
"Sudah, biasa aja kali!" seru Tazu biasa saja, karena dia sudah sering menonton film anime yang begitu.
"Udah deh, malaikat yang ada di sekitar kalian, udah nyatat 1000 dosa untuk saat ini. Mungkin aja, nanti sampai 100.000 dosa dan jika kalian besok pagi end, maka kalian siap - siap aja masuk api neraka. Dan mata kalian di colok sama besi panas oleh malaikat" kata Fanya menakuti para cowok. "Alan, gua nggak nyangka kalau lu juga kayak gini, gua kira lu alim. Eh, ternyata sama saja dengan Ferel dan Tazu" lanjut Fanya.
"Iya juga ya, sebaiknya kita matiin aja filmnya. Nanti perkataan Fanya jadi kenyataan, gimana?" ucap Alan sambil membuang mukanya ke arah lain.
"Betul juga tuh, Tazu udah kasih aja remotenya sama Fanya atau lu matiin Filmnya. Nanti kita masuk neraka tau" kata Ferel membenarkan.
"Udah ah, ini kan cuma gambar doang kok" kata Tazu tak peduli.
"Tazu!" seru Hana mulai marah. "Kamu benar - benar deh ngajak cowok - cowok ini berbuat dosa." Kemudian Hana menurunkan nada bicaranya. Dia tidak ingin cepat tua gara - gara kelakuan cowok itu."Sebenarnya sih, jika di percepat filmnya nggak semuanya yang kotor kok" kata Hana akhirnya mengalah sambil menghembuskan nafas berat.
"Yaudah kita percepat aja deh" kata Ferel sambil merebut remote dari Tazu. Film pun di percepat beberapa menit oleh Ferel. Mereka bertiga pun nonton bersama.
Sedangkan, para cewek bercerita tentang cowok ganteng yang ditemukan Fanya sore itu, yang membuat cowok yang tadinya menonton film, langsung teralihkan dengan cerita Fanya.
"Fanya, gimana sih, kamu bisa bertemu dengan Inazuma-kun?" tanya Hana penasaran.
"Ya, tadi akunya makan di sebuah restoran. Eh, tiba-tiba ada cowok yang menghampiriku dengan menggunakan bahasa Jepang yang sangat fasih. Kemudian dia langsung duduk di bangku depanku. Dia langsung memanggilku dengan Kisetsu-chan. Padahal kan, wajah kita beda jauh kan?" ucap Fanya memulai ceritanya sambil berdrama.
"Iya lumayan beda jauh" kata Alan ikut - ikutan nimbrung.
"Tapi, kenapa orang-orang salah mengenalin aku? Waktu pertama datang pun, Ferel memanggil Hana dengan sebutan Fanya. Kalian ingat nggak Hana, Ferel?" ucap Fanya sambil melihat kearah Ferel dan Hana secara bergantian.
"Oh masa sih, aku nggak ingat tuh" kata Ferel menyembunyikan kebenaran dari Tazu. Dia tidak ingin kena marah sama Tazu.
"Masa nggak ingat sih? Yang waktu di kamar tuh. Saat kamu nembak Hana itu" kata Fanya sambil tersenyum jahil.
"Apa? Ferel, kamu nembak Hana-chan"
"Iya waktu itu" kata Hana singkat menimpali.
"Ferel, kamu benar-benar deh. Cewek aku mau kamu ambil juga. Emang kamu nggak cukup hanya dengan Fanya" ucap Tazu dengan tersulut emosi.
" Eh... eh, sabar dulu dong, Tazu. Aku waktu itu juga nggak sengaja, aku kira dia itu Fanya" kata Ferel menatap raut wajah Tazu yang marah yang seakan - akan mau membunuhnya. "Fanya, kan kamu udah janji, kalau kamu nggak bakalan ngomong itu sama Tazu" kata Ferel menatap Fanya dengan tajam. Dia merasa sangat kesal dengan Fanya yang tidak memenuhi janjinya.
"Oh ya, kalau yang dulu gimana? Gua kan udah bilang sama lu, jangan bilang sama siapapun soal gua yang menyukai film anime Jepang?! Berarti sekarang kita impas dong" kata Fanya masih mengingat kesalahan Ferel di masa lalu.
"Eh, bukannya kalian itu sedang nonton ya, kok malah ikut-ikutan nimbrung sih" kata Hana teringat sesuatu.
"Udah ah Tazu, sebaiknya kamu maafin aja Ferel. Lagian waktu itu rencananya dia mau nembak aku, eh kiranya Hana. Lagian yang di panggilnya waktu itu, aku bukan Hana. Selain itu, dia melihat Hana dari belakang. Kamu kan tau, tubuh kami itu sama besar. Jadi, wajar aja. Jika, dia salah mengenali kami" ucap Fanya membela Ferel.
"Benar tuh, Fanya. Aku setuju denganmu. Selain itu Ferel nggak salah kok. Lagian aku udah maafin Ferel juga kok. Jadi, semuanya udah beres" kata Hana sambil mengangguk - anggukan kepalanya.
