
'Apakah aku tadi udah keterlaluan sama Fanya? Aku bukan siapa - siapa Fanya. Kenapa aku mengatur - ngaturnya? Kenapa dia yang meminta maaf? Emangnya, dia salah pacaran sama cowok lain selain aku? Memangnya dia salah memilih cowok itu? Seharusnya itu nggak ada hubungannya dengan aku. Aku nggak berhak mengatur - ngaturnya, mau dia pelukan sama siapa aja atau bahkan ciuman sama siapapun. Aku nggak berhak mengatur - ngaturnya. Karena itu keingananya. Itu nggak ada hubungannya denganku. Kenapa ini semua sekarang, lebih rumit sih?'
Seketika pertanyaan - pertanyaan itu, mulai bermunculan di otaknya hingga tiada akhir. Akhirnya, Ferel pun pulang ke rumah Hana. Untuk memastikan. 'Apakah Fanya sudah ada di rumah? Atau dia tidak langsung pulang?'
Saat dia sampai di rumah Hana. Dia pun langsung pergi ke kamar Hana.
Setelah tidak ada melihat Tazu dan Hana serta cowok itu di ruang tamu. Dia mengetuk pintu kamar Hana.
Tak lama setelah itu, pintu itu pun dibuka dari dalam. Di dalam kamar hanya ada cowok tidak ingin dilihatnya, Tazu serta Hana.
"Ferel maaf" kata cowok itu.
"Udah lupakan aja" kata Ferel dingin. "Hana, dimana Fanya?" tanya Ferel.
"Dia pergi ke restoran yang kamu katakan tadi" kata Hana santai sementara Ferel terkejut.
"Iya aku tahu. Tapi, dia udah pergi. Aku nggak tahu dia ada di mana. Dia udah pulang sekitar 30 menit yang lalu. Kalian jangan sembunyiin dia dong! Emang dia ada di mana sekarang?"
"Dia nggak pulang, untuk apa kami nyembunyiin dia? Nggak ada gunanya tahu!" kata Tazu.
"Aduh, gimana nih? Dia nggak ada di sini?" tanya Ferel kepada dirinya.
"Emang ada apa?" tanya Hana mulai khawatir.
"Kalau dia nggak ada di sini, ke mana dia akan pergi? Menurut kalian?" tanya Ferel semakin cemas.
"Nggak tahu, kan Fanya kalau pergi sama kita" kata Hana.
"Sial"
"Tadi kamu yang hilang Fanya yang cemas mencarimu. Sekarang, dia yang hilang dan kamu yang cemas. Kalian itu, hilangnya aneh!" seru Tazu.
"Emang ada apaan sih? Ceritain dong pada kami! Siapa tahu kami bisa bantu!" seru Alan.
"A..., aku nggak sengaja membentaknya. Sehingga, dia segera pergi dari restoran. Kukira dia akan langsung pulang. Itu makanya aku ke sini untuk memastikannya" kata Ferel menyesal.
__ADS_1
"Apa? Lu bentak dia?" tanya Alan penuh emosi sambil memutar kerah baju Ferel dan mengangkatnya. Sehingga, kaki Farel jauh dari tanah yang membuat Ferel terbatuk - batuk. Sementara itu, Tazu melerai kedua temannya.
"Udah deh cukup, kalian kok jadi berantem di sini sih?" kata Hana juga ikutan melerai keduanya.
"Ferel, asal lu tahu. Dia itu nggak pernah dibentak oleh siapapun, termasuk orang tuanya!" seru Alan masih mengangkat tubuh Ferel.
"Ya, pantas aja orang tuanya nggak pernah membentaknya. Orang tuanya nggak ada di rumah, setiap kali aku ke sana" kata Tazu. "Udah Alan! Lepaskan Ferel! Nanti dia bisa mati. Yang terpenting sekarang adalah kita harus mencari Fanya! Walau bagaimanapun caranya!" lanjut Tazu. "Sebaiknya kita mencarinya berpencar deh. Aku dan Alan mencari Fanya sekitar kota. Sedangkan, Ferel dan Hana di sekitar komplek. Oh iya Ferel, kamu jagain Hana! Awas kalau sampai lecet dikit! Ku bunuh kamu" ancam Tazu.
"Baik" kata Ferel.
"Ikimasyou (ayo pergi)" kata Hana dan Tazu bebarengan membuat kedua cowok itu cuma mengerutkan kening. Tak lama setelah itu, mereka semua berpencar mencari Fanya yang hilang.
