
Tak lama pesanan Afika dan Dhimas pun datang. Ayam Betutu khas Bali favorit Afika. Dari aromanya saja sudah mampu membuat nafsu makan Afika meningkat,ditambah memang dia telat makan siang.
"Silahkan pesanannya pak,bu.." kata Waitres.
"Terima kasih" kata Afika dan Dhimas.
"Ayam Betutu ini adalah menu utama dan best seller di sini sayang." kata Dhimas.
"Uhukk......" tiba-tiba saja Afika terbatuk mendengar kata terakhir yang diucapkan Dhimas.
"Hei,ini minum dulu." Dhimas dengan sigap memberi air mineral kepada Afika.
"Thanks Mas..." Afika meminumnya.
"Apakah masakannya terlalu pedas? Biar aku komplain kepada kokinya!" ucap Dhimas yang mengira Afika tersedak karena makanan yang sedang dimakannya.
"Jangan,tidak pedas kok. Hanya saja aku kaget mendengar panggilan sayang darimu. Karena aku masih belum terbiasa. Maaf..." kata Afika menjelaskan.
"Ah,ya.. Maafkan aku Afika. Kalau kamu belum siap aku panggil dengan sebutan itu aku tidak akan mengulanginya lagi." ucap Dhimas dengan agak sedih.
"Tidak Mas,aku hanya kaget saja. Maklum saja sudah bertahun lamanya aku tak mendengar kata itu darimu." Afika tersenyum.
"Jadi,bolehkan aku memanggilmu dengan sebutan sayang?' Tanya Dhimas takut-takut.
"Boleh sayang..." kata Afika. Dhimas tersenyum kegirangan seperti anak kecil yang senang setelah dibelikan mainan kesukaannya.
Mereka pun menuntaskan makan siang yang kesorean itu dengan bahagia.
-1 Jam Kemudian-
"Sudah hampir petang,kita pulang ?" tanya Dhimas.
"Ya.. Ayo Mas ."
Dhimas lalu memanggil waitres lalu membayar tagihan makanan mereka.
Saat mereka menuju parkiran dering telepon di handphone Afika terdengar.
'Devan Is Caliing'
Dhimas yang sedang membukakan pintu mobil untuk Afika heran mengapa dia tak menjawab teleponnya.
"Siapa yang menelepon sayang,kenapa tak diangkat?" tanya Dhimas.
"Devan."
"Angkat saja,siapa tahu penting." kata Dhimas.
"Hallo?" tanya Afika.
"Hallo,Afika. Kau dimana? Apa bisa kita bertemu?" tanya Devan
"Aku sedang diluar kota. Ada perlu apa?" tanya Afika ketus.
"Dengan siapa? Dhimas?"
"Ya,lebih tepatnya dengan CALON SUAMIKU" Afika sengaja menekankan kata Calon Suami kepada Devan. Dhimas tersenyum kecil dan merasa bangga dalam hatinya sembari mengemudikan mobilnya.
"Afika,ini semua tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku sama sekali tidak mencintai Chelsea!"
"Tidak mencintai,tapi bisa menghamili? Klise sekali Devan Wijaya...."
"Kita harus bertemu Afika. Aku ingin menjelaskan semua ini padamu! " Devan mulai frustasi.
"Lalu,setelah itu kau mau apa? Semua sudah terlambat Devan,kau dan aku akan menikah dengan pasangan masing-masing!" teriak Afika tak kalah frustasinya.
"Aku akan memberitahu rahasia keluargaku padamu." kata Devan.
"Rahasia?" tanya Afika.
"Aku sangat mencintaimu Afika,Aku tak ingin kau terluka... Izinkan aku bertemu denganmu mungkin untuk yang terakhir kali sebelum kau dan aku menikahi pasangan masing-masing." jelas Devan sedih.
"Baiklah,besok kita bertemu. Untuk jam dan tempatnya ku beritahu nanti." jawab Afika
"Terima kasih dan sampaikan salamku kepada Tuan Dhimas. Bye " Devan menutup teleponnya.
"Bye..." Afika juga mematikan teleponnya.
"Ada masalah?" tanya Dhimas.
"Devan memintaku untuk menemuinya . Katanya ini untuk yang terakhir kali dan dia ingin menceritakan tentang rahasia keluarganya. Dia juga takut aku terluka. Aku ga ngerti apa maksudnya. Apa aku besok boleh menemuinya?' tanya Afika.
"Tentu,selesaikan urusanmu dengannya. Sehingga tidak akan mengganggu hubungan kita kedepannya." kata Dhimas.
