Menikahi Calon Kakak Ipar

Menikahi Calon Kakak Ipar
Menemui Mantan Kekasih


__ADS_3

Hallo readers tersayang,episode ini cukup rumit karena ada flashback yang on off jadi disarankan untuk membaca episode sebelumnya ya....


Enjoy!!!


***


Lanjutan episode sebelumnya....


#Rewind 10 Jam Yang Lalu#


Setelah menyelesaikan sarapan Devan dan Chelsea bersiap menuju Hwang Tailor,butik tempat Afika dan Dhimas membuat baju pengantin. Selama perjalanan Devan terus memikirkan apa yang dikatakan Chelsea tentang malam yang telah mereka habiskan bersama, sehingga menyebabkan Chelsea mengandung anaknya. Ia mengurut waktu dimulai saat ia selesai mengantar Afika ke bandara. Setelah itu ia ke rumah Brian untuk membahas proposal yang akan mereka buat untuk projek terbarunya. Devan dan Brian berencana untuk membuat coffee shop di Chicago. Mengapa mereka memilih Chicago untuk projek tersebut,karena Chicago merupakan kota besar pusat berkumpulnya anak muda Amerika. Dan Devan memilih lokasi di Rush Street yang selalu aktif hingga pukul 4 pagi.Selain itu,Chicago juga terkenal sering mengadakan  festival-festival unik yang rutin diadakan pada saat musim panas tiba,sehingga mereka memutuskan untuk membangun coffee shop yang bercita rasa Indonesia sekaligus mengenalkan produk kopi lokal ke mancanegara.



The Bean/Cloud Gate,Landmark kota Chicago


sourch for Google


Kembali ke pemikiran Devan,setelah selesai membahas projek tersebut,Chelsea datang berkunjung kerumah Brian. Devan,Brian dan Chelsea merupakan satu jurusan dan juga mereka tergabung dalam Club House anak konglomerat. Jadi tak heran terkadang mereka bagaikan perangko yang selalu menempel. Afika juga tergabung dalam Club House tersebut namun karena beda jurusan jadi mereka bertemu hanya saat-saat tertentu saja.


Saat Devan berdiskusi dengan Brian datanglah Chelsea dengan membawa makanan ringan dan kopi untuk mereka berdua. Devan meminum kopi pemberian Chelsea. Setelah itu Devan tidak bisa mengingatnya ,terakhir yang ia ingat adalah dirinya terbangun dari tidur namun berada di kamar pribadinya bukan dirumah Brian.


Karena otaknya terlalu berpikir keras untuk mengingat kejadian lampau tersebut Devan merasa kepalanya sangat sakit tak tertahankan.


"Argghhh kepalaku..." Seketika Devan hilang kendali.


"Devan,watch out!!!!" teriak Chelsea


Ciiittttt,,,,,,,


Bunyi ban mobil Devan berbunyi setelah melakukan pengereman mendadak.


"Hah...hah......" Devan shock dengan napas yang tersengal-sengal.


"Dev,are you OK?' tanya Chelsea dengan tangannya mengelus kepala Devan lembut.


"Don't touch my head!" Devan tiba-tiba tersulut emosi karena ia tidak berhasil mengingat apapun setelah ia meminum kopi pemberian Chelsea.


Chelsea tidak berani mengatakan apapun karena ia takut Devan semakin marah dan meninggalkannya di pinggir jalan. Namun ia lebih takut lagi jika Devan membatalkan Fitting baju pengantinnya di Hwang Tailor.


Devan pun melanjutkan perjalanannya setelah agak tenang. Setelah lima belas menit berlalu sampailah mereka di Hwang Tailor.


(Cerita selanjutnya berkaitan dengan episode 24 : TRAGEDI DI FIXXING ROOM )


#REWIND OFF


***


Kembali ke realita. Devan masih tak habis pikir kenapa ayahnya sangat membenci Tuan Chandra Hadiwijaya sehingga melakukan segala cara untuk menghancurkan perusahaan dan keluarganya. Lalu apakah benar Dhimas bekerja sama dengan ayahnya. Ia pun bergegas menghubungi anak buahnya untuk menyelidiki semua ini.


