
Setelah masing-masing saling mengingat bagaimana awal pertemuan dan akhir kisah cinta mereka,Afika dan Dhimas pun kembali ke realita. Bahwa sekarang ini mereka adalah calon ipar. Dan fokus utama adalah kesembuhan Afina.
"Apapun yang terjadi pada kita itu adalah masa lalu,sekarang aku hanya ingin fokus kepada kesehatan kakakku." kata Afika.
"Afika..." panggil Dhimas.
Dhimas menghampiri Afika dan memegang pipi sebelah kirinya sambil mengelus lembut pipi yang kemerahan itu. Dhimas menatap lekat kedua bola mata Afika yang berwarna coklat dan berwarna senada dengan rambut indahnya. Wajah oriental berpadu dengan manisnya khas etnis Jawa merupakan perpaduan yang bisa membuat mata setiap lelaki tak berkedip melihatnya. Lalu Dhimas pun bertanya.
"Apakah perasaanmu masih sama terhadapku?" tanya Dhimas.
Afika sangat canggung dengan keadaan saat itu,ia memang merindukan Dhimas namun keadaan yang membuat Afika tidak bisa meluapkan perasaannya.
"No.. Semenjak kamu pulang ke Indonesia aku sudah berusaha melupakanmu. Aku tidak mau membuang waktuku untuk memikirkan calon suami orang." kata Afika berbohong. Padahal dalam hatinya ia sangat merindukan Dhimas.
"Baiklah,mulai sekarang aku akan berhenti mencintaimu. Aku akan mulai berusaha untuk mencintai Afina setulus hatiku. Aku anggap kisah kita telah usai." kata Dhimas.
"Ya,begitu lebih baik...." jawab Afika.
"Bolehkah aku menciummu untuk yang terakhir kali?" pinta Dhimas.
"Hmmm...ya" jawab Afika dengan ragu.
Dhimas pun mencium bibir Afika dengan lembut,bibir yang ia rindukan lebih dari setahun lalu namun masih dengan rasa yang sama. Aroma cherry dari lipbalm yang Afika kenakan membawa mereka kembali ke saat itu.
Afika takut jika tak bisa menyudahi perasaannya,ia pun segera mengakhiri momen tersebut.
"Terima kasih Afika,kuharap kita bisa menjadi ipar yang baik." kata Dhimas.
"Aku akan ke ruangan Afina,apakah kau mau ikut?" tanya Dhimas.
"Ah,aku nanti menyusul. Aku ingin sebentar saja berada dsini." kata Afika yang sedang memperbaiki perasaaannya.
"Oh,baiklah kalau begitu aku duluan ya." sahut Dhimas.
"hmm.." jawab Afika.
__ADS_1
Setelah Dhimas pergi meninggalkannya air mata mengalir sendirinya dari kedua mata Afika. Air mata rindu,sedih,terharu,kesal,marah menjadi satu. Afika menyesali perbuatannya mengapa ia tak jujur dari awal tentang identitasnya. Mungkin ia bisa menjadi pasangan hidup Dhimas. Dan Afina juga tidak akan seperti ini. Memang sesuatu yang diawali dengan ketidakjujuran pasti akan berakhir tidak baik.
Setelah berhasil meredam emosinya Afika pun kembali ke ruang perawatan Afina.
Disana sudah ada Dhimas yang sedang membaca buku di samping Afina.
"Maaf mengganggu Piet,ah maksudku Mas Dhimas." kata Afika menggunakan kata Mas karena Dhimas merupakan calon kakak iparnya.
"Ah,iya Afika silahkan masuk." kata Dhimas mempersilahkan Afika masuk.
Lalu Afika duduk di samping kakaknya yang sedang terbaring lemah. Wajahnya penuh luka dan memar,begitu pula seluruh tubuhnya. Afika tak mampu membendung air matanya.
"Kak...maafkan aku kak... Aku tahu kamu kuat,bertahanlah kak" kata Afika sambil memegang tangan Afina yang dipenuhi alat-alat bantu.