"Terima kasih Mas...." kata Afika dengan sumringah. Ia semakin yakin akan keyakinannya menikahi Dhimas,karena lelaki itu sangat bijak dalam menanggapi sesuatu dan tidak mudah cemburu. Toh ini pertemuan yang terakhir kalinya dengan Devan,ia juga ingin menyudahi hubungannya dengan Devan secara baik-baik.
Afika dan Dhimas menembus jalanan dengan diiringi deretan pohon pinus yang indah namun seram dan gelap jika malam telah tiba. Afika juga tak lama memejamkan matanya,ia tertidur. Mungkin lelah dengan semua yang sudah ia lalui hari ini. Kesedihan dan kegembiraaan yang berdampingan mengiringinya hari ini. Dhimas pun dengan bebas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi,karena jika Afika tidak tidur ia pasti sudah mengomel karena Dhimas mengemudikan mobilnya seperti pembalap F1.
-Hotel Astrawijaya-
Jam menunjukkan pukul 17:00 . Devan masih tinggal di hotel. Meski orang tuanya menyuruh untuk pulang tapi Devan bersikukuh ingin tetap tinggal di hotel. Karena ia muak dengan Chelsea yang sehari-hari selalu hadir di rumahnya,bersikap seakan-akan ia sudah menjadi bagian dari keluarga Astrawijaya.
"Haahhhhh........ Apakah di masa lalu aku adalah seorang Raja yang jahat sehingga di kehidupan saat ini aku sangat menderita.." Devan menghela napas panjang dan memejamkan matanya seakan-akan ia lelah dengan kehidupannya.
"Afika...Afika.... Aku ingin memilikimu....." Devan sangat frustasi hari ini.
#Rewind 10 jam yang lalu#
__ADS_1
Dering telepon berbunyi,Devan yang masih terlelap akhirnya bangun dengan tersentak kaget.
"Hoahhmmmm,,astaga siapa yang telepon pagi-pagi buta begini?" Devan mengangkat teleponnya.
"Devan bangun. Sampai kapan kamu mau tinggal di hotel? Apakah rumah kita yang luasnya 1 hektar ini belum bisa memuaskanmu hah?!" suara Tuan Arya menggema di telinga Devan.
"Astaga pah! Devan tidak tuli!" teriak Devan
"Lekas bangun,mandi dan bersiap pulang kerumah. Jam 9 kau dan Chelsea harus fitting baju ke butik Mr. Hwang.!"
"Apa??" teriak Devan lagi.
"Devan papa tidak tuli,jangan berteriak!" kata Tuan Arya.
"Tapi pah..."
"Tidak ada tapi,1 jam lagi sudah sampai rumah jika tidak jangan harap Afika bisa bernapas lega hari ini!" kata Tuan Arya dan memutuskan sambungan teleponnya.
"Arggghhhh sial!! Mengapa selalu Afika yang menjadi senjata si harimau itu!" Teriak Devan lalu segera menuju kamar mandi dan bersiap.
Setelah mandi dan memakai pakaian,Devan langsung menuju lobby hotel dan terlihat mobilnya sudah siap. Devan memakai kacamata hitam dan outfit kasual. Terlihat santai namun berkelas. Segera ia melajukan mobilnya menuju kediaman Arya Astrawijaya. Karena suasana masih pagi sehingga belum banyak kendaraan yang lalu lalang Devan berhasil sampai lima belas menit lebih awal dari biasanya. Ia membunyikan klakson mobilnya tampak seorang penjaga dengan sigap membukakan pintu gerbang rumah mewah itu,Devan pun melajukan mobilnya memasuki kediaman ayahnya. Devan melirik arloji branded mahalnya sembari menutup pintu mobilnya.
"Aman,aku berhasil sampai lima belas menit lebih awal. Kalau terlambat tamatlah riwayatku!" gerutu Devan dengan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah.
Devan memang setakut itu dengan ayahnya,karena jika ayahnya sudah mengancam maka itu tidak main-main. Devan langsung menuju taman belakang rumahnya yang sangat luas ditambah kolam renang big size mewah seperti fasilitas hotel bintang lima. Karena sudah menjadi kebiasaan keluarga mereka jika pagi menjelang sebelum melakukan aktifitas pekerjaan mereka akan berolahraga dan sarapan disana.
Terlihat Nyonya Julia sedang berolahraga dengan alat yang lengkap layaknya di tempat fitnes profesional. Usia beliau memang sudah tidak muda lagi namun berkat olahraga dan gizi yang seimbang wajah dan tubuhnya terlihat seperti wanita berusia 25 tahun. Ditambah suntikan DNA ikan Salmon yang sedang in dikalangan sosialita yang konon katanya berkhasiat untuk meregenerasi sel kulit mereka.
"Hai mom..." sapa Devan kepada ibunya.
"Hai darling my adorable son I really miss you.." ucap mamanya sembari menyudahi olahraga dan menyeka keringatnya lalu mencium kedua pipi anaknya kemudian memeluknya.
