Menikahi Calon Kakak Ipar

Menikahi Calon Kakak Ipar
Broken Heart


__ADS_3

Afika membersihkan bibirnya,ia jijik pada dirinya sendiri karena membiarkan Devan menjamah tubuhnya. Meskipun keperawanannya masih utuh namun bagian atasnya sudah tersentuh Devan. Tak bisa dipungkiri 2 tahun menjalin kasih dan hubungan mereka selama ini baik-baik saja wajar jika Afika masih memiliki rasa cinta meski dibalik kenyataan kekasihnya itu ternyata telah mengkhianati dirinya. Tapi meskipun begitu sebenarnya status mereka adalah Seri,karena Afika juga nyatanya akan menikah dengan orang lain.


"Anggap saja ini adalah perpisahan terakhirku dengannya sebagai kekasih." kata Afika.


Kring. Kring..


Ponsel Afika berdering.


My Mom is Calling...


"Hallo bu."


"Kamu masih di Fixing room nak? Tuxedo Devan ada masalah sedikit,jadi ibu disini membantunya. Kau tak apa kan sendiri disana?"


"Tidak apa Bu."


"Kalau sudah selesai Ibu dan Dhimas akan menyusulmu."


"Baiklah.."


"Bye sweety."


"Bye mom."


Afika menutup teleponnya.


Tak lama Mr.Hwang kembali dengan timnya dengan membawakan gaun yang telah diperbaikinya. Lalu Afika mencobanya dan sangat pas sekali di tubuhnya.


"Perfect." kata Mr.Hwang.


"Tuan Dhimas beruntung memiliki Anda Nona." lanjutnya.


"Anda berlebihan sekali Mr.Hwang. Tapi ini memang sangat bagus. Terima kasih." kata Afika.


"Tuxedo Tuan Dhimas sedikit problem di bagian kancing tadi. Tapi sudah diperbaiki oleh tim kami."


"Terima kasih Mr.Hwang. Hm.. Mr.Hwang apakah Devan dan Chelsea masih diruang sebelah?"


"Oh masih Nona,karena ternyata Nona Chelsea sedang mengandung jadi kami harus memperbaiki bagian perutnya agar memberi kenyamanan bagi ibu dan janinnya."


Afika tercengang mendengarnya. Apa ia tadi tak salah dengar,Chelsea sedang hamil katanya.


Lamunan Afika terbuyarkan dengan kedatangan Ibu dan Dhimas ke ruangannya.


"Mr.Hwang bagimana gaun Afika apakah sudah diperbaiki?" Ibu Dewi dan Dhimas datang ke ruangan Afika.


"Nyonya Hadiwijaya,Perfecto. And as you can see Mr.Dhimas you are so lucky to have her." kata Mr.Hwang memuji Afika didepan Dhimas dan ibunya.


Dhimas mendekati Afika memperhatikan bagian dadanya yang agak memerah dan berkata.


"Aku sudah tidak sabar ingin menikahinya." sambil menatap dengan tatapan penuh tanya apa yang terjadi kepada Afika. Afika tak berani menatap mata Dhimas.


"Baiklah kalau gitu Mr.Hwang gaun Afika,Tuxedo Dhimas serta seragam keluarga sudah Ok ya. Tolong dikirim H-2 ke rumahku." kata Ibu Dewi.


"Baik Nyonya segera kami kirim H-2."

__ADS_1


"Terima kasih Mr.Hwang." kata mereka bertiga.


Afika berganti baju dan mereka pun keluar dari Fixing Room. Kebetulan saat mereka keluar berpapasan dengan Devan dan Chelsea yang juga sudah selesai.


"Tuan Devan?" tanya Dhimas yang sudah tak heran melihat mereka berdua.


"Tuan Dhimas. Kebetulan sekali kita bertemu disini." kata Devan.


Devan berusaha melepaskan pegangan tangan Chelsea.


"Anda Nona Chelsea kan?" tanya Ibu Dewi.


"Ya,maaf Anda siapa ya?" tanya Chelsea dengan sombongnya.


"Astaga Anda masih muda namun sudah mempunyai penyakit lupa. Saya Dewi Hadiwijaya Ketua Sosialita Indonesia. Mengapa Anda terus menghindari kami? Anda belum membayar arisan berlian senilai satu Milyar. Apakah Anda melupakan hal itu juga?" kata Ibu Dewi.


'Ternyata dia adalah ibunya Afika? Matilah aku.' gumam Chelsea dalam hati.


Ternyata Chelsea dan ibunya mengikuti arisan berlian bersama dengan komunitas sosialita Indonesia. Berlian sudah ditangan tetapi dia enggan membayar arisan selanjutnya.


Chelsea merasa malu kikuk dan takut pada Devan.


"Ibu Dewi yang terhormat Anda seharusnya tahu tempat kapan Anda menagih sesuatu dengan sopan. Apakah Anda berniat mempermalukanku di depan calon suamiku?" kata Chelsea.


"Maaf Nona Chelsea yang tercinta. Menurutku ini adalah waktu yang tepat karena Anda susah sekali dihubungi. Saya sarankan agar Anda lekas membayarnya atau akan saya laporkan atas tindakan penipuan!" kata Ibu Dewi.


"Anda tenang saja,Anda tidak tahu siapa calon suamiku? Dia adalah Devan Wijaya pewaris tunggal Hotel Astrawijaya! Dan sekarang aku juga sedang mengandung anaknya. Seharusnya anak Anda juga mengenal siapa aku dan calon suamiku." kata Chelsea dengan wajah antagonisnya dengan sengaja agar Afika merasa cemburu.


