Menikahi Calon Kakak Ipar

Menikahi Calon Kakak Ipar
Surprise


__ADS_3

Setelah lelah berdebat akhirnya Afika pun kalah dengan Dhimas. Mau tidak mau Afika pulang bersama Dhimas.


"Oke baiklah ayo Mas silahkan antar aku pulang." kata Afika sambil mendengus kesal.


"Kenapa harus lelah berdebat dulu baru kau mau.." lanjut Dhimas.


"ehemm... dokter Cathy,ini laporan kesehatan nona Afina hari ini.. Syukurlah masa kritisnya telah lewat." kata dokter Indra.


Dokter Cathy pun mengecek kondisi Afina dan berkata kepada Dhimas dan Afika.


"Syukurlah,Afina telah melewati masa kritisnya.."


"Alhamdulillah kakak,ayo lawan terus kamu pasti bisa.." kata Afika yang lalu menghampiri tubuh kakaknya dan menyemangatinya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Baiklah ma,aku akan mengantarkan Afika sekalian kasih kabar gembira ini kepada om dan tante Hadiwijaya." kata Dhimas.


"Baiklah nak,mama juga akan memberitahukan papa akan hal ini." sahut dokter Cathy.


"Terima kasih dokter Indra,tante Cathy saya pamit pulang dulu." kata Afika.


Lalu mereka pun menuju parkiran mobil untuk pulang.


Dhimas memgemudikan mobil dengan kecepatan sedang,berharap waktu kebersamaan dengan Afika lebih lama.


"Ehem.. maaf Mas kenapa mobil ini jalannya lelet sekali ya. Apa kah memang seperti ini kondisi mobil di Indonesia?" tanya Afika menyindir.


"Oh iya ini sistem baru,namanya sistem kura-kura.. Lagi pula ada pepatah jawa yang bilang seperti ini Alon-Alon Asal Klakon... gitu nona cantik.." Dhimas mencoba menggoda Afika.


"Hilihh,, ada-ada aja deh.." gerutu Afika yang sebenarnya juga ada perasaan gembira bisa jalan berdua dengan Dhimas..


*Sesampainya di rumah keluarga Hadiwijaya*


Mobil SUV berwarna merah tersebut akhirnya memasuki halaman parkir kediaman keluarga Hadiwijaya,saking panjangnya jarak antara pagar dan pintu rumahnya,keluarga Hadiwijaya menyediakan mobil golf untuk keluarga atau tamunya saat ingin berkeliling di sekitar rumahnya.


"Sudah sampai nona cantik." kata Dhimas.


"Apa kau mau mampir dulu?" tanya Afika.


"ehem... yaaa jika kau memaksa apa boleh buat.." kata Dhimas yang memang ingin mampir karena ingin memberitahukan keadaan Afina kepada orangtuanya.


"Haduhhh,kenapa semenjak pulang ke Indonesia kau jadi penggombal Mas... Kayaknya dulu kamu gag gini dehh!!" gerutu Afika dengan tangan disedekapkan.


"Dulu?? Lagi ingat masa lalu yaa?? Hayo ngaku!!!" goda Dhimas.


"Mas Dhimas!!!!! Ihhh,,males ah.. Aku mau masuk,kamu mau ikut tidak!!" teriak Afika.

__ADS_1


"Mauuuuu!!!" teriak Dhimas.


Memang mereka kalau sedang berdua tidak pernah jaim,alias apa adanya.. Mungkin itu yang membuat mereka dulu memutuskan untuk menjalin hubungan.


Afika masuk namun tak nampak satupun orang dirumahnya.


"Ibu,,Ayah, Bik Darmi??" teriak Afika.


"Kemana yaa orang-orang di rumah,kenapa sepi sekali??" tanya Afika dalam hati


Afika merasa sangat haus lalu menuju ke dapur untuk minum.


"Haus sekali,kemana orang-orang?"


Tetoottt....


Suara terompet dan gliter memenuhi tubuhnya.


"Welcome Home Afikaaaaa....!!!"


Ternyata ini ulah sahabat Afika, Jessy dan Cicilia serta dibantu Sekretaris Anggi dan para asisten rumah tangganya,tak lupa Bibi Darmi.