"Hallo Mirza,ada tugas penting. Tolong cari tahu mengenai masa lalu hubungan papaku dan Tuan Chandra Hadiwijaya. Dan selidiki Dhimas Ardhiga juga saya curiga dia bekerja sama dengan papa untuk menghancurkan keluarga Hadiwijaya." Devan menelepon sekretaris pribadi yang merangkap sebagai mata-matanya.


"Baik pak akan saya selidiki." jawab Mirza lalu menutup teleponnya.

__ADS_1


"Hahh... kemarin disuruh selidiki Chelsea sekarang nambah lagi... Yang mana yang harus dikerjain duluan ya? hmmm nasib-nasib ... " keluh Mirza karena belum selesai ia menyelidiki kasus satu sudah muncul kasus berikutnya.


Setelah menelepon, Devan mengecek ponselnya apakah ada pesan dari Afika. Karena besok Devan berencana untuk bertemu dengan Afika ingin menceritakan segala hal tentang keluarganya termasuk kehamilan Chelsea dan keterlibatan Dhimas dengan Arya Astrawijaya. Namun Afika berkata bahwa untuk waktu dan tempat akan ditentukan olehnya.


"Ck.. kenapa dia belum menghubungiku. Kalau begitu aku mandi dulu sajalah." Devan bergegas ke kamar mandi. Namun ponselnya berdering ternyata mamanya menelepon.


"Hallo mom"


"Hallo Devan,kamu dimana nak?"


"Aku di Hotel. Why?"


"Chelsea nangis dan bilang tadi kamu bentak dia di Hwang Tailor apakah benar?"


"Ya."


"Ya ampun sayang Chelsea kan sedang mengandung, kalau terjadi apa-apa sama calon cucu mama gimana?! Trus kan mama tadi bilang langsung ke dokter Dirham,dokter obgyn mama itu loh yang bantuin kamu sama adikmu lahiran kenapa ga langsung kesana tadi ha?" cerocos mama Julia.


Devan menjauhkan ponsel dari telinganya,sepertinya setelah ini ia harus segera mengatur jadwal ke dokter THT.


"Sudah mam? Sekarang giliran Devan yang ngomong ya. Ia memang tadi Devan bentak Chelsea karena dia udah bikin malu aku dan keluarga Astrawijaya!"


"Apa sih maksud kamu?"


"Tadi itu kita ketemu sama Tante Dewi ibunya Afika,yang ternyata beliau adalah ketua Sosialita Indonesia. Dan asal mama tahu Chelsea berhutang berlian senilai 1M dan ditagih depan umum lalu dia bercerita kalau dirinya sedang hamil! Wajar kan kalau aku kesal sama dia?" kata Devan.


"Apa? ditagih di depan umum? Kurang ajar si Dewi itu ya bisa-bisanya mempermalukan anakku dan calon mantuku. Awas aja dia!" kata mama Julia geram.


"Mom! Kok jadi marah sama tante Dewi. Yang seharusnya mama marahin tuh Chelsea bikin malu aja! Soalnya katanya Chelsea sudah dihubungi berkali-kali tapi ga di respon ya wajar kalo tante Dewi nagih depan umum!" Devan sangat kesal dengan Chelsea yang selalu playing victim.


Tut..Tut..Tut..


Mama Julia mematikan ponselnya.


Devan dengan geram membanting handphone nya ke kasur lalu bergegas ke kamar mandi untuk menyegarkan badan dan juga pikirannya.


***


Setelah menempuh 3 jam perjalanan dari Bandung menuju Jakarta akhirnya Dhimas dan Afika sampai ke tempat tujuan,yaitu kediaman Tuan Chandra Hadiwijaya.


Setelah Dhimas memgaktifkan rem tangan dan mematikan mobilnya ia berniat untuk membangunkan Afika yang tertidur lelap.


