Menikahi Calon Kakak Ipar

Menikahi Calon Kakak Ipar
Aku tertipu


__ADS_3

Pagi hari yang cerah,sinar mentari seakan mencoba membangunkan Nona Muda Afika Hadiwijaya.


kring..kring...


Alarm berbunyi ternyata sudah pukul 6 pagi. Afika pun mencoba mengerjap-ngerjapkan matanya menahan rasa kantuknya kemudian secara naluriah ia menguap.


"Hoaahhmm... ah pegal sekali badanku hari ini." kata Afika.


tok..tok..tok..


Suara pintu diketuk.


"Nona Afika apakah Anda sudah bangun?" kata Anggi.


"Masuklah Anggi."


Anggi masuk kamar Afika dengan membawa tablet di tangannya.


"Nona jam 08.00 meeting dengan investor dari Jepang. Pukul 10.00 fitting baju pengantin di Hwang Tailor. Pukul 14.00 rapat direksi berkaitan dengan investor Jepang Nona." kata Anggi menjelaskan.


"Karena pukul 10.00 nona harus fitting baju maka rapat dengan direksi di undur pukul 14.00"


"Apakah sepenting itu Mr.Hwang hingga sampai mengundur meetingku? Bisa tidak jadwal ke Hwang Tailor dirubah pukul 14.00 siang? Aku tidak suka bolak-balik kantor seperti itu" protes Afika.


"Sebentar akan saya reservasi terlebih dahulu. Nona silahkan mandi dan sarapan dulu."


"Hmm..."


Afika mandi lalu memakai pakaian stelan jas berwarna maroon dengan dalaman hitam serta tak lupa heels 3cm berwarna hitam dengan rambut di ekor kuda. Dengan tablet ditangannya ia sedang mengecek persiapan untuk meetingnya.


Lalu Afika turun ke lantai bawah dan sarapan bersama orangtuanya.


"Afika sarapan dulu,tabletnya letakkan dulu." kata ibu.


"Iya sebentar bu Afika sedang mempelajari kurva pertumbuhan ekonomi perusahaan. Mr. Yamamoto pasti akan bertanya perihal tersebut." jelas Afika dengan matanya yang tak bisa lepas dari tablet.


"Sudah nak kau tak perlu khawatir nanti Dhimas akan membantumu." kata ayah.


"Mas Dhimas membantu,maksudnya gimana yah?" tanya Afika.


"Dhimas kemarin membantu Ayah untuk melobby Mr. Yamamoto agar berinvestasi di perusahaan kita. Kebetulan perusahaan Dhimas adalah vendor multinasional maka sedikit banyak Dhimas sudah membantu perusahaan kita untuk meraih investor agar mau invest di HDW Grup.


Afika baru ingat saat ia bersama Devan dan 2 sahabatnya bertemu dengan Dhimas di hotel Astrawijaya,saat itu Fikry sekretaris Dhimas menyebut bahwa Mr. Yamamoto akan tiba.


"Jadi nanti saat rapat Dhimas menjadi juru bicara dari Perusahaan kita Afika. Kau tak usah terlalu cemas ya." jelas Ayah.


"Baik Ayah."


"Anggi bagaimana apakah Mr.Hwang ada jadwal pukul 14.00?" tanya Afika.


"Maaf Nona Mr.Hwang akan landing ke Singapura pukul 12.00 jadi tidak bisa diundur sampai pukul 14.00."


"Ok lah tidak apa-apa."


"Hari ini ibu sekalian ikut ke kantor saja biar jam 10 nanti kita langsung ke Hwang Tailor bersama Dhimas juga."


"Ok bu" kata Afika.


Setelah selesai sarapan mereka pun berangkat ke kantor. Ayah dan Ibu Afika memakai mobil sedan mewahnya bersama Sekretaris Wilham sedangkan Afika memakai mobil pribadinya bersama Sekretaris Anggi.


Saat dimobil Anggi menyempatkan untuk mengecek handphone nya apakah ada notifikasi dari Devan. Ternyata tidak ada,biasanya kalau tidak dikabari 5 menit saja dia sudah mengoceh-ngoceh. Terakhir mereka berkomunikasi adalah pada saat Afika selesai mengadakan rapat direksi. Lalu Afika juga mengingat kejadian kemarin disaat Devan semobil dengan Chelsea. Afika berpikir untuk menanyakannya langsung pada Sekretaris Wilham terkait dengan penyelidikan yang ia perintahkan kemarin,namun karena Wilham berada dimobil bersama ayah dan ibunya Afika tak bisa meneleponnya saat ini meskipun ia sangat penasaran dengan hasil penyelidikan Wilham.


