Menikahi Calon Kakak Ipar

Menikahi Calon Kakak Ipar
Kakak Kecelakaan


__ADS_3

Setelah Me Time sejenak Afika pun lantas memakai baju dan turun ke lantai bawah untuk menemui orangtuanya.


"Ahh,,segar sekali setelah mandi. Rasanya aku sudah memiliki tulang kembali. Sebaiknya aku segera ke bawah menemui Ayah dan Ibu." kata Afika.


Sebelum ke bawah Afika menyempatkan diri ke kamar kakaknya yang tepat berada di samping kamarnya. Ini hari Minggu pasti kakaknya ada dirumah.


Afika pun mengetuk kamar Afina.


tok..tok..tok..


"Kaaakk,,ini aku Afika.. Aku sudah pulang,apa kau ada di dalam?" tanya Afika.


Namun ditunggu tidak ada jawaban. Afika pun masuk kamar kakaknya.


Afika memindai ruangan kakaknya yang sangat feminim. Wangi Floral dan nuansa Lavender mendominasi kamar Afina. Namun sang pemilik ruangan tidak ada di kamarnya.


"Ah,ternyata kakak tidak ada di kamar. Apakah mungkin hari Minggu ia tetap ke kantor? Mengapa ia membatalkan kepergiannya ke New York untuk menemuiku?" tanya Afika bingung.


Karena tak menemukan apa yang Ia cari,Afika pun lantas menuju lantai bawah.


Saat menuju lantai bawah Afika ke dapur terlebih dahulu untuk menuntaskan dahaganya. Lalu Ia pun bertemu Bik Darmi Asisten Rumah Tangga sekaligus pengasuh Afika sejak kecil.


"Bibik!! Apa kabar,aku rindu sekali pada bibik.." Afika langsung memeluk Bik Darmi.


"Alhamdulillah kabar bibik baik non.. Non Fika juga apa kabar,ya ampun tambah cantik aja deh." sahut bik Darmi.


"Bisa aja deh bik Darmi,oh iya apakah kakak hari ini pergi ke kantor? Tadi aku ke kamarnya tapi ia tidak ada." Tanya Afika.


"Non....." bik Darmi menggantungkan perkataannya.


"Ada apa bibiku sayang,coba ceritakan saja padaku." Afika sudah tahu pasti ada yang bibi ingin ceritakan padanya.


"Ah,tidak non. Bibik tak punya hak untuk membicarakan ini dengan nona. Biarkan Tuan sendiri yang bicara." jelas Bik Darmi.


"Aku semakin penasaran sebenarnya ada apa dengan keluarga ini,sepertinya ada yang disembunyikan dariku. Baiklah bik kalau gitu aku akan menemui ayah dan ibu. Oh iya dimana mereka?" tanya Afika.


"Tuan dan Nyonya sedang berada di ruang kerja Tuan Chandra,Nona." sahut bik Darmi.


"Ok aku akan segera kesana. Terima kasih bik." kata Afika sopan.


"Silahkan non.." kata bik Darmi.


Akhirnya Afika pun langsung menuju ruang kerja ayahnya,selain rindu Afika juga ingin segera mengetahui apa yang sedang keluarga ini sembunyikan darinya.


tok..tok..tok..


"Ayah,ini aku Afika. Apakah ayah ada di dalam?" tanya Afika.


"Masuk nak.." jawab Tuan Chandra.


Afika pun masuk dan matanya berbinar melihat kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Ayaahh,,Ibu,," teriak Afika sambil menahan tangis.


"Ayah,Ibu Afika rindu..." kata Afika sambil memeluk ayah dan ibunya yang sedang duduk di sofa ruang kerja ayahnya.


Nyonya Dewi memeluk anaknya dan menangis tersedu-sedu membuat Afika bertanya.


"Ibu,apa ibu baik-baik saja? Mengapa ibu menangis sedih ayah?" Afika bertanya kepada ayah dan ibunya bersamaan.


"Nak,sebenarnya ada hal yang harus ayah dan ibu ceritakan padamu tentang kakakmu Fina." jawab sang ayah.


"Ada apa dengan kakak yah?!!" tanya Afika menggebu-gebu.


"Kakakmu mengalami kecelakaan saat akan menemui calon suaminya,Dhimas." jelas sang ayah.


"Apa??!!!" teriak Afika,jantungnya berdetak tak karuan,kakinya lemas mendengar penuturan ayahnya.


"Tapi bukankah ia seharusnya pergi menemuiku,kenapa malah ke Amsterdam yah?" tanya Afika.


Adhimas Ardhiga calon suami kakaknya memang berada di Amsterdam sedang meminta izin kepada neneknya untuk menikah dengan Afina karena nenek dari ibu Dhimas keturunan Belanda,sedangkan ayahnya keturunan Ningrat Jawa.


"Iya nak,maksud kakakmu setelah dari Amsterdam ia dan calon suaminya akan segera menuju New York untuk menjemputmu,ayah dan ibu tidak bisa menjemputmu karena kami akan menemui klien di Jepang." jelas ayahnya.


"Lalu kronologis kecelakaannya seperti apa yah?" Afika mulai menangis tak bisa mengontrol dirinya.


"Saat pesawat lepas landas semuanya baik-baik saja,namun di setengah perjalanan pesawat kehilangan kendali karena cuaca yang tidak bersahabat. Lalu pesawat itu pun mengalami turbulensi dan terjatuh di perairan Laut Pasifik." lanjut Tuan Chandra.


