
Di Ruangan Direktur Utama.
Afika merebahkan tubuhnya di sofa. Dan memijit pangkal hidungnya yang terasa pusing karena ia habis bertempur melawan orang-orang munafik bermuka dua yang berusaha menjatuhkan Afika dan Ayahnya. Namun berkat kegigihannya dia bisa mengalahkan mereka semua dan malah menarik simpatisan dari pihak investor karena visi dan misi nya yang dirasa menguntungkan kedua belah pihak yaitu perusahaan dan investor.
"Nona silahkan diminum" Anggi menyerahkan Teh Chamomile kesukaan Afika.
"Teh Chamomile baik untuk merilekskan pikiran Anda Nona." sahut Anggi kembali.
"Terima Kasih Anggi." Afika menyeruput tehnya.
"Dimana Denny? Semenjak keluar dari ruangan rapat ia belum kesini." tanya Afika.
"Denny sedang dipanggil Tuan Chandra ke ruangannya Nona."
"Oh seperti itu. Anggi tolong bereskan berkas di mejaku. Setelah ini kita pulang." pinta Afika.
Afika mengecek handphone nya dan terlihat 50 panggilan dari Devan. Afika pun mencoba untuk meneleponnya kembali.
tut..tut..
"Hallo my sunshine? Apakah kau sibuk sekali hingga kau tak bisa mengangkat telepon dariku?" Devan langsung menyerocos.
"Hallo Dev maaf ya hari ini aku sibuk sekali. "
"Hm.. it's ok.. bagaimana kabarmu hari ini?"
Afika menghela napas lega.
"Tidak ada kendala dan berjalan lancar. Mulai hari ini aku resmi menjadi Direktur Utama Dev." kata Afika.
"Syukurlah sayang aku lega mendengarnya. Tapi...." kata Devan.
"Tapi?" tanya Afika.
"Entahlah aku harus senang atau sedih karena jika kau sudah menjadi Direktur Utama pasti waktu untukku menjadi sangat terbatas." jawab Devan.
"Hmm.. ya beberapa hari ini pasti akan menjadi hari tersibukku. Maaf ya Dev." jawab Afika.
Entah mengapa Afika lebih suka memanggilnya Dev daripada sayang,mungkin Afika sedang lelah.
"Baiklah kamu pulang dan beristirahatlah." kata Devan.
"Ya,terima kasih."
"Bye honey."
"Bye Dev.."
Mereka menutup teleponnya.
Tak lama telepon Afika kembali berdering sambil menutup mata Afika menjawabnya,Dia pikir Devan menghubunginya kembali.
"Ada apa lagi Devan Wijaya?" tanya Afika.
"Ehem.. I'm not your boyfriend. I'm your future husband." jawab laki-laki itu yang ternyata adalah Dhimas.
"Eh,maaf Mas aku pikir Devan meneleponku lagi." jawab Afika yang merasa tidak enak kepada Dhimas.
"Tidak apa. Bagaimana rapat hari ini apakah berjalan lancar?"
"Lancar seperti jalan tol hehe.." Afika merasa senang mendengar suara Dhimas.
"Syukurlah kalau begitu. Untung saja kamu belum terlalu dekat dengan Denny."
__ADS_1
"Denny? Sekretaris kak Afina maksud Mas? Loh memang dia kenapa?" tanya Afika.
Kring..kring..
Suara telepon kantor berbunyi diangkat oleh Anggi.
"Hallo. Dengan Anggi disini. Oh ya baiklah akan saya sampaikan kepada Nona Afika. Terima kasih." kata Anggi dalam percakapannya.
Afika menoleh dan bertanya.
"Ada apa Anggi?"
"Tuan menyuruh Nona untuk segera ke ruangannya."
"Baik ayo kita kesana."
Afika kembali berbicara di telepon dengan Dhimas.
"Aku dipanggil Ayah ke ruangan. Nanti ku telepon kembali."
"Baiklah."
Mereka menutup telepon. Lalu Afika lanjut menuju ruangan Komisaris Utama bersama dengan Anggi.
***
tok..tok..tok..
"Masuk" jawab Chandra.
"Ayah..Ada apa memanggilku?" tanya Afika.
"Ya nak ada sesuatu hal yang harus Ayah jelaskan padamu."
Lanjut Tuan Chandra pun menjelaskan kronologis yang terjadi hari ini.
"Ya nak di dalam dunia bisnis memang sudah tidak heran hal seperti ini terjadi. Kamu harus hati-hati dalam berteman. Bisa jadi temanmu adalah musuh dalam selimut." sahut Ayah.