'sebaiknya aku fokuskan saja pikiranku untuk rapat nanti' gumamnya dalam hati


***


Di Kantor.


Mobil Komisaris dan Direktur Utama tiba di depan lobby Gedung HDW Grup.


Satu persatu dari mereka turun dari mobil,diikuti oleh para Sekretaris Pribadinya masing-masing. Seluruh karyawan menghormati mereka dengan menundukkan kepala serta ucapan Selamat Pagi. Ada yang memang benar tulus mengucapkan ada pula yang sedang berusaha mencari muka dengan para petinggi tersebut. Ya itu hal yang biasa di dunia kerja.

__ADS_1


Mereka pun menuju lantai 5 dan segera menuju ruangan masing-masing.


Tak lama dari itu mobil Dhimas sampai di lobby kantor HDW Grup dan langsung menuju lantai 5 tempat ruangan Komisaris Utama berada.


Setelah sampai di lobby lantai 5 terlihat Afika dan Sekretaris Wilham sedang berbicara,saat Dhimas datang keduanya secara refleks langsung menatap Dhimas.


"Selamat Pagi Afika,Pak Wilham."


"Pagi Mas.. Pagi Tuan Dhimas." kata Afika dan Wilham bersamaan.


"Apakah Tuan Chandra ada di ruangan?" tanya Dhimas.


"Ada Tuan Dhimas. Mari saya antar." kata Wilham.


"Baik terima kasih Pak Wilham saya ingin berbincang sebentar dengan Afika."


"Baik Tuan."


"Afika bisa kita bicara di ruanganmu?" kata Dhimas.


"Oh ya silahkan. Ayo Mas. Sekretaris Wilham setelah saya berbincang dengan Tuan Dhimas segera ke ruangan saya ya." pinta Afika.


"Baik nona."


Afika dan Dhimas menuju ke ruangannya.


"Apakah Mas sudah sarapan?" tanya Afika.


"Sudah Fika."


"Silahkan duduk,Oh iya ada hal apa yang ingin Mas bicarakan denganku?" tanya Afika.


"Ini tentang informasi Devan dan Chelsea."


"Baik ceritakanlah padaku."


"Sebelum mendengar berita ini aku harap Kau bisa meredam emosimu."


"Menurut penyelidikan yang dilakukan oleh anak buahku. Mereka menyatakan bahwa Devan dan Chelsea merupakan sepasang kekasih dan akan segera menikah bulan depan."


"Apa?" tanya Afika setengah kaget.


"Sepasang kekasih?" tanya Afika lagi.


"Ya awalnya mereka memang dijodohkan sejak lama dengan orangtua mereka. Namun disamping itu mereka pun saling menyukai."


"Sudah berapa lama mereka menjadi sepasang kekasih?"


"Sejak pertemuan mereka untuk dilakukannya perjodohan adalah 2 tahun lalu."


"2 tahun lalu? Tapi itu adalah waktu hubunganku dengannya. Bagaimana bisa?"


"Entahlah,mereka hanya menyampaikan demikian. Kalau kau memang mau tahu selanjutnya akan aku lakukan penyelidikan lebih lanjut."


"Tidak usah Mas biar aku saja yang mencari tahunya sendiri."


"Apa kau baik-baik saja setelah mendengar hal ini?"


"Aku baik-baik saja kalau memang berita ini benar aku akan menjadi semakin yakin dengan pernikahan kita setidaknya aku tidak akan mempunyai perasaan bersalah karena telah meninggalkan Devan. Namun aku akan mencari tahu motif Devan mendekatiku selama ini dengan caraku sendiri."


"Baiklah kalau itu maumu. Ohiya bicara tentang pekerjaan. Hari ini adalah rapat dengan investor Jepang Mr.Yamamoto kamu tenang saja aku yang akan menghandle semua ini."


"Baiklah terima kasih Mas." ucap Afika.


"Kalau begitu aku langsung ke ruangan Om Chandra dulu ya." pamit Dhimas.


"Mas..."


Dhimas berbalik.


"Hm.."

