-chan. Coba kamu berdiri sini!" seru Tazu.
'A..., Apa? Baru tahu kan, mukaku dari dulu juga mirip' kata Hana dalam hati.
"Ah masa sih? Yang bener aja deh? Aku rasa nggak? Hana-chan, kan selalu pergi salon untuk perawatan kulit. Kalau aku mah, males benget sama dengan yang begituan. Buang-buang waktu dan buang - buang uang. Lagian, mungkin juga sih mirip. Tapi, aku enggak merasa mirip kok. Kamu yang salah lihat kali."
"Ah, iya juga ya. Aku mungkin yang terlalu kelelahan dengan banyaknya les privat sekarang dan juga perjalanan jauh. Kali ya"
"Fanya ke dalam dulu dong" kata Fanya kepada Hana. "Oh iya, kalian bertiga ngobrol-ngobrol dulu aja ya. Aku sama Fanya ada urusan sebentar" kata Fanya menarik saudaranya.
10 menit kemudian, keduanya kembali ke ruang tamu.
"Nggak baik loh, kita mengganggu orang yang lagi pacaran. Sebaiknya, kalian berdua ikut dengan gua aja" kata Fanya sambil menggandeng kedua tangan cowok itu. Lalu dia ngajak mereka untuk pergi meninggalkan Hana dan Tazu di ruang tamu.
"Eh, kalau nanti mereka berdua pelukan, apalagi cium gimana?" tanya Ferel dengan nada cemas.
"Tuh, apa masalah buat lu?" Fanya balik nanya.
"Ya tentu saja masalah, Emang kamu nggak cemburu kalau saudaramu ciuman dengan cowokmu sendiri?"
"Nggak, biarin aja" Fanya menjawab dengan singkat. "Emang apa masalah lu?"
"Ya masalahnya, Fanya yang ada di sana kan?" tanya Ferel ragu - ragu.
"Enak aja, gua ada di sini tahu"
"Oh ya. Gimana kalau lebih enaknya kita ngobrolnya diruang belajar aja, biar nggak mengganggu mereka berdua"
"Oh gitu ya. Jadi, kamu tadi itu, ngebawa Hana ke kamar untuk ganti baju, supaya mereka berduaan ya?"
"Tuh lu tahu" kata Fanya yang masih mengandeng mereka berdua menuju kamar yang biasanya ditempati Fanya selama liburan di Jepang. "Oh iya Alan, kenapa lu diam aja?" lanjut Fanya.
"Ya nggak apa-apa. Oh iya, gua mau ngomong sama lu berdua aja. Bisa nggak?"
"Kenapa nggak ngajak Ferel juga?"
"Gua mau ngomongnya, cuma berdua aja sama lu. Bisa nggak Fanya?" tanya Alan lagi yang sudah berhenti di depan pintu ruang belajar.
"Iya bisa. Oh iya Farel, lu tunggu di luar aja ya. Nanti kalau Alan udah selesai ngobrolnya, baru lu boleh masuk ke ruang belajar" kata Fanya sambil menutup pintu ruang belajarnya yang membuat Ferel terkejut tiada berkutip.
Tak lama setelah itu, berbagai pikiran kotor pun datang di benaknya. Tapi, Ferel segera menepisnya, dia mencoba berfikir positif. 'Alan palingan cuma curhat sama Fanya. Jadi, dia tidak boleh ikut ke dalam' kata Ferel dalam hati menyakinkan dirinya.
*****
Terimakasih atas teman - teman yang telah membaca cerita ini dan jangan lupa kritik dan saran serta jangan lupa untuk membaca cerita
__ADS_1
Cinta dan Benci