
"Fanya" kata Alan kepada Fanya.
"Apa??" tanya Fanya yang sudah duduk di kursi yang mengarah ke meja belajar sambil memegang majalah kesukaannya.
"Sebenarnya..." kata Alan ragu-ragu.
"Sebenarnya apa?" tanya Fanya penasaran. Dia sudah menghadap ke arah Alan.
"Sebenarnya itu..."
"Ngomong aja, nggak usah takut. Ferel nggak bisa dengar. Kalau lu mau curhat."
"Sebenarnya, aku udah lama suka sama kamu. Tapi, aku nggak berani untuk mengungkapkannya ke kamu. Mau nggak, kamu jadi pacarku"
Tiba-tiba saja jantung Fanya berhenti berdetak, sehingga membuatnya terdiam. Setelah beberapa saat kemudian, ia pun bersikap seperti biasanya.
"Oh ini ya, yang mau lu omongin. Itu makanya, Ferel nggak boleh ikut ke dalam. Supaya nggak menyakitin perasaannya"
"Eh iya, apa kamu mau jadi pacarku Fanya-chan"
"Maaf, aku nggak bisa. Aku cuma menganggapmu sahabat sama seperti yang lain"
"Oh maaf ya, aku pikir kamu ada perasaan istimewa sama aku."
"Iya. Tapi, rasa itu hanya cuma sekedar sahabat. Sekali lagi maaf ya"
"Nggak apa-apa kok"
"Apa ada yang lain? Yang mau, kamu omongin lagi" kata Fanya tapi Alan malah tidak bersuara lagi. "Kamu nggak usah sedih gitu, aku akan selalu jadi sahabatmu" kata Fanya sambil memeluk Alan, yang lagi kecewa dengan wajah sedih.
Disaat yang bersamaan pintu pun dibuka dari luar oleh Ferel yang ingin mengetahui apa yang telah terjadi di dalam ruangan itu. Mengingat Fanya tidak membuka pintu itu sudah lebih 30 menit. Saat melihat itu, Ferel menutup matanya sambil berkata. "Maaf, aku telah mengganggu kalian" kata Ferel sambil berlalu dari kamar itu menuju ke pintu luar.
Saat melalui ruang tamu, Ferel juga melihat Hana lagi berpelukan sama Tazu yang membuatnya teringat apa yang terjadi di ruang belajar tadi. "Maaf, aku telah mengganggu kalian" kata Ferel sambil berlalu keluar rumah menuju tempat yang tidak dia ketahui. Sehingga membuat Tazu terkejut dengan kedatangan Ferel yang tiba-tiba, serta melepaskan pelukan mereka berdua.
*****
"Hana, Tazu. Apa kalian berdua ada yang melihat Ferel keluar dari rumah" tanya Fanya khawatir bersama Alan.
"Ada. Emang apa yang terjadi Fanya?" tanya Hana.
"Dia sudah salah paham. Makanya, dia pergi dari sini" kata Fanya cemas dengan keadaan Ferel.
"Salah paham? Salah paham apanya?" tanya Tazu mulai mengerutkan keningnya serta diikuti oleh Hana yang mulai kebingungan dengan apa yang dibicarakan saudaranya.
"Dia nggak sengaja ngelihat aku dan Fanya berpelukan" kata Alan yang semakin lama volume suaranya semakin mengecil.
"Pantasan, saat dia keluar dengan wajah agak murung dan ditambah lagi, saat itu kami sedang berpelukan" kata Tazu mewakili Hana.
"Apa..., kok ini malah jadi runyam begini sih. Tazu, Hana, mau nggak kalian bantu kami untuk mencari Ferel?"
"Emang kamu sudah mencoba menghibunginya?"
"Iya. Tapi tidak diangkat olehnya. Mau nggak?"
"Kenapa musti di cari?" tanya Tazu.
"Karena dia belum tau tempat ini, kalau dia tersesat gimana?"
"Ok. Baiklah. Aku akan bantu kalian" kata Tazu.
"Hana gimana? Mau nggak?" tanya Fanya setelah beberapa menit Hana tidak bersuara.
"Un."
"Yaudah aku dan Hana, akan cari Ferel di bagian sekitar sini, sedangkan Tazu dan Alan cari Ferel di bagian kota, gimana?"