__ADS_1


Afika menghampiri Dhimas dan membetulkan dasi Dhimas yang tidak sengaja agak miring itu. Dengan agak berjinjit meskipun Afika sudah memakai heels 3 cm dengan tinggi Afika 170 cm tetap saja harus jinjit kala berhadapan dengan Dhimas yang notabene keturunan Belanda dan mempunyai tinggi badan sekitar 186 cm tersebut.


"Sebentar Mas itu dasimu miring,sini aku bantu membetulkannya."


Dhimas memperhatikan Afika dengan lembut dan mengecup keningnya.


cupp..


Afika kaget dan mengedip-ngedipkan matanya.


"Mas.. sebentar lagi aku kan jadi istri kamu jadi hal seperti ini akan menjadi makanan sehari-harimu." kata Afika dengan wajah merah merona.


Cup.. Dhimas mengecup pipi sebelah kanan Afika karena Dhimas begitu gemas dengan ekspresi yang diberikan oleh Afika yang malu-malu tapi mau.


"Dan kamu juga harus beradaptasi dengan ini." Kata Dhimas sambil berlalu ke ruangan Tuan Chandra. Tinggallah Afika dengan wajahnya yang memerah seperti buah tomat di pipinya.


***


Setelah Dhimas keluar dari ruangannya Afika menyuruh Sekretaris Wilham untuk datang ke ruangannya .


"Anggi tolong kabari Sekretaris Wilham untuk segera datang ke ruangan saya "


"Baik Nona"


Lalu Anggi segera ke ruangan ayahnya yang adalah Sekretaris Wilham,sembari membawakan bekal makanan dari ibunya yang terlupa dibawa oleh ayahnya karena tadi mereka berangkat dengan mobil yang berbeda.


tok..tok..tok


"Masuk."


"Ayah Nona Anggi memanggil Ayah untuk segera ke ruangannya "


"Ya nak baiklah ayah akan ke ruangan Dirut."


"Iya ayah. Ini kotak makanan ayah tertinggal di rumah karena tadi ayah sangat buru-buru."


"Oh ya ayah lupa. Terima kasih nak.. Maafkan ayah yang agak menjadi pelupa karena banyak sekali hal yang harus ayah urus."


"Never mind. Stay healthy. Aku kembali ke ruangan ya ayah."


"Ok."


Sesampainya Sekretaris Wilham ke ruangan Dirut.


tok..tok..tok..


Sekretaris Wilham mengetuk pintu ruangan Dirut


"Ya Masuk." jawab Afika.


"Pagi Nona. Ada yang bisa saya bantu?"


"Ya Sekretaris Wilham,apakah sudah ada kabar dari informanmu tentan Devan dan Chelsea?"


"Ya Nona. Mungkin info ini agak membuat Nona tidak nyaman."


"Tenang saja,katakanlah."


"Devan dan Chelsea sudah dijodohkan oleh keluarga mereka dua tahun yang lalu. Awalnya Devan menolak karena ia sudah mempunyai pacar yaitu Nona Afika. Namun setelah Devan menceritakan tentang Nona Afika kepada keluarganya,terutama sang ayah menentangnya karena hubungannya dengan Tuan Chandra tidak baik boleh dikatakan mereka adalah musuh bebuyutan. Lalu Devan berkata bahwa ia akan menerima perjodohan ini,tapi tolong jangan ganggu hubungannya dengan Nona hingga lulus kuliah." kata Wilham panjang lebar.


Afika mendengarkan dengan seksama


"Cari tahu kapan mereka akan menikah,dimana dan tolong cari tahu motif Devan mendekatiku."


"Baik Nona"


Setelah Wilham meninggalkan ruangan Afika,ia pun terkesima dengan penjelasan dari Wilham. Air matanya nampak tergenang karena meskipun Devan menerima perjodohan tersebut namun dia masih ingin bersama dengan Afika. Dan itu membuat Afika kecewa dan murka.


"Bisa-bisanya kau menggantungkan hatiku. Mungkin benar saat aku baru pulang ke Indonesia dan yang angkat telepon milik Devan adalah Chelsea. Saat itu mereka memang sedang bersenang-senang di belakangku. Semua perkataan Chelsea saat itu adalah benar. Aku tertipu permainan mereka. Mengapa aku terlihat begitu bodoh di hadapan mereka."


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2