"Chelsea apa-apaan kau?!" bentak Devan.


Devan menatap geram ke arah Chelsea sambil meremas lengannya.


Chelsea kemudian diam dan mencoba untuk menahan airmatanya yang akan keluar. Devan kesal karena Chelsea telah mempermalukan dirinya dan keluarganya di depan keluarga Hadiwijaya dan Dhimas dengan menunggak pembayaran arisan juga membuka aib bahwa ia sedang hamil. Devan yang berencana akan menceritakan langsung kejadian yang menimpa dirinya kepada Afika lantas menjadi kesal dengan ulah Chelsea.


"Maaf Nyonya Dewi. Untuk pembayaran arisan akan saya tuntaskan tapi tidak hari ini. Maaf kami permisi dulu." kata Devan dengan menahan malu dan menarik paksa tangan Chelsea.


Afika dan Dhimas hanya diam melihat aksi didepan mereka. Afika kaget karena Devan yang humoris dan lembut jika didekatnya berubah menjadi galak saat bersama Chelsea. Baru kali ini ia melihat Devan seperti itu.


"Nak,kau tak apa-apa kan?" tanya Ibu Dewi.


"Aku tak apa." jawab Afika datar.


Ibu Dewi sudah tahu bahwa Devan Wijaya adalah pacar Afika saat di New York.


"Kau tak perlu lagi merasa bersalah kepada Devan karena kau akan menikahi Dhimas. Dia pun sudah memiliki kekasih dan menghamilinya. Sudah jelas siapa yang berkhianat disini." ujar Ibu Dewi kesal karena ia menganggap Devan yang lebih dulu mengkhianati anaknya dengan menghamili orang lain.


"Apa kita bisa meninggalkan tempat ini sekarang?" kata Afika yang sedang mengalihkan pembicaraan. Hatinya benar-benar hancur orang yang ia cintai ternyata menghamili wanita yang ia benci.


Afika berbalik meninggalkan ibunya dan Dhimas dengan berjalan lebih dulu.


"Afika kita makan siang dulu di Experial Kitchen,ayahmu juga akan makan siang disana." kata Ibu Dewi.


"Aku tidak lapar,aku akan segera kembali ke kantor. Anggi kita langsung ke kantor ." kata Afika.


Afika tetap berjalan tanpa menoleh.

__ADS_1


"Afika biar saya yang mengurusnya tante." kata Dhimas.


"Baiklah,kau jaga dia pasti hatinya sedang kacau sekarang. Pastikan dia makan siang ya Dhim."


"Baik tante."


Dhimas mengejar Afika.


"Afika..Afika..." Dhimas memanggil Afika namun dia tetap berjalan tak mendengarkan.


Lalu Dhimas menarik tangan Afika agar berhenti,ditatapnya mata Afika yang memerah dan mungkin sebentar lagi akan turun hujan airmata.


"Aku tidak mau makan,aku ingin segera kembali ke kantor setelah ini ada meeting dengan direksi kan?" kata Afika dengan menolak memandang mata Dhimas.


"Baik kita ke kantor tapi kau naik mobilku ya. Anggi kau ke kantor saja dengan mobil Afika. Biar Afika bersama denganku." kata Dhimas kepada Sekretaris Anggi.


Anggi yang mengerti situasi langsung mengiyakan.


"Baik Tuan Dhimas."


Afika dan Dhimas masuk ke dalam mobil.


Dhimas tanpa bertanya langsung tancap gas menuju tempat yang sejuk dan menenangkan.


"Mas,kita mau kemana ini bukan arah kantor." Afika bertanya namun Dhimas tetap saja tak bergeming.


"Mas.." panggil Afika kembali namun Dhimas tetap fokus kepada kemudinya malah menaikkan speed mobilnya.


"Adhimas Ardhiga!" teriak Afika membuat Dhimas mengerem mendadak dan mengakibatkan ban mobilnya berdecit.


"Apa yang kau lakukan? Kau mau membunuhku?" teriak Afika sambil menangis,air matanya mengalir deras.


"Kenapa kau selalu berpura-pura kuat Afika? Apa ada yang salah jika kau menangis?" kata Dhimas.


"Aku tahu pasti kamu sakit hati melihat mereka,menangislah hal yang sangat wajar jika hatimu sakit. Maafkan aku karena pernah menyakitimu juga dengan menerima perjodohan dengan Afina." Dhimas merasa bersalah karena pernah berada di posisi Devan. Jadi Afika telah hampir ditinggal menikah 2 kali oleh kekasihnya.


Afika menangis lebih keras ia mengeluarkan semua perasaannya di dalam tangisannya itu hingga terisak.


"Selama ini aku dikhianati olehnya Mas,dengan wanita yang sangat kubenci. Yang selalu berusaha menghancurkan hubunganku dengan Devan. Dan sekarang Devan menerimanya sebagai calon istrinya." kata Afika sambil terisak.


Dhimas yang tak tega melihat calon istrinya menangis akhirnya menenangkan Afika dengan memeluknya.


"Menangislah bila itu membuat hatimu lega. Aku akan membawamu ke tempat yang tenang. Untuk rapat akan ku serahkan kepada Sekretaris Wilham. Kau tenangkan saja pikiranmu dulu."


Dhimas kemudian menelepon Sekretaris Wilham.


"Hallo Pak Wilham bisa tolong wakilkan Afika dalam rapat direksi siang ini? Baik terima kasih Pak Wilham."


Dhimas menutup teleponnya.


"Kenakan seatbeltmu dengan kencang. Karena kita akan bersenang-senang hari ini." kata Dhimas.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2