"Ya, aku setuju, ayo cepat cari dia, nanti keburu menjauh dari sini."
"Ya, sampai ketemu lagi" kata Fanya dan Hana keluar dari rumah yang juga diikuti oleh Tazu dan Alan.
*****
Sudah 2 jam Ferel berada di restoran ini, kejadian tadi masih bermain-main di pelupuk matanya. Dia tidak menyangka kalau dia akan melihat adegan yang selama ini dia impikan bersama Fanya. Tapi, Fanya melakukannya bersama cowok lain bukan bersama dirinya. Dia merasa sangat bodoh selama ini karena tidak menyadari Fanya sudah jadian dengan cowok itu. Walaupun, sikap mereka berdua tidak menunjukkan begitu. Tapi, mereka sudah sangat akrab saat pertama kali bertemu. Berbeda jauh dengan dirinya. Saat, bertemu dengan cowok itu Fanya selalu bersikap ramah, berbeda dengan dirinya. Saat bertemu dengannya, Fanya selalu marah tidak jelas. Tapi, beberapa bulan ini Fanya memberikan lampu hijau saat berada di dekatnya. Dia mengira Fanya sudah mulai ada rasa. Tetapi anggapan dia salah, Fanya tidak pernah akan mencintainya.
__ADS_1
Dia selalu menunggu Fanya untuk mengatakan 'ya bahwa aku ingin menjadi pacarmu', bahkan impian terbesarnya Fanya menjadi kekasih hatinya takkan terpisahkan. Tapi, sekarang semua mimpi dan harapannya. Hancur begitu saja tanpa ada yang tersisa. Saat, Fanya berpelukan sama cowok itu.
Dia tahu Fanya adalah cewek tomboy yang tidak mudah disentuh oleh cowok manapun. Tapi, saat melihat adegan tadi. Fanya dengan beraninya memeluk sahabatnya. Dia merasa tidak mengenal Fanya yang itu. Dia merasa cewek yang tadi itu bukanlah Fanya yang dia cintai selama ini. Pikiran Ferel pun terus melayang sebelum pramusaji restoran itu mengacaukan lamunannya.
"What" tanya Ferel sampai terkejut.
"Can you help me?"
"Yeah, a cup of coffee and ramen" kata Ferel sambil menunjuk menu yang tertera di sana.
"Back again, what a cup of coffee and ramen?"
"Yeah"
Kemudian pramusaji itu pergi dari sana untuk membuatkan pesanan Ferel. Di bagian lain Fanya, Alan, Hana serta Tazu sedang mencari Ferel yang dikabarkan sudah menghilang dari rumah Hana selama 2 jam.
"Gimana, apa kalian bertemu dengan Ferel" tanya Fanya dan Hana hampir berbarengan.
"Nggak, gimana dengan kalian" tanya Tazu.
"Nggak, emang kalian udah coba menghubunginya lagi" tanya Alan.
"Belum, yaudah aku coba hubungi dia" kata Fanya sambil mengambil smartphonenya. Setelah beberapa menit kemudian, dia pun menggelengkan kepalanya yang menandakan dia tidak bisa menghubungi Ferel.
"Gimana?"
"Benar-benar mendo saimo, dia tidak mengangkatnya" kata Tazu.
"Biar aku yang coba" kata Alan.
"Nggak usah, kemungkinan dia, masih marah sama kalian berdua" cegah Tazu.
"Biar aku aja" kata Hana.
"Kayaknya nggak usah, kalau dia nggak mau angkat gimana?" tanya Fanya.
"Kita coba aja dulu" kata Hana sambil menghubungi Ferel, panggilan pertama tidak diangkat oleh Ferel. Tapi, panggilan kedua akhirnya diangkat juga olehnya.
"Hallo, ada apa Hana?" tanya cowok yang di seberang telepon.
"Aku ada di restoran. Aku baik-baik aja. Aku belum pergi ke Indo. Makasih ya Hana, kamu udah mau mengkhawatirkan aku. Hana, aku sekarang butuh waktu dulu sebelum bisa menerima kenyataan yang ada."
