
Setelah sampai di Hotel milik keluarga Devan,ia langsung check-in kamar. Meskipun itu hotel milik orangtuanya tetapi tetap saja dia harus membayarnya itulah bisnis.
"Selamat Siang Tuan Devan apakah perjalanannya menyenangkan?" tanya Linda Manajer Hotel tersebut yang sedang menyambutnya dengan welcome drink.
"Siang Mba Linda,perjalananku menyenangkan karena adanya dia." sahut Devan sambil kepalanya dimiringkan ke arah Afika. Afika tersenyum malu.
"Wah cantik sekali pasangan Anda Tuan,baiklah ini kunci kamarnya. Selamat beristirahat." kata Mba Linda.
"Ok thanks." kata Devan.
Jessy dan Cicil menunggu di lobby sedangkan Afika akan mengantar Devan ke kamarnya.
"Guys,tunggu di lobby sebentar ya gue antar Devan dulu ke kamarnya." kata Afika.
"Oke tapi jangan lama-lama cacing di perut gue udah ngamuk nih!" kata Jessy.
"Hahaha iya-iya.." kata Afika.
"Kalian duluan saja ke restauran,pilih menu yang kalian inginkan karena sepertinya kami akan lama disana." kata Devan sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah sahabat Afika.
"Baiklah kita duluan ya,kalian jangan lama-lama. Kami tunggu disana." ucap Cicil
Afika dan Devan pun ke arah lift dan menekan tombol untuk menuju ke lantai 10 tempat kamar Devan biasa menginap dan memang lantai tersebut khusus untuk pemilik atau keluarga si pemilik hotel istirahat.
"Eh Jes,lo denger ga tadi Devan bilang apa? Katanya mereka bakal lama dikamar?" tanya Cicil.
"Iya,ya mungkin Afika disuruh beresin bajunya Devan kali." jawab Jessy.
"Elo tuh ya umur udah 23 tahun tapi masih aja polos.." kata Cicil.
"Ya emang mo ngapain la...gi......." kata Jessy yang tiba-tiba berpikir.
"Aduh enggak-enggak jauhkan pikiran kotor ini!!" kata Jessy panik.
"Iihhh apa-apaan sih lo! Ya paling mereka melepas rindu,ga bakal ngapa-ngapain lah.. Kan Afika mau nikah sama Dhimas!" kata Cicil.
"Ooh iya ya,,yah elo sih yang bikin w negatif thinking! Udah ah ayo makan gue laper banget!" kata Jessy.
"Yookkk!!" lanjut Cicil.
Sementara itu Afika dan Devan telah sampai di Kamar hotel. Afika membantu Devan membereskan koper.
"Hahhh lelah sekali!" ucap Devan sambil merebahkan tubuhnya ke ranjang.
Afika membantu membereskan koper milik Devan dan setelah itu menyusul Devan ke atas ranjang.
"Pasti kamu lelah,mandilah dulu biar tubuhmu segar. Jangan sampai kedua sahabatku protes karena kita terlalu lama disini." pinta Afika.
Devan berbalik badan,sekarang tubuhnya berada diatas Afika.
"Apakah kamu tak rindu padaku?" kata Devan sambil mengelus rambut panjang sebahu milik Afika.
Afika pun menggeliat kegelian.
__ADS_1
"Iya,aku pun merindukanmu. Sudah mandi dulu sana aku akan menunggumu disini!" perintah Afika dengan wajah merah merona karena malu melihat mata Devan yang sedang menatapnya hendak menggodanya.
"Kenapa wajahmu memerah,malu ya?" kata Devan.
"Aku merindukanmu." bisik Devan ditelinga Afika,membuat Afika menutup mata menahan geli.
Lalu Devan pun mencium bibir Afika dengan lembut dan disambut pula oleh Afika. Ciuman itu semakin dalam dan dalam hingga merubahnya dari lembut menjadi panas. Devan memaksa Afika untuk membuka bibirnya dengan menggigit kecil bibir Afika lalu lidahnya bermain-main disana. Devan pun menyentuh wajah dan leher Afika membuat Afika mengerang.
Setelah beberapa lama mereka pun menyudahinya karena terengah-engah kekurangan oksigen. Ya maklum saja namanya anak muda sudah lama tak berjumpa.
Wajah Afika berubah sedih,Afika bingung harus menceritakan dari bagian mana kalau ia dipaksa menikah dengan calon kakak iparnya 3 minggu lagi. Sedangkan ia pun saat ini memang menjalin cinta dengan Devan. Afika benar-benar berada di tengah kegalauan yang amat kompleks.
'Bagaimana aku menjelaskannya pada Devan... Pasti ia sangat terpukul sekali mendengarnya' kata Afika dalam hati.