Dhimas tak tega melihat Afika menangis lalu dihampirinya ia. Afika pun memeluk Dhimas sambil menahan isak tangisnya. Dhimas membelai rambut Afika dengan lembut.
"Maafkan aku kak....." kata Afika menangis tersedu di pelukan Dhimas.
***
'Tetaplah seperti ini Afika,sebentar saja' gumam Dhimas dalam hati.
Tak berapa lama dokter Cathy pun datang bersama dokter Indra untuk mengecek keadaan Afina. Dokter Cathy pun terperanjat melihat pemandangan di depannya. Anaknya sedang membelai rambut gadis lain.
"Dhimas.. Apa yang kamu lakukan dan siapa dia?" tanya dokter Cathy menyelidik.
"Ah,mama... Oh ini mmm... dia Afika adiknya Afina." jelas Dhimas terbata.
"Tapi mengapa kau perlakukan dia seperti kekasih,nak?" tanya dokter Cathy.
Sementara dokter Cathy menyelidiki Dhimas,dokter Indra segera memeriksa keadaan Afina.
Karena suara ribut Afika pun terbangun dia kaget ada ibu cantik memakai pakaian dokter yang terlihat sedang menginterogasi Dhimas.
"Ah,apakah ini sudah pagi?" tanya Afika.
__ADS_1
"Ya Afika,sekarang pukul 08.00 .. Apakah tidurmu nyenyak?" tanya Dhimas.
"Ya,belum pernah aku tertidur senyenyak ini padahal hanya tertidur di sofa" jelas Afika.
"Oh ya Afika perkenalkan ini adalah dokter Cathy,Presiden Direktur Rumah Sakit Ardhiga dan juga mamaku." kata Dhimas.
"Hallo princess,,cantik sekali kamu nak. Perkenalkan saya adalah mamanya Dhimas dan juga Presdir Rumah Sakit ini." kata dokter Cathy sopan.
"Ha..hallo tan..te.. Saya Afika anak bungsu Chandra Hadiwijaya." seru Afika terbata.
"Ya,tak usah sungkan nak anggap saja aku mamamu sendiri. Sepertinya kalian lelah,sebaiknya kalian pulang dan beristirahatlah. Dhimas kau antarkan Afika ya." pinta dokter Cathy.
"Tapi bagaimana dengan kakakku tante?" tanya Afika yang mengkhawatirkan keadaan kakaknya.
"Kamu tak usah khawatir. Afina dalam pengawasan tante. Dan nanti Jeng Dewi juga akan kesini menemani Afina." terang dokter Cathy.
"Ah,syukurlah kalau begitu.. Kalau begitu saya pamit pulang dulu tante .." kata Afika sopan.
"Ma,aku akan mengantar Afika pulang. Lalu aku akan pergi ke kantor karena ada meeting saat jam makan siang nanti." kata Dhimas.
"Baik nak hati-hati di jalan ya." kata dokter Cathy..
'Apa? aku harus pulang bersama Dhimas? Kalau aku selalu bersamanya bagaimana perasaanku bisa hilang. Tidak,aku harus pulang sendiri.' gumam Afika dalam hati.
"Tidak usah repot-repot mas,aku sudah dijemput oleh Sekretaris Anggi." kata Afika.
"Ohya? Kapan kau tahu Sekretaris Anggi akan memjemputmu? Daritadi kau tidur tanpa bergerak sampai lenganku kram.." kata Dhimas.
"Apa? jadi aku tertidur di lenganmu?" kata Afika terkejut.
"Ya,makanya kau bisa senyenyak itu tidur di sofa" sahut Dhimas menyeringai.
Dokter Cathy nemperhatikan tingkah pola kedua anak muda di depannya. Sepertinya ada sesuatu diantara mereka. Tapi apa ya?? gumam Dokter Cathy dalam hati.
***
__ADS_1
Bersambung