Menggapaimu Kimi Ni Todoke

Menggapaimu Kimi Ni Todoke
Bab 30 Awal Yang Baru Dimulai


__ADS_3

"Hay, Fanya. Gimana kalau kita makan di kantin?" tanya Alan bersikap seperti biasanya, saat melihat Hana datang berduaan dengan Ferel.


"Hai juga, Alan. Maaf ya, tadi sebelum berangkat sekolah Ferel udah ngajak makan gua di luar duluan" kata Hana merasa bersalah.


"Dasar lu bener-bener deh, ngambil kesempatan dalam kesempitan" kata Alan lagi masih tak terima.


"Masih lanjut pertarungan kemarin ya?" tanya Tazu yang baru saja datang sambil menghampiri teman - temannya. Setelah meletakan tasnya di bangkunya.


"Bukan ngambil kesempatan dalam kesempitan. Tapi tadi kan kebetulan Fanya belum makan gitu" kata Ferel membela dirinya.


"Fanya. Ayo ikut aku" kata Tazu menarik tangan Hana. Tapi Hana menepis tangan Tazu.


"Lu apaan sih, gua nggak suka ditarik-tarik gitu" kata Hana.


"Oh, gomen (maaf)" kata Tazu sambil melepaskan tangan Hana. Dia merasa terkejut akan reaksi dari Fanya yang tiba - tiba berubah.


"Ya udah. Emang mau apa?" ucap Hana ketus.


"Nggak biasanya nada bicaramu kayak gitu. Aku cuma ingin nanya sesuatu sama kamu. Kata kamu kemarin, aku masih boleh les privat gitu sama kamu"


"Oh iya, kok gua nggak ingat sama soal yang itu ya? Yaudah. Emang lu mau nanya apa?" ucap Hana mulai melunakan suaranya.


"Nggak jadi ah. Aku nggak mengenal kamu" kata Tazu pergi dari sana.


"Dia kenapa?" tanya Hana kepada Ferel dan Alan.


"Lu nggak pernah bersikap sekasar itu sama Tazu" kata Alan sambil menarik Hana menjauh dari sana yang diikuti oleh Ferel.


"Dan dari seluruh teman-teman, cuma dia yang kamu istimewakan selama ini" kata Ferel menambahkan.


"Jadi, gua salah gitu. Padahal gua udah nurutin kata-katanya" kata Hana lagi.


"Coba tanyakan lagi sama dia, gimana lu bersikap sama Tazu" ucap Alan memberikan saran.


"Oke - oke. Aku akan nanya lagi sama dia. Tapi kalian bisa nunjukin dimana toilet cewek nggak?" tanya Hana dengan wajah memohon.


"Kayaknya gua nggak bisa. Gua harus ngisi perut dulu nih, sebelum jam pelajaran dimulai. Gua pergi dulu ya" kata Alan.


Alan yang baru sadar kalau dia masih menggenggam tangan Hana, sehingga dia langsung melepaskan tangannya dari genggaman tangan Hana.


"Maaf gua harus pergi dulu" kata Alan berlalu dari sana.


Sementara itu, Hana melihat ke arah Ferel dengan wajah memohon.


"Oke - oke. Aku antarin kamu ke toilet" kata Ferel akhirnya pergi dari sana.


"Makasih, Ferel. Kamu baik banget sama aku" kata Hana mengikuti Ferel dari belakang, hingga sampai di lorong toilet cewek.


"Aku cuma bisa nganterin sampai sini aja. Jadi, kamu langsung aja jalan lurus. Pas ada belokan nanti, langsung aja belok di sana terdapat toilet cewek" kata Ferel berhenti.


"Ya, aku mengerti" kata Hana berlalu menuju tempat yang diarahkan Ferel.


Hana pun langsung masuk ke salah satu toilet. Di sana dia langsung saja menelpon Fanya.


"Ohayou, Fanya" kata Hana saat teleponnya diangkat oleh Fanya.

__ADS_1


"Ohayou, Hana. Ada apa?" tanya Fanya dari seberang telepon.


"Bagaimana sikap kamu itu sama Kaminari-kun, Fanya. Dia sekarang marah besar sama aku" kata Hana dengan nada cemasnya.


"Oh itu ya, dia itu kan dulu nggak ngerti dengan panggilan lu -gua gitu. Makanya, aku manggilnya agak halus yaitu aku - kamu. Jangan-jangan kamu pakai kata lu - gua"


"Iya, aku pikir sama gitu" kata Hana dengan nada sendu.


"Maaf ya, aku nggak cerita sama kamu"


"Nggak apa-apa. Oh iya, udah dulu ya, bel masuknya udah bunyi tuh"


"Ya, assalamu'alaikum, Hana" kata Fanya memutuskan sambungan teleponnya.


Sementara itu, Hana menjawab salam Fanya didalam hati saja. Dan Hana pun langsung keluar dari sana. Kembali menuju ke arah Ferel yang masih setia menunggunya.


"Kok lama banget sih?" tanya Ferel dengan muka memerah.


"Ya maaf" kata Hana.


"Ayo kita pergi dari sini" kata Ferel sambil menarik tangan Hana menuju kelas, sebelum tangannya ditarik. Dia sempat melihat gerombolan cewek yang melihat ke arah mereka. Tepatnya ke arah Ferel dengan pandangan jijik.


*****


Di kelas hampir seluruh teman sekelasnya melihat kearah mereka, entah ada apa dia tidak tahu. Tiba-tiba saja seorang cowok menghampirinya.


