
"Gisele?"
"Pieter?"
"Apa yang kamu lakukan disini!" tanya Afika setengah berbisik.
"Apakah kau benar-benar Gisele?" tanya Dhimas.
"Ya,aku Gisele. What are you doing in here Pieter? Apakah kau teman kakakku?" tanya Afika.
"Apa?! A..Afina adalah kakakmu??" tanya Dhimas terbata.
Kring..Kring...
Bunyi ponsel Afika berbunyi,ternyata itu Devan.
Afika segera keluar dari ruangan.
"Hello my sunshine... How are you? Look,this is Virtual you honey!!" kata Devan sambil menunjukkan guling yang tertera foto dan namanya sebagai pengganti Afika merayakan kelulusan mereka di New York.
"That's so cute.... uuuhhh.. Are you enjoy the party darl?" tanya Afika.
"Actually not because you not here with me..." kata Devan memasang muka sedih.
"You're a bad liar dude! Aku tahu kamu pasti senang banyak cewek-cewek seksi disana kan,huh!" Afika kesal.
"hahaha... yang pasti ga se seksi kamu sayang. Oh ya besok aku akan pulang ke Jakarta. Tunggu aku ya!" kata Devan.
"Really? I'm happy to hear that!! Baiklah nanti kalau sudah sampai bandara kau bisa meneleponku,nanti akan aku jemput." jawab Afika gembira.
"Ok honey.. Aku mau gabung sama teman-teman ya.. Stay healthy baby,I miss you so badly muachh!" kata Devan.
"All right then.. See you and enjoy the party.. I Love you!" kata Afika.
"I love you too!" jawab Devan.
Setelah menutup telepon dari Devan,Afika pun segera masuk kembali ke ruangan Afina. Disana berdiri seorang lelaki gagah nan tampan yang terlihat sedang menunggunya.
__ADS_1
Ya itu adalah Dhimas,atau Pieter Van Damme.. Itu adalah nama pemberian nenek Belanda nya.
"Gisele... Bisakah kita bicara di luar?" tanya Dhimas.
"Ah,ya sure.." jawab Afika.
Dhimas mengajak Afika ke roof top agar mereka berdua bisa menghirup udara segar.
"Pieter,what happened?" tanya Afika.
"Apakah kamu adik dari Afina?" tanya Dhimas.
"Aaahh,ya Pieter. Afina adalah kakakku,dan namaku sebenarnya adalah Afika. Gisele itu hanyalah nama panggilan saat aku berada di New York." jelas Afika.
"Lalu ada hubungan apa kau dengan kakakku?" lanjut Afika.
"Aku adalah calon suaminya." jawab Dhimas berusaha setenang angin.
"Aaap..Apa?? Tidak mungkin,calon suami kakakku adalah Dhimas,Adhimas Ardhiga. Bukan kau Pieter!" bentak Afika.
"Namaku adalah Adhimas Ardhiga. Pieter Van Damme juga namaku. Karena dalam tatanan Jawa,anak mengikuti jalur ayahnya maka nama belakangku adalah Ardhiga. Namun,karena nenek sulit menyebut namaku sehingga ia memberiku sebuah nama yaitu Pieter Van Damme." jelas Dhimas.
"Apa maksudmu?" tanya Dhimas.
"Ya! Karena dia akan menyusulmu ke Amsterdam maka ia mengalami kecelakaan naas ini!" teriak Afika.
"Kamu tahu alasannya mengapa ia ingin menyusulku kesana?" tanya Dhimas.
"Mengapa?!" Afika menantang Dhimas.
"Karena dia sudah tahu tentang Gisele!" Dhimas berteriak.
Afika terperanjat,ia bergeming tak mampu berkata-kata.
Dhimas menghampiri Afika dan Ia ingin memegang pipi Afika namun tak jadi karena Dhimas meragu. Lalu melanjutkan perkataannya.
"Kamu tahu,betapa rapuhnya aku tanpamu Gisele..." ucap Dhimas lirih.
__ADS_1
"Pieter,aku..." Afika menggantungkan perkataannya.
"Kalau aku tahu kamu adalah anak dari Tuan Chandra Hadiwijaya,aku tidak akan menerima perjodohanku dengan kakakmu!" teriak Dhimas.
"Mengapa kau tak jujur padaku Gisele,maksudku Afika... Jika saja kau berkenalan denganku tanpa menutupi identitasmu pasti keadaannya tidak seperti ini.."
"Maafkan aku Dhimas,aku hanya ingin mendapatkan seseorang yang benar-benar tulus mencintaiku bukan karena latar belakang orangtuaku..." kata Afika lirih.
"Lagipula kau juga tak memberitahuku dengan siapa kau dijodohkan. Ya pasti kau terpincut dengan kecantikan kakakku pulalah maka kau bisa dengan mudah menerimanya.." lanjut Afika.
"Ya,aku akui bahwa Afina seorang wanita independent,dia cantik,mandiri,menjadi leader di perusahaan besar.. Namun sampai sekarang aku belum bisa sepenuhnya mencintainya.." kata Dhimas.
"Lalu bagaimana kakak tahu tentang Gisele dan apa yang akan ia perbuat?" tanya Afika.
"Ya menjelang tanggal pernikahan kami,aku menceritakan semuanya kepada Afina. Dengan maksud aku ingin dia tahu perasaanku yang sebenarnya,dan akan mulai berusaha mencintainya." jelas Dhimas.
"Aku berkata bahwa sebenarnya sampai saat ini aku masih belum bisa melupakan kekasihku,yaitu Gisele. Namun karena perjodohan ini aku terpaksa menerimanya. Lalu Afina berusaha mencari tahu siapa Gisele." lanjut Dhimas.
"Berarti apakah dia mengetahui bahwa Gisele itu adalah aku?" tanya Afika.
"I don't know yet. Karena ia hanya berkata bahwa Ia telah mengetahui identitas Gisele dan ingin membawaku menemui gadis itu."
"Namun aku berkata kisah itu telah usai dan sekarang aku akan belajar mencintainya. Bukti keseriusanku adalah aku sedang meminta restu nenek di Belanda sekaligus mengundang sanak saudaraku disana untuk menghadiri pernikahan kami yang akan berlangsung bulan depan." jelas Dhimas.
'Apakah itu alasannya mengapa ia bersikeras ke Belanda setelah itu baru menjemputku ke New York?' gumam Afika dalam hati.
Afika terdiam tak mampu berkata-kata.
"Sesaat sebelum dia terbang,Afina mengirimiku SMS katanya jika aku lebih bahagia dengan Gisele dia rela melepaskanku." kata Dhimas.
"Dhimas,sepertinya kakakku sudah mengetahui bahwa Gisele adalah adiknya. Makanya dia berusaha menemuimu ke Belanda,karena planningnya setelah itu baru kalian akan menjemputku. Itu yang aku dengar dari ayah." kata Afika.
Dhimas dan Afika terdiam.
Mereka sama-sama kembali ke pikiran tentang pertemuan mereka 2 tahun lalu.
***
__ADS_1
Bersambung