
Keesokan harinya Afina sudah berada di Jakarta,ia dirawat di rumah sakit Internasional Ardhiga,milik keluarga Dhimas. Memang rumah sakit itu yang paling bagus alat dan pelayanannya,juga karena rumah sakit tersebut milik keluarga Ardhiga.
Afina berada di ruang VVIP Anggrek nomor 01,keadaannya sangat buruk. Tubuhnya penuh memar,wajahnya penuh luka dan dia mengalami gegar otak sehingga saat ini Afina mengalami koma.
"Bagaimana kondisi anak saya dokter Indra?" tanya Tuan Chandra.
"Kondisi Nona Afina sangat buruk. Hanya keajaiban Tuhan yang bisa menyelamatkannya sampai hari ini. Tubuhnya banyak luka memar,beliau mengalami trauma otak yang berat sehingga kemungkinan saat terbangun dari koma beliau akan kehilangan separuh ingatannya,atau mungkin seluruhnya." begitulah penjelasan Dokter Indra Hendrajaya,dokter bedah terhebat di kota ini.
"Ya Tuhan,,apakah ada cara agar anak saya kembali pulih seperti sedia kala?" tanya Nyonya Dewi.
"Teruslah berdoa dan berusaha Tuan dan Nyonya Hadiwijaya Tuhan tak pernah tidur. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan Nona Afina." jawab dokter Indra.
"Terima kasih dok" kata sepasang suami istri hampir setengah abad itu.
Tak berapa lama Dhimas pun tiba di Rumah Sakit miliknya,ia pun segera menemui orangtua Afina.
"Om,Tante.. Maaf saya baru datang." ucap Dhimas.
"Dhimas....." Nyonya Dewi lantas memeluk calon menantunya sembari menangis di pelukannya.
"Tante maafkan Dhimas,jikalau saja aku melarang Afina untuk menyusulku ke Belanda,mungkin saja saat ini Afina akan baik-baik saja." kata Dhimas.
"Jangan berkata seperti itu nak,ini semua takdir Tuhan. Tante dan Om tidak menyalahkan siapapun atas musibah ini." kata Nyonya Dewi.
"Mama dan Papa akan segera tiba,beliau sangat mengkhawatirkan calon menantunya." ucap Dhimas.
"Om,bagaimana keadaan Afina?" tanya Dhimas.
"Kata dokter Indra hanya keajaiban Tuhan lah yang bisa menolongnya. Kemungkinan Afina koma dan jika sadar akan mengalami amnesia karena gegar otak." jawab Tuan Chandra.
"Ya Tuhan,Afina..." Dhimas menitikkan air mata.
__ADS_1
***
Tuan Chandra,Nyonya Dewi dan Dhimas berkumpul di ruang perawatan Afina.
Satu jam kemudian orangtua Dhimas pun datang. Mereka baru saja pulang dari Korea setelah menghadiri seminar kecantikan.
Ibunda Dhimas,Nyonya Catharina Van Damme atau biasa dipanggil dokter Cathy adalah ahli kecantikan spesialis anti-aging. Dan ayahanda Dhimas,yaitu Rahadi Ardhiga adalah pengusaha di bidang kesehatan. Dan beliau adalah pemilik Rumah Sakit Ardhiga.
"Jeng Dewi..." panggil Dokter Cathy.
"Jeng Cathy,Afina koma.." kata Nyonya Dewi sambil menangis.
"Iya saya sudah mengetahuinya dari dokter Indra. Kami akan melakukan semaksimal mungkin untuk kesembuhan calon menantu kami." kata Dokter Cathy
"Mas Chandra dan Mbak Dewi sebaiknya istirahat dulu. Biar Adhimas dan bodyguard nya yang menjaga Afina disini. Kami juga akan pulang dulu kerumah untuk beristirahat." kata Tuan Rahadi.
"Baiklah kalau begitu,saya akan menelepon Afika untuk menjaga kakaknya. Tadi dia belum bangun,mungkin masih lelah setelah perjalanan dari New York." kata Tuan Chandra.
"Oh,Mas Chandra mempunyai 2 anak perempuan?" kata Tuan Rahadi.
"Baiklah kalau begitu,saya dan istri pamit pulang dulu mas." kata Tuan Rahadi.
"Hati-hati di jalan ya Jeng Cathy dan Mas Rahadi." kata Nyonya Dewi.
Tuan Chandra segera menghampiri Sekretaris Wilham untuk menelepon Sekretaris Anggi agar membawa Afika ke Rumah Sakit.
"Sekretaris Wilham,telepon Sekretaris Anggi agar ia segera membawa Afika kemari. Saya dan Nyonya akan pulang terlebih dahulu." kata Tuan Chandra.
"Baik Tuan." Kata Sekretaris Wilham.
"Halo,Sekretaris Anggi. Apakah Nona Afika sudah bangun? Tolong kabari segera bahwa Nona Afina sudah sampai di Jakarta. Segera kemari ke Rumah Sakit Ardhiga,Kamar Anggrek nomor 01" Sekretaris Wilham menelepon Sekretaris Anggi.
__ADS_1
"Halo,iya ayah baik saya akan segera membawa nona Afika ke Rumah Sakit. Terima kasih." sambung Sekretaris Anggi.
Ya,Sekretaris Wilham adalah ayah dari Sekretaris Anggi.
"Ada apa Nggi?" tanya Afika yang sedang menunggu Sekretaris nya menerima panggilan telepon.
"Ayahku mengabari bahwa Nona Afina sudah di Jakarta,di Rumah Sakit Ardhiga. Dan kamu diharapkan untuk segera kesana karena Tuan dan Nyonya akan pulang untuk beristirahat." Jelas Sekretaris Anggi.
Bila sedang berdua mereka memang bicara non formal,karena Afika dan Anggi adalah teman sedari kecil.
"Jadi kakak sudah ada di Jakarta,baiklah aku akan segera kesana. Kau bantu aku bersiap ya!" kata Afika.
"Beres boss!!" kata Anggi.
***
Afika bergegas ke rumah sakit untuk melihat keadaan kakaknya. Sesampainya di Rumah Sakit ia melihat seorang laki-laki di dalam ruang perawatan sedang berbicara kepada kakaknya dan sedikit Afika mendengar percakapannya.
"Afina, maafkan aku.. Jika saja kamu tidak mencari tahu tentang Gisele mungkin kau tidak akan mengalami hal seperti ini." kata laki-laki itu.
Afika terperanjat tak percaya,ia mendengar sebuah nama. Gisele? Lalu siapakah laki-laki itu?.
Setelah di rasa mereka telah selesai berbincang,Afika mengetuk pintu ruangan kakaknya.
Tok..Tok..Tok..
Setelah bunyi ketukan,secara naluriah laki-laki itu menoleh ke arah pintu. Afika pun masuk ke dalam ruangan tersebut. Lalu yang terjadi adalah...
"Gisele?"
"Pieter?"
__ADS_1
***
Bersambung