"Fanya udah akrab aja dengan Ferel ya? Biasanya nggak seakrab ini?" tanya cowok itu sementara itu Hana melihat ke arah Ferel untuk memberikan jawaban.


"Eh jangan ganggu kami dong, saat kami berantem kalian sewot, saat baikan gini kalian menatap aneh, mau kalian itu apaan sih?" tanya Ferel kepada cowok itu.


"Ya jadi oranglah" kata Hana menanggapi dengan simpel. Hana mencoba melepaskan genggaman Ferel hingga akhirnya terlepas, dia langsung aja menuju meja Tazu yang dari tadi dia lihat cowok itu banyak melamun.


"Tazu" panggil Hana.


"Apa?" tanya Tazu dingin.


"Maaf ya soal yang tadi, aku nggak bermaksud gitu, aku lagi banyak masalah setelah hari kemarin, jadi kelepasan emosinya jadinya" kata Hana sambil duduk di kursi depan menghadap Tazu.


"Bilang aja kamu nggak enak sama Hana, Hana bukan tipe cewek yang egois kayak gitu, kalau kamu nggak nyaman bicara sama aku, ya udah jauhin aku dan aku minta maaf jika kamu tersinggung tentang kata-kata aku waktu itu" kata Tazu lagi.


"Tersinggung? Kata-kata apa?" tanya Hana sambil mengerutkan keningnya.


"Ya menyuruh kamu untuk menjauhi Mitsuki" kata Tazu sementara Alan dan Ferel menghampiri mereka.


"Oh. . . oh soal itu ya, aku udah melupakannya kok" kata Hana tergagap tidak siap dengan pernyataan itu.


"Emangnya lu mengenali Mitsuki yang dimaksud?" tanya Alan.


"Ya Mitsuki teman lama aku dulu, orangnya sih nggak terlalu baik, tapi kan sebagai teman yang baik aku saranin Fanya untuk menjauhinya."


"Tapi kata Hana dia baik, orangnya keren kayak penampilannya, serta tutur katanya baik, serta teman Papanya Hana juga" kata Hana tidak terima temannya dijelek-jelekan.


"Fanya kok kamu belain dia segitunya, kita kan nggak tahu orang seperti apa dia. Kamu memujinya seakan-akan udah mengenalnya dengan jauh" kata Ferel yang langsung dicubit oleh Hana serta Hana yang langsung ditatap tajam oleh Ferel. Ferel mengatakan itu semua serasa ada didekat Fanya, tapi dia baru sadar kalau yang ada disampingnya adalah Hana bukanlah Fanya.


"Kalian berdua sewot aja dengan perasaan orang, Alan aja tuh nggak masalah."

__ADS_1


"Apa, kamu beneran menyukainya?" tanya Tazu.


"Emang kenapa, nggak ada salahnya kan?" ucap Hana pergi dari sana menuju kursinya sendiri, sementara itu temen-teman sekelas mereka melihat ke arah mereka.


"Fanya, apa benaran lu menyukai Marzuki, Si Culun dengan kacamata tebal dan kutu buku di kelas sebelah" kata seorang cowok tadi menghampiri Hana dan duduk di kursi depannya.


"Siapa lu, Ingin tahu aja urusan orang" ucap Hana dingin.


"Adana" panggil Ferel.


"Apa?" ucap cowok yang ada di depannya sambil melihat kearah Ferel.


"Emang udah panggil Pak Revan?"


"Fiany yang manggil" jawab Adana.


"Serius Fanya, lu suka si culun itu?!" tanya Adana lagi.


"Siapa bilang dia culun, dia itu keren tahu kulitnya putih, matanya biru, hidungnya mancung, salah satu anak orang terkaya juga"


"Kayaknya cinta itu memang buta ya, cowok yang kayak gitu dipuji berlebihan."


"Siapa bilang gua muji dia berlebihan, Adana. Gua muji sesuai kenyataan, siapa bilang dia pakai kacamata, matanya normal, baik-baik aja" kata Hana.


Sementara itu Ferel, Alan, dan Tazu serta teman sekelas mereka yang mendengar ucapan Hana malah tertawa.


"Apa yang kalian ketawain? Emang ada yang salah ya? Kalian berdua aja, belum pernah bertemu dengannya kan?!" ucap Hana mulai emosi.


"Siapa juga yang nggak kenal dengan cowok culun itu" kata Adana.


"Fanya maaf ya, aku nggak maksud ngetawain cerita kamu kok. Adana, Mitsuki yang dimaksud Fanya itu adalah temanku yang namanya Inazuma Mitsuki, bukan Marzuki di sini."


"Emang aku udah ketinggalan apa sih? Kalian benar-benar buat aku bingung" kata Hana akan pergi dari sana tapi dicegah oleh Adana.


"Apaan sih pegang-pegang?" ucap Hana mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Adana.


"Lu kok jadi aneh begini sih? Emang lupa ya, sama peraturan sekolah, nggak boleh keluar kelas walaupun nggak ada guru?!" kata Adana menjelaskan. Dia baru sadar kalau dia ada di sekolah yang berbeda, biasanya sekolahnya dulu, dia dibolehkan kelayapan kalau tidak ada guru.


Terimakasih sudah mengikuti novel - novel saya yang karya recehan. Oh iya jangan lupa mampir kekarya saya lainnya.


@Cinta_dan_benci_S2


@Siap_Melayani_Anda_Tuan_Putri


@Kekasihku_Adalah_Buku


@Istriku_Maafkan_Diriku


@Audio_Toxic


Semoga kisah - kisah ini dapat menghibur kita semua.


Salam manis,


Azumi

__ADS_1


__ADS_2