
Setelah insiden teriak meneriak di dalam mobil akhirnya sampailah mereka di rumah Afika.
"Afika kita langsung pulang ya,sudah sore. Lagian gue juga harus nganterin nona bawel ini kerumahnya!" kata Cicil.
"Enak aja nona bawel! Nona cantik!" protes Jessy.
"Oke terima kasih yaa,,hati-hati kalian! Bye!" pamit Afika.
"Bye Fika!!" teriak Jessy dan Cicil.
Mereka pun pulang kerumah.
Sementara itu Afika berjalan lemas ke dalam kamarnya. Dan segera menuju kamar mandi untuk merefresh tubuh dan juga otaknya.
Dibawah guyuran shower ia pun berpikir apa yang harus ia lakukan. Apakah ia harus mengikuti keinginan ayahnya atau mempertahankan hubungannya saat ini? Siapa yang hatinya pilih,Dhimas atau Devan..
Setelah selesai mandi Afika menuju walk in closet untuk memilih baju yang akan ia kenakan. Ia mengenakan pakaian santainya dan menuju ke dapur untuk mengambil makanan.
Sesampainya di dapur Afika bertemu dengan Sekretaris Anggi yang sedang mengecek makan malam untuk keluarga Hadiwijaya tersebut.
"Nona Afika." sapa Anggi.
"Hai Nggi,gimana apa ada masalah di makanan kita?" tanya Afika.
"Tidak ada Nona."
"Anggi setelah makan malam pergilah ke kamarku,aku ingin berbincang denganmu." kata Afika.
"Baik Nona,segera saya akan ke kamar setelah selesai makan malam." jawab Anggi.
Afika dan Anggi memang sahabat sejak kecil bahkan boleh dibilang mereka seperti anak kembar,karena mereka memang tumbuh bersama sejak ayah Anggi,Sekretaris Wilham menjadi tangan kanan keluarga Hadiwijaya.
Tak lama kemudian Tuan Chandra pulang dari rumah sakit,setelah bersih-bersih ia langsung menemui istri dan anaknya di meja makan untuk makan malam bersama.
Nyonya Dewi mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya. Setelah itu ia langsung melayani anak bungsunya,menyendokkan nasi dan lauk ke piring Afika.
"Afika,besok pagi ikut Ayah ke kantor. Mulai besok kamu harus belajar mengenai perusahaan dengan Sekretaris Wilham." kata Ayah Chandra.
"Baik Ayah." jawab Afika.
"Bagaimana keadaan Afina sayang? Hari ini aku ada meeting jadi tidak bisa ke rumah sakit." kata Ibu Dewi.
"Kondisinya sudah stabil,namun fungsi otaknya masih belum membaik. Kita berdoa saja agar Afina segera sadar." jawab Ayah Chandra.
"Lalu bagaimana dengan acara pernikahan Afina dan Dhimas sayang? Waktu nya kurang dari 3 minggu lagi." tanya Ibu Dewi.
"Oh ya maaf sayang aku belum memberitahumu. Pernikahan tersebut akan tetap dilaksanakan."
__ADS_1
"Bagaimana bisa dengan kondisi Afina saat ini?"
"Bisa, bukan dengan Afina. Tapi,Afika." jelas Ayah Chandra.
Ibu Dewi membanting sendok dan garpunya karena kaget.
"Apa kau tidak salah ucap suamiku?"
"Ya,tentu tidak. Kalau kau tidak percaya tanyakan saja kepada Afika."
"Apakah betul dengan yang Ayah katakan nak? Tapi apa kau menyetujuinya?" tanya Ibu Dewi.
"Aaa... ya Bu,tadi Ayah memang sudah mengatakannya kepadaku."
"Apa kamu yakin nak dengan keputusan ini?" tanya Ibu.
Afika hanya mengangguk. Namun Nyonya Dewi melihat ada sedikit keraguan di mata Afika. Sebagai seorang ibu beliau bisa melihatnya dengan jelas.
Setelah selesai makan Afika kembali ke kamar,menunggu Anggi karena mereka sudah janjian untuk berbincang setelah makan malam. Saat Afika sudah berada di kamar terdengar suara ketukan pintu.
Tok..Tok..Tok..
"Anggi kau kah itu? Masuklah!" teriak Afika.
Tak lama orang itu pun masuk,ternyata itu adalah Nyonya Dewi bukan Anggi.
"Lalu apakah kamu kecewa bila ternyata yang datang adalah ibu?"