"Sekretaris Wilham telah menemukan Afina dan saat ini mereka sedang dalam perjalanan ke Jakarta. Namun kondisi Afina sangat memprihatinkan,kepalanya terbentur karang kemungkinan ia akan mengalami amnesia,nak..." jelas Tuan Chandra sambil berusaha menahan tangis.


"Siapa yang kau katakan pria sial itu nak? Jaga bicaramu.." kata Tuan Chandra.


"Ya siapa lagi ayah kalau bukan Dhimas,karena menyusulnya kan kakak jadi mengalami kecelakaan!" jawab Afika.


"Afika cukup nak,jangan kau melimpahkan kemarahanmu pada Dhimas. Ini semua adalah takdir Tuhan,manusia tidak bisa mengelaknya.." Nyonya Dewi pun bersuara.


"Tapi ibu,ayah.. hiks.." Afika pun tak mampu lagi membendung air matanya.


"Sudah nak,sekarang kita hanya bisa berdoa semoga kakakmu sampai Jakarta dengan selamat. Anak buah ayah sudah menjemput Afina dan Wilham dengan helikopter." lanjut Nyonya Dewi.


"Baiklah bu..." Afika pun berhasil meredam emosinya.


"Oh iya nak selamat atas keberhasilanmu lulus dengan cepat dan cumlaude. Kami bangga padamu nak.." kata Tuan Chandra.


"Iya ayah,seharusnya malam ini aku mengadakan pesta kelulusan bersama kawanku.." kata Afika sedih.


"Nanti kan kita akan kembali lagi ke New York untuk graduation secara resmi sayang." kata Nyonya Dewi.


"Doakan kakakmu lekas sembuh kita akan bersama-sama merayakan kelulusanmu disana,kebetulan ayah sudah lama tak bertemu dengan Rektor Dimitri." kata Tuan Chandra


Tuan Chandra dan Rektor kampus Afika memang satu almamater saat mereka kuliah dulu.


Afika pun pamit ke kamar untuk menenangkan hati dan perasaannya yang sedang kacau.

__ADS_1


***


Afika menelungkup di atas kasur, air matanya terus menetes,hingga matanya terasa amat berat.


Lalu nada dering handphone berbunyi.


Itu adalah Devan.


'Mau apa lelaki brengsek ini meneleponku,bisa-bisanya dia tidur dengan wanita lain selagi aku tak bersamanya.' gumam Afika dalam hati.


"Mau apa dia meneleponku,hah malas sekali. Aku masih kesal denganmu bodoh!!" umpat Afika kepada handphonenya.


Namun Afika juga penasaran,dia ingin mendengar dari mulut pacarnya sendiri apa yang sebenarnya terjadi.


Lalu Devan mengubah teleponnya ke video call.


"Aku angkat sajalah." kata Afika.


"Sayang,apakah kamu sudah sampai ke Jakarta? Kenapa kau tak mengabariku,apa semudah itu kau melupakan lelaki tampan rasa jeruk ini?" kata Devan berusaha melawak.


"You! Go to the hell Devan Wijaya!!!" teriak Afika.


"Afika,kau kenapa sih? Kenapa kau tiba-tiba memarahiku seperti ini? Seharusnya aku yang memarahimu karena kau tak memberi kabar!" Devan memarahi Afika.


'Apa-apaan lelaki ini,bagus betul aktingnya. Jelas-jelas tadi dia sedang bersama wanita lain,bisa-bisanya membentak Afika Hadiwijaya!' kata Afika dalam hati dengan geram.


"Apa yang kau lakukan bersama Chelsea semalam?! Kau mencoba mengkhianatiku hah?!!" Afika mulai menginterogasinya.


"Apa yang kau katakan? Aku semalam ke rumah Brian dan kebetulan handphone ku tertinggal dirumahnya. Ini baru aku ambil handphone ku." Devan mencoba menjelaskan.


"Kau tahu,Chelsea mengatakan bahwa kau akan mandi bersama dengannya! Bagaimana aku tak marah padamu bodoh!!" Afika tersulut emosi dan menangis.


"Chelsea kurang ajar,dia memang kerumah Brian setelah aku pulang karena mereka ada bisnis home industri. Chelsea mengantarkan proposal kerumah Brian. Mungkin saat itu kau meneleponku." Devan mencoba menjelaskan.


"Jadi wanita brengsek itu mencoba membuat hubungan kita rusak?! Damn You,Chelsea!" teriak Afika.


"Calm down darl,what happened with you? Aku tahu kalau kamu uring-uringan begini pasti sedang ada masalah. Apakah ada yang terjadi dengan kakakmu atau perusahaanmu?" tanya Devan


Devan memang yang paling mengerti Afika.


Lalu dia pun menceritakan kejadian tersebut kepada Devan.


"Astaga,kau tunggu aku sayang. Malam ini aku akan bersiap ke Jakarta menemuimu. Aku tak bisa melihatmu sedih seorang diri." kata Devan menggombal.


"Baik sayang,aku tunggu.. Baiklah aku rasa case closed. Aku istirahat ya,mataku berat sekali rasanya." Afika mencoba undur diri dari Video Call itu.


"It's ok darling,my sunshine.. Tunggu aku di jakarta ya. Kau akan bertemu dengan lelaki tampan rasa jeruk nipis ini kembali hahaaa" Devan memang bisa saja membuat Afika tertawa.


"Hahahaa,jadi sekarang berubah menjadi rasa jeruk nipis... Asam sekali kamu.. Baiklah bye honey" Afika menyudahi video call tersebut dan langsung tertidur.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2