"I miss you too mom. Dimana papa?" tanya Devan.
"Seperti biasa ia sedang berenang.." kata Nyonya Julia sembari menunjuk ke arah kolam renang mewahnya.
Tuan Arya pun menyembulkan kepalanya dan bersiap naik ke darat untuk menemui putra sulungnya.
"Hei anak nakal! Kemari kau!" ucap Tuan Arya.
Devan menghampiri papanya lalu Tuan Arya langsung memeluk Devan dalam kondisi basah kuyup.
"Papa!! Oh my God! Lihatlah bajuku basah semua.." teriak Devan. Tuan Arya tertawa terbahak-bahak melihat baju anaknya yang basah kuyup.
"Papa masih baik tidak menceburkanmu ke dalam kolam. Cepat ganti bajumu kita sarapan bersama."
Devan lalu menuju ke kamarnya di lantai 2 rumah itu.
Ia memasuki kamarnya yang mewah nan megah dengan dekorasi minimalis dominan putih dan abu-abu menghiasi,layaknya kamar anak lelaki apalagi Devan lama di luar negeri jadi kamarnya memang jarang di tempati.
Namun ada hal aneh di kamarnya,wangi feminim lebih mendominasi lalu tempat tidurnya pun serasa ada yang menempati. Sayup-sayup ia mendengar suara gemericik di balik pintu kamar mandi nya. Tak lama suara itupun berhenti yang menandakan bahwa orang misterius itu sudah selesai menuntaskan hajatnya dan bersiap keluar. Benar saja tak lama orang itu pun keluar.
"Omoo! Oh kau mengagetkanku saja.. Akhirnya kau pulang juga.." tanya Chelsea dengan santai menggosok rambut basahnya dan menggunakan bathrob milik Devan.
"Apa-apaan kau ini! Berani-beraninya menempati kamarku!" lantang Devan.
"Kau ini kenapa sih? Sebentar lagi aku kan jadi istrimu pastinya aku juga akan menempati kamarmu."
"Jangan mimpi!"
Chelsea seakan tidak mempedulikan ocehan Devan,ia lantas menuju ke walk-in-closet milik Devan untuk mengganti bajunya. Devan pun mengikuti dan sangat kaget karena lemarinya kini di penuhi baju-baju milik Chelsea. Chelsea tanpa malu melepas bathrob nya seakan sengaja agar Devan menggodanya,lalu ia pun dengan telanjang memilih pakaian dalam dan luarnya. Devan tidak terpengaruh malah jijik akan sikap Chlesea yang tidak tahu malu dan tidak tahu tata krama itu.
"Pakai bajumu,kau pikir aku akan tergoda dengan cara kotormu?" Devan berlalu meninggalkan Chelsea yang nampak kecewa karena Devan tidak tergoda sama sekali dengan tubuh sintalnya.
"Haishh... cowok aneh!" gerutu Chelsea.
Setelah 10 menit Chelsea pun menghampiri Devan yang telah menunggunya di sofa.
"Jelaskan padaku apa yang sudah kamu lakukan di ruang pribadiku?" tanya Devan.
"Orangtuamu yang menyuruhku memindahkan semua barang pribadiku ke RUANG PRIBADIMU ." kata Chelsea dengan penuh penekanan .
"Apa yang sudah kamu katakan kepada orangtuaku,hah?" tanya Devan emosi
"Aku hanya memberikan hasil testpack ku lalu mereka menyuruhku pindah. Aapa aku salah?"
"Test pack? maksudmu?"
"Iya sayangku Devan Wijaya,sebentar lagi kamu akan jadi AYAH.. hehehe"
"Itu jelas bukan anakku! Kita tidak pernah berhubungan badan!" Devan semakin tersulut emosinya.
"Jelas saja ini anakmu! Aku bukan wanita murahan yang dengan bebasnya bermain! Apa kamu lupa malam sebelum pesta kelulusan? Kau yang memaksaku,sampai...hiks..sampai kita melakukan itu!" Air mata Chelsea mulai keluar,entah itu air mata asli atau intrik saja.
Devan mencoba mengingatnya,ya saat itu ia memang sangat mabuk karena dirinya ditinggal oleh Afika ke Indonesia setelah mendapat kabar kalau Afina kecelakaan. Dalam pikirannya itu adalah Afika bukan Chelsea.
"arrgggghhh.... SHIT!!!" Devan sangat frustasi.
"Lalu kalau memang benar itu anakku kenapa kau tidak memberitahuku? Malah memberitahu orangtuaku!"
"Karena aku tahu,orangtuamu sangat menginginkan cucu dan aku tidak akan di sia-siakan oleh mereka! Kalau aku cerita kepadamu pasti kau akan marah dan menyuruhku untuk menghilangkannya. iya kan!" teriak Chelsea.