"Hahahaa tentu tidak,aku malah senang ibu ke kamarku."
Semenjak Afika pulang dari New York,ia memang belum sempat bercengkerama dengan orangtua nya secara intens terlebih ibunya. Karena mereka repot dengan kondisi Afina.
Ibunya pun duduk di samping Afika diatas tempat tidurnya.
"Nak,tadi ayah sudah cerita semuanya. Namun ibu melihat ada raut kebingungan di wajahmu. Apa kau benar-benar menerima pernikahan ini?" tanya Ibu.
"Bu,di satu sisi Dhimas memang mantan kekasihku yang sangat aku cintai. Namun,sekarang aku juga sedang menjalin hubungan dengan seseorang."
"Oh ya? Siapa itu nak?"
"Pacarku adalah Devan,Devan Wijaya. Penerus tunggal Hotel Astrawijaya." jelas Afika.
"Apa? Jadi pacarmu adalah Devan Wijaya?" tanya ibu kaget.
"Ya ibu,mm.. kenapa bu? Sepertinya ibu kaget mendengar namanya?" tanya Afika.
"Apakah ayahmu sudah tahu mengenai Devan?"
__ADS_1
"Belum bu,aku belum menceritakannya kepada ayah."
"Sayang,sejak duduk di bangku kuliah ayahmu dan ayah Devan,Tuan Arya selalu berkompetisi. Hingga ibu pun diperebutkan oleh mereka. Dan sampai saat ini mereka pun menjadi kompetitor di bidang property. Maka sudah dipastikan ayah tidak akan menyetujui hubunganmu dengan Devan Wijaya." jelas ibunya.
Afika menghela napasnya berat,ia bingung sedih tak tahu harus bagaimana.
"Bagaimana bu, di lain sisi aku sedang menjalin hubungan dengan Devan selama setahun ini. Bagaimana aku harus menjelaskannya, Ini tidak adil baginya.." Afika mulai terisak.
Ibu segera memeluk anaknya dan mengelus rambut dan punggungnya dengan lembut.
"Sabar nak,semua pasti ada jalan keluarnya. Sekarang kamu pikirkan saja dulu siapa yang memang benar-benar kamu cintai. Dhimas atau Devan.. Karena pernikahan adalah sekali seumur hidup,ibu tidak ingin jika kamu tidak bahagia dengan pilihanmu nak.." kata ibu.
Afika pun menangis dipelukan ibunya hingga tak sadar ia tertidur di pelukan sang ibu. Anggi yang memang akan masuk ke kamar Afika mengurungkan niatnya karena melihat nona mudanya sudah tertidur.
***
Keesokan harinya Afika bangun lebih pagi dari biasanya karena hari ini adalah hari pertamanya ia ke kantor. Untuk mempelajari sistem kerja di perusahaan ayahnya demi menggantikan posisi Direktur menggantikan Afina.
Afika menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan segera bersiap dengan stelan kantornya. Kemeja putih dan rok hitam selutut dipadu dengan blazer motif bunga juga high heels 3cm berwarna khaki. Karena tubuhnya yang tinggi 170cm membuatnya menggunakan high heels yang tidak terlalu tinggi. Tak lupa rambut coklat bergelombangnya disisir rapi dan dibiarkan saja tanpa diikat.
Kring.. Kring...
Bunyi telepon Afika dari Devan..
"Hallo my sunshine apakah sudah bangun?" tanya Devan.
"Honey,aku sudah bangun dan juga sudah rapi." jawab Afika.
"Loh mau kemana pagi ini sayang? Aku video call ya.." Lalu Devan beralih ke video call.
"Wahh cantik sekali kamu sayang,coba aku lihat roknya? Ck,kurang pendek sayang,kurang sexy itu hahaha.." ledek Devan.
"Ckk,,kamu pikir aku cheerleader pake rok mini!"
"Just Kidding baby,apa hari ini kau mulai bekerja di perusahaan?
"No,aku baru belajar sayang. Sekalian perkenalan kepada para pemegang saham."
"Baiklah kalau begitu good luck honey. Kabari kalau sedang senggang ya!" ucap Devan lalu mengakhiri panggilannnya.
'Tumben sekali ia buru-buru mematikan telepon biasanya merengek manja dulu baru dimatikan.' gumam Afika dalam hati.
Setelah itu Afika pun turun ke lantai bawah untuk sarapan dan berangkat ke kantor.
***
Bersambung
__ADS_1