"Ferel, ini aku Fanya, kamu ada di restoran mana? Oh iya aku minta..." sambungan telepon pun diputus sebelum Fanya menyelesaikan kalimatnya. Hallo! Hallo! Hallo Ferel! Hallo" lanjut Fanya lagi. Kemudian Fanya pun kembali menghubungi Ferel. Tapi, smartphonenya sudah dimatiin, sehingga hanya terdengar suara operator.
"Fanya kenapa? Apa dia matiin? Kan tadi udah aku bilang, biar aku aja yang ngomong. Tapi, kamu nekat juga ingin ngomong sama dia. Kan ini jadinya" kata Hana.
"Iya maaf, kita kan tahu sekarang dia baik-baik aja. Dia ada di restoran dan tidak kembali ke Indo. Itu untuk sekarang udah cukup kan?" tanya Fanya.
"Masih belum, kamu harus menyusul dia kesana dan bicara dengan dia baik-baik serta jelaskanlah kesalahpahaman yang kamu maksud itu" kata Tazu.
"Kok gitu?" tanya Fanya.
"Ya kan ini semua kan gara-gara kalian. Jadi, kalian berdua yang harus menjelaskan. Tapi, untuk sekarang cukup Fanya aja" kata Hana.
"Kok cuma aku aja?"
"Jika Alan juga ikut bisa-bisa dia mengira kamu lagi memperkenalkan siapa cowok yang benar-benar dekat sama kamu. Itu akan tambah membuat masalah. Jika, Alan sendiri yang menjelaskan. Takutnya, mereka berdua jadi berantem disana. Tapi, jika Fanya sendirian, nggak mungkinkan dia akan berantem sama kamu" kata Tazu menjelaskan.
"Tapi, kan aku nggak tahu restorannya?"
"Oh iya restoran yang ada di dekat sini hanya ada satu. Sebaiknya Fanya, kamu yang susulin Ferel sekarang. Nanti dia melakukan hal yang nekat lagi" seru Hana.
"Tapi kan dia marah sama aku, nggak mungkin dia mau bicara sama aku. Lagian, kalau emosi lagi naik banget. Gimana? Nggak mungkin juga aku meredamnya pakai batu es supaya dingin kan?"
"Nggak usah banyak alasan Fanya, yang penting sekarang adalah hanya satu beritahu dia tentang kesalahpahaman itu."
"Iya Fanya kamu coba aja dulu" bela Alan.
"Oke, aku akan kesana sekarang" kata Fanya langsung pergi dari rumah itu menuju restoran yang telah diberitahu Tazu.
Sesampainya di restoran itu, Fanya langsung masuk ke dalamnya sambil mencari sosok cowok yang sudah dikenal selama 2 tahun ini. Saat melihat cowok itu ada di salah satu meja restoran, Fanya pun memberanikan diri untuk menemuinya.
"Hai" sapa Fanya canggung.
__ADS_1
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Ferel dengan nada ketus. Sehingga membuat Fanya terkejut.
"Ma..., mau makan. Bo..., boleh aku duduk di sini nggak? Jika, nggak boleh aku cari tempat duduk yang lain aja" kata Fanya sambil melihat ke sekelilingnya yang ternyata tidak ada tempat duduk yang kosong.
"Hmm" kata Ferel setuju yang membuat Fanya langsung duduk.
"Sumimasen (permisi)." Fanya akhirnya memanggil pramusaji. Karena, dia merasa sangat canggung untuk memulai percakapan dengan Ferel.
"Hai. Gochuumon okimari deshouka? (Ya. Apa pesanan anda?"
"Jya, ebi fry hitotsu kudasai. Nomimono wa ice tea onegaishimasu (Baiklah, saya pesan udang goreng satu porsi. Minumnya Es tea)"
"Hai. kashikomarimashita. Shosho o machi kudasai (Baik, saya mengerti. Mohon menunggu sebentar)
"Hai"
Kemudian Pramusaji itu pergi dari sana untuk membuatkan pesanan Fanya.
"Ferel" panggil Fanya ragu - ragu. Tapi tidak dihiraukan oleh Ferel.