"Sayang,kenapa wajahmu terlihat sedih dan bingung?" tanya Devan.
"Hmm.... gak,ga papa kok sayang. Oh iya segeralah mandi. Selagi kamu mandi aku akan membereskan pakaianmu dari dalam koper." kata Afika mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah sayang,aku mandi dulu ya biar fresh. Oh iya bajuku ga usah di bereskan biar aku saja nanti. Aku ga mau kamu lelah. Hanya saja tolong siapkan baju untuk aku pakai sekarang ya." pinta Devan lalu menuju kamar mandi untuk mandi.
"Oke sayang." kata Afika.
Beberapa menit kemudian...
"Sayang tolong ambilkan bajuku ya!" teriak Devan dari dalam kamar mandi. Afika yang sudah menyiapkan baju segera ke pintu kamar mandi untuk menyerahkannya kepada Devan.
"Sayang ini baju nya!" teriak Afika. Devan membuka pintu kamar mandinya sedikit untuk mengambil bajunya.
"Thanks Honey!" bisik Devan dari balik kamar mandi.
"Sudah ayo cepaatttt!!!" teriak Afika.
Beberapa menit kemudian setelah Devan selesai mandi akhirnya mereka turun ke lantai 1 menuju restauran.
Jessy dan Cicil yang melihat Afika dan Devan sedang mencari mereka berdua langsung memanggilnya.
"Afika,Devan sebelah sini."
"Wah kalian sudah nambah berapa piring nih?" tanya Devan.
"Tenang aja Van kita ga serakus itu kok kan lagi diet,ya nggak Cil.." kata Jessy.
"Iya dong.."
"Gue sama Devan ambil makanan dulu ya." kata Afika yang memang restauran hotel tersebut bertemakan All You Can Eat.
Saat menuju restauran tiba-tiba Afika ingin buang air kecil.
"Sayang aku ke toilet sebentar ya. " kata Afika.
"Oke." sahut Devan.
Disaat Devan sedang mengambil makanannya tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya. Ia pun menoleh.
__ADS_1
"Tuan Devan?" tanya orang itu.
"Ya,maaf Anda siapa ya?" tanya Devan.
"Ternyata Anda sudah lupa dengan saya. Saya Adhimas Ardigha dua tahun yang lalu kita bertemu saat meeting di New York. Saat itu perusahaan Ardhiga join dengan perusahaan Astrawijaya di bidang pengadaan catering untuk hotel Anda di cabang New York." jelas Dhimas.
"Ah,ya benar maaf saya baru ingat karena sudah lama sekali. Maafkan saya. Apa kabar Tuan Dhimas?" tanya Devan.
"Kabar baik. Sepertinya Tuan Devan sedang memantau hotel bukan?" tanya Dhimas.
"Ya betul Tuan,selain itu kebetulan saya baru datang dari New York dan ingin beristirahat disini." jelas Devan.
"Oh begitu. Kebetulan saya juga akan ada pertemuan di hotel ini. Baiklah kalau begitu saya permisi dulu." kata Dhimas.
"Baik Tuan Dhimas,good luck. " ucap Devan.
***
Sudut Pandang Afika.
Saat Afika selesai menunaikan hajatnya dan kembali ke restauran,tiba-tiba Ia kaget melihat dua orang lelaki yang ada di cerita hidupnya sedang bercengkerama.
"Hah?? Devan dan Dhimas? Apakah mereka berdua saling mengenal?" kata Afika kaget dengan menutup mulutnya dengan satu tangannya. Afika pun mendengarkan percakapan mereka dari jauh.
"Oh ternyata mereka rekan bisnis saat di New York? Dunia memang sempit sekali." bisik Afika.
Setelah Dhimas meninggalkan Devan baru lah ia menghampiri Devan.
"Honey,ayo pilih makanannya." kata Devan.
Setelah Afika dan Devan selesai memilih makanan merekapun segera menuju meja tempat Jessy dan Cicil.
Tiba-tiba Cicil terbelalak,karena beberapa menit setelah Devan dan Afika duduk,Dhimas pun duduk tepat di belakang Devan dan Afika. Afika melihat ekspresi Cicil dan mengernyitkan dahinya.
Cicil langsung membuka handphone nya dan segera me whatsapp Afika.
Tring...
Suara notifikasi WA Afika.
Dari Cicil..
(Percakapan di grup WA Afika,Cicil dan Jessy)
Cicil : "Lo udah cerita belum sama Devan tentang Dhimas?"
Afika : "Belum gue bingung harus mulai darimana,emang kenapa sih?"
Cicil : "Jangan nengok ke belakang karena Dhimas duduk tepat di belakang lo!"
Jessy : "Mana sempat keburu telat dia datang kesini wey..."
Dhimas mendatangi meja mereka...
__ADS_1
***
Bersambung