"Selamat nak kau telah resmi menjadi Direktur Utama HDW Grup. Hari-harimu pasti akan sangat panjang dan melelahkan. Ayah percaya padamu dan kabar baiknya investor sangat tertarik dengan visi misi mu membuat mereka tertarik untuk menambah nilai investasi mereka."
"Terima kasih Ayah ini semua berkat dorongan dan doa dari ayah,ibu dan yang lainnya." kata Afika.
"Baiklah hari sudah sore mari kita pulang." ajak Ayah.
"Baik Ayah,Ayah pulanglah duluan Afika masih ada urusan."
"Afika permisi Ayah.."
"Tunggu Afika.." kata Ayah sebelum Afika membuka pintu.
"Putuskan hubunganmu dengan Devan secepatnya!"
Afika menoleh ke Ayahnya.
"Bagaimana Ayah tahu hubunganku dengan Devan?"
"Mata-mata Ayah ada dimana-mana nak apa kamu lupa siapa ayahmu?"
Afika berbalik dan kembali duduk.
"Sebenarnya Afika juga mau cerita kepada Ayah tapi Afika bingung harus mulai darimana. Di satu sisi Afika sedang menjalin hubungan dengan Devan. Di sisi lain aku juga tidak mau membuat keluarga kita malu jika pernikahan itu digagalkan." terang Afika.
"Nak,Devan adalah anak musuh bebuyutan ayah. Sudah jelas ayah tidak akan merestui hubungan kalian. Lagipula aku curiga kalau Arya Wijaya menggunakan anaknya untuk mencoba menghancurkanku!" kata ayah.
__ADS_1
"Jangan berprasangka buruk Ayah,kita belum ada bukti."
"Saat pacaran dengan Dhimas dulu kau menutupi identitasmu kan. Apakah dengan Devan kau juga begitu?"
"Saat bersama Devan aku memakai identitasku sendiri ayah. Tapi memang saat pertama kita bertemu dia sudah mengenaliku."
"Coba ceritakan pada ayah awal mula kau bertemu dengannya."
#Flashback On
Setelah mengetahui bahwa Peter/Dhimas akan dijodohkan dengan seorang wanita Afika pun pasrah dengan hubungannya. Ia adalah tipe orang yang simple bila memang harus seperti ini jalannya ia akan terima. Namun tak dapat dipungkiri kesedihan dan patah hati itu adalah sebuah metamorfosis yang harus dilalui dalam percintaan.
Afika menghabiskan hari-harinya di cafe tempat pertemuan pertamanya dengan Dhimas. Sampai kasir dan karyawan lainnya hapal betul spot tempat duduk dan minuman yang dipesannya.
Saat itu Afika sedang mengantri di kasir untuk memesan minuman,saat tiba giliran Afika dengan sengaja seorang lelaki muda menggunakan Hoodie menyela antriannya .
" Two of Cup Caramel Macchiato please." kata lelaki itu yang ternyata adalah Devan.
"Excuse me sir? You already interrupted my line." kata Afika.
"No,i'm not interrupted your line. We are together. Two cup of Caramel Machiatto."
Afika bingung,memang itu minuman yang selalu ia pesan selama 7 hari belakangan ini.
Setelah mendapatkan minumannya Devan segera mengajak Afika ke spot tempat duduk yang biasa Afika tempati.
"Silahkan duduk Nona Afika." kata Devan.
Afika duduk dan bertanya.
"Who are you?"
"Let me introduce my self. My name is Devan Wijaya."
"Apa kau mengenalku?" Tanya Afika.
"Of course,sudah beberapa hari ini saya memperhatikan Anda Nona Afika. Selalu memesan minuman dan tempat duduk yang sama." kata Devan.
"Ah ya..." kata Afika sambil minum minumannya.
"Broken heart?"
Afika diam,ia pikir bagaimana ceritanya padahal baru kenal hari ini.
"It's ok Afika I know kita baru berkenalan. Tapi alangkah lebih baik kalau hal tersebut diungkapkan daripada dipendam sendiri." kata Devan.
Afika memang type orang yang tidak bisa sembarang cerita mengenai kehidupan pribadinya kecuali sahabat terdekatnya.
Akhirnya Devan memulai obrolannya mengenai apapun,memang Devan adalah tipe orang yang humoris dan banyak topik pembicaraan. Afika menjadi pendengar yang baik,sesekali afika tertawa mendengar cerita Devan. Tak terasa 1 jam berlalu.
"Baiklah Afika aku harus undur diri karena ada hal yang harus aku kerjakan."
"Ok Devan terima kasih hari ini"
Lalu mereka bertukar nomor telepon dan berpisah di depan kafe.
"See you senorita.."
#Flashback Off
Visual Devan Wijaya
__ADS_1
***
Bersambung