"Ternyata sahabat kita semakin hari semakin bule saja ya,," kata Jessy


"hahhaaa kau pikir aku akan melupakan bahasa ibuku,,kalau melupakan kalian sih mungkin saja " kata Afika meledek mereka


"Fikaaaaaaa!!!" Teriak Jessy dan Chelsea


Afika pun berlari karena dikejar oleh mereka,sampai Ia menabrak Dhimas.


Brruukkkk..


"Ah,, maaf Mas heheee" Afika menyeringai.


Dhimas memeluk Afika dengan tidak sengaja namun setelah dia sadar akhirnya menjadi modus untuk menggoda Afika. Dengan memgangkat satu alis nya dia berkata..


"Baru saja semalam kau tidur di lenganku,sekarang sudah ingin bersandar di dadaku." kata Dhimas santai.


Mendengar hal tersebut Jessy dan Cicil saling berpandangan. Mereka tidak tahu tentang hubungan Afika,Dhimas dan Afina.


Jessy dan Cicil mengira Dhimas adalah pacar Afika.


"Hey,jadi ini cowok yang selalu kau ceritakan pada kami? Cowok aneka rasa buah??" Tanya Cicil yang ia kira bahwa Dhimas adalah Devan.


"Aahh,,bu-bukan.." kata Afika terbata-bata.

__ADS_1


"Wahhh tampan sekali ternyata Devan.." lanjut Jessy.


"Perkenalkan saya Dhimas." kata Dhimas dengan penekanan di kata Dhimas.


"Hahh??" Jessy dan Cicil menganga bersama.


"Yaaa,,Ini adalah Dhimas calon suami Kak Afina." jelas Afika.


"Dan dulu pernah menjadi pacar Afika juga." lanjut Dhimas.


Afika pun secara refleks menutup mulut Dhimas dengan kedua tangannya...


"Hey,apa yang kau lakukan?" kata Dhimas dengan susah payah berkata karena bibirnya tertutup tangan Afika.


"Aahhh,aku kok bingung yaa??" tanya Cicil.


"Guys nanti akan aku jelaskan,sekarang aku akan mengantarkan lelaki ini ke ruangan orangtuaku. Kalian tunggulah di kamar ya." Kata Afika yang masih saja menutupi bibir Dhimas.


"Ookey baiklah" kata jessy.


Akhirnya Jessy dan Cicil ke kamar Afika dengan membawa banyak sekali pertanyaan.


Afika membawa Dhimas ke pojok ruangan dan segera melepaskan tangannya dari bibir Dhimas.


"Apa yang kau katakan,apa kau memang sengaja ingin mengacaukan semuanya!" kata Afika dengan setengah berbisik.


"Mengacaukan apa??" tanya Dhimas pura-pura tidak tahu.


"Yang mereka tahu,kau adalah calon suami kakakku! Bagaimana aku bisa menjelaskannya kepada mereka,kacaulah semua nya!! " gerutu Afika.


"Mengapa tak kau ceritakan saja kisah kita kepada mereka,bahkan kepada orangtua kita juga.." jawab Dhimas santai.


"Apa maksudmu?" belum sempat Afika melanjutkan kata-katanya Dhimas segera membungkam bibir Afika dengan bibirnya.


Dhimas mencium bibir Afika,dalam semakin dalam. Afika pun tak kuasa menolak gejolak jiwanya yang sebenarnya merindukan Dhimas. Dhimas adalah cinta pertama Afika,Afika pun cinta oertama Dhimas. Ya begitulah cinta pertama memang susah dilupakan...


"Aku merindukanmu Gisele..." kata Dhimas di telinga Afika..


Dhimas berusaha membuka bibir Afika dengan menggigit pelan bibir Afika,setelah itu lidah mereka saling berpagut. Dhimas semakin mengeratkan pelukannya kepada Afika.


Namun,tak disangka sebuah pintu besar terbuka dan melihat ke arah mereka berdua. Dan dengan suara lantang orang itu berkata...


"Dhimas,Afika!!!! Apa-apaan kalian!!!"


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2