"Ferel, coba hubungi Fanya. Kalau nggak salah setiap liburan panjang, dia nggak pernah pergi dari kamar kesayangannya itu. Apa lagi jalan-jalan sendirian begini. Biasanya, aku yang selalu menemani dia keliling Jepang. Itu pun sangat susah untuk mengajaknya. Jika, ada film anime terbaru. Dia lebih memilih berdiam diri di dalam kamar seharian sambil menonton filmnya. Ketimbang jalan-jalan keliling kota Tokyo. Aku sangat khawatir sama dia"
"Baik Kisetsu-chan" kata Ferel menuruti perkataan Hana. Dia menghidupkan smartphonenya yang sengaja dimatikan tadi dan menghubungi Fanya. Sudah berapa kali, Ferel mencoba menghubunginya. Tapi, tidak ada tanda-tanda teleponnya akan diangkat.
"Nggak bisa."
"Ya udah, kalau nggak bisa. Biar aku aja yang coba hubunginnya. Kali aja, bisa kan?" Hana pun mencoba menghubungi Fanya. Tapi, tidak juga diangkat. Akhirnya Hana pun menyerah untuk menghubunginya.
"Nggak bisa juga" kata Hana.
"Nggak tahu, mau cari kemana pun? Percuma juga, soalnya aku nggak tahu tempat favorit dia. Lagian dia jarang keluar rumah"
"Terpaksa deh kita tunggu dia di rumah aja."
"Ya bener juga."
Mereka pun pulang ke rumah Hana, yang juga sudah ada Alan dan Tazu yang juga menunggu berita dari mereka.
"Tada ima (aku pulang)" kata Hana.
"Gimana?" tanya Tazu.
"Nggak ketemu."
__ADS_1
"Ferel awas aja jika terjadi apa-apa sama Fanya, gua nggak akan pernah maafin lu, gua akan mengakhiri hidup lu di dalam salju itu" ancam Alan.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, Fanya belum juga menampakkan batang hidungnya. Sehingga membuat mereka semua khawatir. Tak lama setelah itu, smartphone Hana berbunyi. Dia pun langsung mengangkat telepon yang ternyata dari Fanya, saat dia melihat nama Fanya tertulis di layar smartphonenya.
"Moshi-moshi" kata Hana.
"Moshi-moshi, Hana tolong jemput aku di taman Odaiba Marine Park, kamu tahu kan?"
"Ya, What? Kok sampai sejauh itu nyasarnya?"
"Udah deh jemput sekarang, aku tunggu ya, ingat sebelum Om marah sama kamu" seru Fanya dari seberang telepon.
"Ya, aku ke sana sekarang." Lalu telepon pun ditutup oleh Fanya.
"Gimana? Ada kabar dari Fanya?" tanya Tazu penasaran dan yang lainnya yang juga penasaran.
"Ya, aku tahu. Dia ada di mana sekarang, Tazu aku boleh nggak minjem mobilmu untuk menjemput Fanya."
"Ya bolehlah, masa cewek cantik kayak kamu nggak boleh minjam mobil aku. Pakai aja sesukamu. Lagian kan, aku sayang sama kamu" kata Tazu.
"Udah deh, kalian mau jemput Fanya atau mau mesra-mesraan di sini" tanya Alan.
"Iya nih, kasihan Fanya tahu" kata Ferel.
"Kalian ini mengganggu kesenangan kami aja" kata Tazu. "Lagiankan semuanya salah kalian berdua. Oh iya Fanya dimana sekarang Kisetsu-chan?"
"Di taman Odaiba Marine Park, kamu masih ingatkan tamannya, apa jangan-jangan kamu udah lupa jalannya karena udah lama tinggal di Indonesia?"
"Masa, aku bisa lupa sih jalannya, jalan itu mengingatkan kisah kenangan kita yang paling berharga. Oh iya, ayo naik mobil, kita harus cepat sebelum dia menghilang lagi."
Mereka semua pun masuk ke dalam mobil tanpa ada yang bertanya lagi.
*****
maaf jika author baru saja up, karena beberapa waktu ini authornya sibuk
__ADS_1
Terimakasih pembaca yang telah membaca cerita ini dan jangan lupa kritik dan saran serta jangan lupa untuk membaca cerita
Cinta dan Benci