Menggapaimu Kimi Ni Todoke

Menggapaimu Kimi Ni Todoke
Bab 4


__ADS_3

Keesokan harinya Fanya kembali menjauhi Ferel lagi, berbeda jauh dengan sikapnya kemarin saat melakukan tugas kelompok. Ferel dan Fanya kemarin mendapatkan kelompok yang sama. Mereka berdua mengerjakan tugas diikuti senda gurau dan kelakar teman satu kelasnya.


Bel pulang berbunyi 15 menit yang lalu. Tapi ada seseorang cowok betah dikelas yang sepi.


Saat dia keluar dari kelas dia melihat suasana sekolah masih begitu ramai terutama dibagian lapangan basket sekolah itu. Padahal biasanya dijam segini hampir tidak ada makhluk hidup yang ada disekolah, selain anak-anak yang ikut ekskul.


Tapi hari ini berbeda dia merasa murid-murid sekolah mengurumini sesuatu, dia menjadi penasaran tentang apa yang dilakukan murid sekolah itu, tapi setelah memikirkannya dia memutuskan untuk tidak mau tau tentang apa yang dilakukan murid sekolah ini. Dia memilih pergi dari sekolah, saat bersamaan ia baru ingat hari ini adalah hari les dia Bahasa Indonesia. Dia cepat-cepat pergi menuju mobilnya tanpa menghiraukan siapapun.


#Prov Fanya


Ditempat yang berbeda seseorang cewek tertunduk malu dengan ulah teman sekelasnya. Ingin rasanya dia ditelan oleh bumi saat itu juga. Atau pergi dari sana secepatnya.


Sekarang bel pulang sudah berbunyi sekitar 15 menit yang lalu. Fanya ditarik oleh Ferel menuju lapangan basket, saat dia akan keluar kelas, dia yang tidak tahu apa-apa kemudian hanya menurut saja saat Ferel membawanya.


Masih terdengar provokasi dari orang-orang di sekitarnya, ingin rasanya, dia menampar temannya itu, tapi itu akan membuat semakin malu, setelah memikirkan resiko yang akan diambil. Dia pun langsung menyeret temannya dari kerumunan itu. Dia membawa Ferel ke area parkir yang saat itu masih ramai dengan kendaraan.


"Lu tunggu di sini, gua ingin hubungi sopir gua dulu," kata Fanya sambil mengambil smartphonenya dari saku roknya.

__ADS_1


"Kamu mau ngajak aku kemana?, kalau kamu mau, kamu bisa pakai mobilku," kata Ferel.


"Mana kuncinya," kata Fanya masih terdengar nada marah di suaranya. Tanpa bertanya lebih jauh lagi, Ferel langsung memberikan kunci mobilnya kepada Fanya.


Fanya menerima kunci itu. "Lu masuk," kata Fanya akhirnya yang hanya dituruti oleh Ferel. Fanya membawa mobil seperti orang kesetanan, dia membawa mobil dengan kecepatan maksimal.


"Fa... Fanya... Jangan ngebut dong nanti mobilnya nabrak," peringat Ferel. Fanya tidak mendengarkan seruan Ferel, dia masih mempertahankan kecepatan yang sama.


Setelah 15 menit kemudian barulah mobil itu berhenti di salah satu cafe. Fanya pun keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam cafe yang diikuti oleh Ferel tanpa Fanya suruh.


Setelah berada di cafe, mereka berdua memesan makanan, saat menunggu pesanan mereka datang, tidak ada dari mereka yang memutuskan untuk membuka obrolan sampai akhirnya mereka makan pun tidak ada yang bicara atau pun bertanya. Karena suasana kaku itu membuat Ferel jenuh dan akhirnya dia yang memulai membuka obrolan.


"Kenapa kamu pergi dari sekolah, tanpa menjawab pertanyaanku tadi?," tanya Ferel lagi.


"Tanyakan kepada diri lu sendiri, kenapa lu membuat gua malu lagi di depan sekolah?, pakai acara nembak gua pakai bunga lagi."


"Kenapa sih kamu tidak pernah mau menerimaku?, emang apa kurangku?, Aku sangat cinta sama kamu, aku nggak akan pernah ngecewain kamu jika kamu menerima aku."

__ADS_1


"Jawab dulu pertanyaan gua, jangan bertanya lagi!, gua udah peringatkan lu berkali-kali gua nggak suka sama lu dan nggak akan pernah suka. Lu itu selalu membuat gua malu di depan umum, kan gua udah bilang, kalau mau melakukan hal-hal aneh, sebaiknya lu sama cewek lain aja deh," kata Fanya masih penuh dengan emosi.


"Sorry." Hanya itu yang keluar dari mulut Ferel.


"Ya udah lain kali lu jangan bikin gua malu lagi!," seru Fanya.


"Tapi kamu jangan jauhiku lagi."


"Ya."


"Janji?."


"Ya, gua punya dua gelang, yang satu warna pink dan yang satu lagi warna hitam, gua ingin kasih salah satu gelang ini kepada orang yang gua anggap sahabat. Gua ingin lu pakai gelang yang warna hitam," kata Fanya sambil melepas salah satu gelangnya. Kemudian dia langsung memakaikan gelang itu kepada tangan Ferel.


"Makasih."


Setelah itu tiada yang berbicara di antara mereka, mereka berdua makan dalam diam hingga makanan mereka habis.

__ADS_1


***


__ADS_2