"Afika..Afika..bangun sayang kita sudah sampai."


Dhimas berusaha membangunkannya namun sia-sia karena Afika tak kunjung bangun.


Dhimas ingat saat Afika berkata bahwa Devan ingin menemuinya esok dan akan menceritakan semua hal tentang keluarganya. Dilihatnya ponsel Afika terjatuh di kakinya,mungkin tak sengaja terlepas saat ketiduran.


Dhimas mengambil ponsel itu dan membuat sebuah rencana. Ia mencoba membuka layar kunci ponsel Afika dengan mendekatkannya ke wajah Afika.


Klik..


Bunyi layar ponsel Afika yang terbuka.

__ADS_1


Dengan segera Dhimas mencari kontak Devan di Last Call dan terlihat bahwa kontak tersebut bernama 'My Lemonade'


"Cih menjijikan sekali" batin Dhimas.


Dengan secepat kilat Dhimas mengetik pesan kepada Devan. Setelah pesan terkirim Dhimas segera menghapus pesan tersebut agar tak diketahui oleh Afika dan segera meletakkan ponsel ke tangan Afika dan membangunkannya.


"Afika..sayang bangun sudah satu jam aku menunggumu bangun." jelas saja dia berbohong.


"Hmmm.... Mas.. kita dimana?" Afika merenggangkan tubuhnya.


"Home Sweet Home.. Kita sudah sampai dirumahmu."


"Maaf ya mas aku ngantuk sekali. Terima kasih hari ini. " kata Afika dengan wajah setengah mengantuk.


Dhimas yang tak tahan melihat wajah gemas Afika lalu menyusupkan jemarinya ke leher jenjang Afika sembari jarinya mengelus pipi Afika yang kemerahan.


"Kamu gemas sekali. Sebelum pulang bolehkan aku meminta semangat darimu?" ucap Dhimas.


"Semangat?" kata Afika lugu. Dhimas langsung menarik leher Afika mendekat dan langsung mencium bibirnya dengan lembut namun sangat berg4irah. Lidah Dhimas berusaha memasuki celah bibir ranum Afika dan bermain-main disana. Afika yang tidak siap hanya bisa menahan napas dan degup jantungnya berlari begitu cepat. Kaget namun sangat menikmati kelembutan yang diberikan Dhimas malam itu.


Ciuman Dhimas turun ke leher jenjang Afika yang putih bersih.


"S..sayang please." ucap Afika menyadarkan Dhimas yang semakin panas dan lebih.


Baru saja tangan Dhimas akan turun ke da..da Afika mendorong Dhimas menjauh.


"Mas... no.." ucap Afika.


"I want You.." ucap Dhimas lirih dengan muka memerah.


"Kita belum menikah."


Tanpa aba-aba Dhimas membuka kemeja Afika yang sudah terbuka 3 kancing dan menunjukkan tanda merah yang ditinggalkan Devan.


"Aku sudah melihat tanda itu saat di Hwang Tailor."


Afika kaget setengah mati bahwa Dhimas mengetahui apa yang sudah ia lakukan dengan Devan di Fixing Room.


"Mas.. aku ..." kata Afika terbata.


"Masuk dan beristirahatlah. Aku akan meminta padamu besok. Aku calon suamimu dan lebih berhak daripada dia." Dhimas pun keluar dan membukakan pintu mobil untuk Afika.


"Aku masuk ya. " ucap Afika canggung.


"ya. aku pulang ya. salam untuk ayah dan ibu."


"iya Mas hati-hati..."


Dhimas pun berlalu dan Afika segera memasuki rumahnya.


"Aku tak tahan melihat tanda itu di dadanya. Apa yang sudah mereka lakukan di belakangku. Kurang ajar kau Devan Wijaya beraninya menyentuh calon istriku!" Dhimas mengemudi bagai orang kesetanan. Ternyata dia sedang terbakar api cemburu juga api cinta yang belum tuntas.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2