"Oh iya, Hana. Ayo kita pergi dari sini. Nanti yang lain ikut - ikutan nimbrung lagi. Padahal kan tadinya, mereka mau nonton. Kayaknya, disini kita ganggu mereka nonton aja" kata Fanya sambil menarik tangan Hana untuk mengajaknya keluar.
"Iya juga, aku juga sebal sekarang dengan Tazu." Hana kemudian bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan para cowok menuju ruang tamu bersama Fanya.
"Oh iya, kenapa kamu nggak jadi nginep di Villa?" tanya Hana yang masih penasaran. Hana sudah duduk di kursi ruang tamu. Dia sudah menghidupin TV. Walaupun pandangannya tidak fokus disana.
"Kan Inazuma-kun tadi nganterin ke sini. Nggak mungkin kan, aku menyuruhnya ngantarin ke Villa"
__ADS_1
"Kenapa nggak nolak?" tanya Hana sambil memicingkan matanya.
"Udah, aku udah tolak. Tapi, dia maksa untuk mengantarinnya" kata Fanya menjelaskan.
"Oh iya, kenapa kamu muji - muji dia tadi di depan 2 cowok itu?"
"Ya kan aku..." Kata-kata Fanya terhenti melihat 3 cowok lagi menguping percakapannya dengan Hana.
"Udah ah, nggak usah nguping di sana. Kalau kalian mau gabung, nggak apa - apa kok, gabung aja. Itu menurut gua. Kalau menurut Hana nggak tahu juga?!" seru Fanya sambil melihat ke arah ketiga cowok itu.
"He....he..he, kami ketahuan ya" kata mereka menghampiri Hana dan Fanya sambil tertawa cengengesan, seakan-akan perbuatan mereka itu tidak salah.
Tapi disisi lain, ada setetes harapan yang mereka dapatkan saat mendengar kata - kata Fanya. Mereka tidak ingin membuat kedua gadis itu marah.
"Kisetsu-chan yang cantik dan baik hati boleh nggak kami gabung ngobrol - ngobrol dengan kalian?" tanya Ferel dan Alan dengan muka memelas kepada Hana. Sementara itu Tazu hanya melihat kearah tangan Hana dari belakang. Saat kedua temannya itu memuji - muji Hana sambil memegang tangan Hana, yang lebih tepatnya memijit - mijit tangan mulus itu.
"Boleh untuk kalian berdua. Tapi, nggak untuk Tazu" kata Hana tegas sambil melapaskan tangannya dari kedua cowok itu.
Ferel dan Alan bersorak gembira mendengarnya. Mereka tidak menyangka Hana dan Fanya memaafkan mereka, serta tidak kecewa lagi pada kelakuan mereka tadi.
"Kenapa aku nggak boleh sih?" tanya Tazu dengan wajah sendu.
"Kan kamu tadi ngajak 2 cowok ini nonton yang aneh - aneh" kata Hana tanpa mempedulikan pacarnya itu.
"Kan bukan kemauan ku aja, mereka juga mau nonton" kata Tazu tak terima.
"Tapi kan saat, keduanya nyuruh kamu matiin. Kamu nggak mau kan" kata Hana masih membuang muka ke arah lain.
"Eh, iya - iya. Tapi..."
"Eh, kalau untuk aku nggak usah, Tazu. Soalnya, aku masih kenyang" timpal Fanya.
"Iya - iyalah kamu kenyang, kan kami semua khawatir sama kamu, sehingga kami nggak bisa makan tahu" kata Ferel kesal.
"Kasihan." Fanya seakan mengejek ucapan Ferel. "Siapa suruh nggak makan, bilang aja di rumah nggak ada yang masakin" kata Fanya dengan nada sinisnya.
"Kok cuma aku aja yang disuruh sih?"
"Kamu mau buatkan, nggak? Kalau nggak menjauhlah dari kami" kata Hana tegas sambil menatap tajam kearah Tazu, karena dia masih marah dengan Tazu.
"Iya aku buatin" kata Tazu pasrah. Dia pun menjauh dari sana menuju dapur.
"Hana, kamu itu keterlaluan banget! Kalau buat ramen sih, anak-anak cowok yang berdua ini juga bisa" kata Fanya sambil menujuk kearah Alan dan Ferel.
"Nggak apa-apa, sekali-sekali nyuruh dia kan nggak apa-apa. Lagian masakan ramennya juga enak, kamu nanti harus coba deh. Sekali coba, kamu pasti teringat - ingat. Nyesel deh, kalau nggak coba" kata Hana memuji masakan Tazu.
"Nggak nyesal, Hana. Lagian, aku kasihan lihatnya Tazu harus tunduk dihadapanmu"
"Nggak juga, buktinya waktu seminggu di Indonesia dulu, dia nggak pernah tuh ngabarin aku"
"Ya udah, kita shalat dulu. Hari udah nunjukkin waktu shalat nih" kata Fanya mengajak teman-temannya untuk shalat bersama.