"Bodoh,mana mungkin aku sejahat itu! Pikiranmu terlalu jauh.." ucap Devan lirih.
"hiks,,,,aku bingung saat itu. Aku juga takut bicara dengan orangtuaku. Maafkan aku Devan,maaf..... hiks"
Chelsea mulai menangis sesenggukan.
__ADS_1
Devan tidak tega melihat seorang perempuan menangis siapapun dia. Maka Devan pun memeluk Chelsea. Walau bagaimanapun ini juga adalah kesalahannya. Ia harus bertanggung jawab. Hanya saja semua impiannya untuk merenggut Afika dari tangan Dhimas telah hancur berkeping-keping.
Chelsea semakin bergetar menangis saat dipeluk Devan. Ada rasa takut,rasa bersalah dan bahagia di hatinya yang bercampur menjadi satu.
Devan menghela napas panjang.
"Baiklah mulai saat ini kau dan janin di kandunganmu adalah tanggung jawabku. Sudah berapa minggu ?" tanya Devan lembut.
"Sebenarnya aku belum cek ke dokter karena aku sangat takut. Tapi aku sudah telat 2 minggu" jawab Chelsea takut-takut.
"Ya sudah,setelah fitting kita cek ke dokter. Aku mau ganti baju dulu lihatlah bajuku basah karena dipeluk Papa. Kamu turunlah dulu." Devan melemahkan nada bicaranya karena biar bagaimanapun Chelsea sekarang sedang mengandung calon anaknya dan ibu hamil perasaannya sangat sensitif.
"Baiklah aku tunggu di bawah." Chelsea lalu keluar kamar dan menuju ke ruang makan.
Devan masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Chelsea namun ia tidak gegabah. Ia harus memastikan apakah itu adalah anakny atau bukan. Devan pun menelepon seseorang.
"Hallo. Ya tolong cari tahu apakah kandungan Chelsea adalah anakku atau bukan. Hm.. aku tunggu kabarmu secepatnya." Devan mematikan teleponnya dan segera berganti baju.
***
Devan turun dari kamarnya menuju ruang makan. Terlihat sudah ada Papa,Mama,Darrel adik Devan dan Chelsea,
"Lama sekali kamu. Kita sudah menunggu. Ada yang harus kita bicarakan." ucap Papa
"To the point aja Pah."
"Chelsea hamil,apakah kamu sudah tahu?" tanya papanya
"Hm.. aku baru tahu tadi." jawa Devan dengan datar.
"Maka dari itu mama memajukan tanggal pernikahan kalian dan hari ini kalian sudah di jadwalkan fitting dengan Mr.Hwang." lanjut mama.
"Setelah itu apalagi?" tanya Devan
"Langsung ke dokter Dirham dong untuk memeriksakan kandungan Chelsea. Mama senang sekali sebentar lagi akan memiliki cucu.." jawab mama dengan sumringah ke arah Chelsea. Chelsea juga tersenyum kegirangan karena dirinya merasa dibela oleh keluarga Devan.
"Kau sudah memetuskan hubunganmu dengan Afika kan Van?" tanya Papa.
"Apa aku harus menjawab? Bukankah semua sudah sesuai dengan rencana Papa?" kata Devan masih denga nada datar.
"Haahahahaa.... tidak salah memang Papa bekerja sama dengan Dhimas."
Devan tersedak setelah papanya berkata demikian.
"uhuuukkkkkk...uhukkk"
"Minum ini sayang..." Chelsea dengan cekatan memberikan air mineral kepada Devan yang sedang tersedak.
"Maksud papa Adhimas Ardhiga?" tanya Devan.
"ya.. papa bekerja sama dengan Dhimas agar menjauhkanmu dari Afika. Sebenarnya simbiosis mutualisme lah... Dhimas selain ingin memiliki Afika juga pastinya ingin menjadi Direktur Utama HDW Corporation hahahaa... Siapa yang sangka di balik wajah protagonisnya Dhimas adalah penjahat ulung. Kau harus banyak belajar darinya!" kata Papa panjang lebar.
Devan terpaku mendengarnya. Selama ini ia pikir adalah penjahat bagi Afika karena telah berbohong tentang perjodohannya dengan Chelsea juga karena pada awalnya Devan menjadi boneka Papanya untuk menyakiti Afika. Namun seiring berjalannya waktu Devan memang telah jatuh cinta pada Afika. Tapi Dhimas,ia sangat tidak menyangka kalau Dhimas tega melakukan hal kotor ini demi tujuan utamanya yaitu merebut HDW Corporation. Apakah kecelakaan Afina juga ulahnya?
***
Bersambung
__ADS_1