"Ferel, kamu sudah salah paham tadi"
"Salah paham apa? Maksudmu, salah paham kalau kamu udah jadian sama Alan dan selalu menolak aku. Harusnya aku udah tahu dari dulu. Kalau kamu itu, udah jadian sama Alan. Tapi, aku merasa bodoh sekali. Saat aku nggak menyadarinya" kata Ferel mengambil nafas sebentar lalu melanjutkan ucapannya. "Oh iya, aku lupa mengucapkan selamat sama kamu tadi. Sekarang aku ucapin selamat ya. Selamat, untuk udah buat hatiku hancur. Selamat aku udah bersikap bodoh selama ini. Selamat udah mempermainkan perasaan aku" kata Ferel sambil langsung berdiri serta akan pergi dari sana. Tapi ditahan oleh Fanya.
"Lepasin!" kata Ferel lagi. Tapi tidak digubris oleh Fanya.
"Lepasin! Lepasin" kata Ferel agak keras sehingga membuat semua orang yang ada di restoran itu melihat kearah mereka berdua. Walaupun mereka tidak mengerti, apa yang dikatakan oleh mereka berdua.
"Sorry, please calm down a little (Sorry, tolong kalian tenang sedikit)" kata Pramusaji yang mengantarkan pesanan Fanya.
Ferel pun kembali duduk di kursinya untuk meredakan suasana yang ada. Sementara itu, Fanya melepaskan genggaman tangannya.
Setelah itu Pramusaji itu pun pergi dari meja mereka menuju meja yang lainnya.
"Ferel, aku minta maaf atas kejadian tadi. Iya, aku akui Alan memang menembakku di ruang belajar tadi" kata Fanya memulai obrolannya kembali. "Tapi..."
"Tapi kamu terima dia kan" potong Ferel dengan nada dingin.
"Nggak, kamu salah. Aku menolaknya, sama seperti aku menolakmu"
"Terus, kenapa kamu peluk - peluk dia. Kamu pikir aku bodoh apa? Aku nggak akan percaya dengan omongan kosong mu itu" kata Ferel masih dengan nada dinginnya.
"Aku mencoba menenangkan dia saat aku melihat wajahnya yang sedih karena aku tolak tadi"
"Bohong, kamu nggak bisa lagi, mencoba bodohin aku dengan alasan itu"
"Nggak, aku nggak bohong kok. Aku nggak mencoba membodoh - bodohi kamu. Percayalah padaku Ferel."
"Kamu pikir, waktu kamu selalu nolak aku. Kamu pikir, aku nggak sedih apa? Aku sangat sedih. Tapi, kamu nggak pernah menenangkan aku. Apalagi sampai meluk - meluk aku, kayak cowok tadi"
"Sorry." Hanya itu yang keluar dari mulut Fanya.
"Berarti, itu nggak sama kan!" kata Ferel yang masih penuh emosi. Kali ini Fanya memilih diam saja sambil menghabiskan makanan yang ada di mulutnya. Tapi, makanan yang di mulutnya menolak untuk ditelan. Sehingga, diapun menelan makanan itu dengan menggunakan Es teh nya.
Setelah meminum Es teh, Fanya cepat-cepat pergi dari sana. Dia takut sama Ferel emosian yang seperti itu. Dia merasa Ferel yang duduk di hadapannya, bukanlah Ferel yang dia kenal.
Sebelum dia pergi, dia membayar makanannya kekasir dulu. Sedangkan Ferel yang tadi emosian pun terkejut melihat Fanya tiba-tiba pergi. Tapi, dia tidak peduli. Malahan dia merasa bersyukur Fanya lebih cepat pergi dari pada yang diperkirakannya.
Saat tatapannya, tak sengaja melihat ke arah makanan yang dimakan Fanya tadi masih tersisa banyak. Akhirnya, dia menyadari kesalahannya.
🎁🎁🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🎁🎁
Marhaban ya Ramadhan
Berkat dan limpahan rahmat Allah swt, telah tibalah saat untuk kita berpuasa
Mari kita bersihkan hati dengan bermaaf - maafan. Sebelum menyambut bulan suci Ramadhan, author meminta maaf kepada para pembaca. Jika selama ini author berbuat salah salah atau mengecewakan pembaca. Dan terima kasih karena sudah setia membaca cerita author.
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga puasa kita semua lancar dan di terima Allah swt.
Aamiin
"Cerita Fanya dan Ferel baru akan dimulai, para pembaca pastinya tidak sabar kan menantikannya"
__ADS_1
Jangan lupa kritik dan sarannya serta baca juga Novel
Cinta dan Benci