__ADS_1
*****
10 menit kemudian, Tazu datang kembali ke ruang tamu sambil membawa ramen buatannya. Saat itu, dia tidak melihat teman-temannya ada di sana. Dia berpikir teman-temannya mulai mengerjainya, dia pun kembali ke meja makan untuk meletakkan Ramen yang sudah matang itu disana.
Dia pun mencari teman-temannya di kamar Hana, tempat mereka biasa berkumpul. Tapi, tidak ada. Kemudian dia mencari mereka di berapa ruangan yang ada di sana, tapi tidak menemukan mereka juga. Akhirnya, dia pun menyerah untuk mencari teman-temannya.
'Apakah mereka sudah langsung ke sana?' pikirnya sambil berjalan kembali ke ruang makan untuk melihatnya. Tapi, sesampainya disana, teman-temannya tidak ada.
Akhirnya, dia pun menunggu mereka di meja makan dengan wajah yang semakin kesal.
Beberapa menit kemudian, teman-temannya masuk ke ruang makan yang langsung ditatapnya tajam kearah Hana.
"Ada apa,Tazu?" tanya Hana bingung, saat melihat tatapan menakutkan Tazu.
"Aku udah cari kalian semua ke mana-mana. Tapi, tidak ketemu. Terus aku udah capek-capek buat ramen, tapi kalian malah bercanda aja" kata Tazu kesal kepada teman - temannya, terlebih lagi sama Hana. "Bercanda kalian nggak lucu tahu" kata Tazu lagi sambil menahan emosinya.
"Siapa juga yang bercanda, Tazu? Kami nggak ngerjain kamu. Tadi, kami mengerjakan Ibadah di ruangan kosong itu. Emang kamu udah lihat kesana?" ucap Hana menjelaskan dengan lembut.
"Oh maaf, aku kira kalian cuma mempermainkan aku aja" kata Tazu sambil menunduk malu. Emosinya yang awalnya meledak, langsung reda seketika saat mendengar penjelasan dari Hana.
"Nggak, kamu nggak salah. Kalau aku di posisi kamu, aku juga akan berkata hal yang sama. Lagian, kami minta maaf juga karena membuatmu menunggu lama" kata Fanya sambil menepuk bahu Tazu.
"Oh, ya udah. Sekarang kita kan udah berdamai nih, sebaiknya kita makan lagi, kami udah laper nih. Lagian aku nggak sabar untuk cicipin ramen kamu yang sangat enak tuh" kata Alan dengan semangat.
"Iya, kalau nggak dicoba rugi" timpal Ferel juga ikut semangat.
"Ya udah, kalian silakan duduk" kata Tazu ala pelayan di restorant. "Oh iya, Fanya tolong ambilin mangkuk sama sumpit untuk kita makan. Nggak mungkin kan, kita makan ramennya sama-sama dalam satu mangkok besar" kata Tazu menyuruh Fanya sambil tersenyum. "Oh iya, jangan lupa ambilin sendok juga ya" ucap Tazu lagi.
"Iya - Iya bawel" kata Fanya hanya menuruti kata-kata Tazu dengan kesal karena di suruh - suruh.
Tak lama setelah itu, mereka semua sudah siap untuk makan. Tazu membagi ramennya menjadi 5 mangkok. Tadi Fanya hanya mengambil 4 mangkok, sehingga Tazu mengambil kembali mangkok lain lagi.
"Kok 5? Kan yang mau makan cuma 4 orang, kan?" tanya Fanya bingung.
"Masa kamu nggak makan sih, kamu harus cobain masakan aku" kata Tazu sambil tersenyum kearah Fanya." Selain itu anggap aja ini sebagai upah, karena mau aja aku suruh - suruh tadi."
"Nggak ah, aku udah makan ramen juga tadi" kata Fanya menolak tawaran Tazu.
"Itu kan beda Fanya" kata Tazu sambil memohon.
"Fanya, kamu tolong dong hargai masakan Tazu-kun, makan aja walaupun sedikit" kata Hana juga ikutan bermohon kearah Fanya.
"Baiklah." Akhirnya, Fanya menyerah juga. Selama ini dia tidak pernah bisa menolak keinginan saudara satunya itu.
"Selamat makan" kata mereka semua, sebelum memulai makan.
Setelah selesai makan mereka berlima kembali ke kamar masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah terlalu lelah.
*****
Terima kasih telah membaca karya saya. Semoga ceritanya pada menghibur. Jangan lupa ktitik dan saran supaya kedepannya saya bisa berkarya lebih baik lagi.
__ADS_1
Dan Maaf jika bab ini panjang. Mudah - mudahan para pembaca yang terhormat nggak bosan dengan ceritanya.
Jangan lupa juga baca novel Cinta dan Benci, serta rekaman author yang berjudul Toxic.