
"Aku merindukanmu Gisele..." kata Dhimas di telinga Afika..
Dhimas berusaha membuka bibir Afika dengan menggigit pelan bibir Afika,setelah itu lidah mereka saling berpagut. Dhimas semakin mengeratkan pelukannya kepada Afika.
Namun,tak disangka sebuah pintu besar terbuka dan melihat ke arah mereka berdua. Dan dengan suara lantang orang itu berkata...
"Dhimas,Afika!!!! Apa-apaan kalian!!!"
***
Di ruang kerja
Tuan Chandra sedang menyelesaikan sarapan paginya sekaligus melakukan pekerjaan di ruang kantornya. Setelah selesai beliau pun melihat arloji branded kesayangannya yang berada di tangan kirinya. Lalu ia berkata kepada Sekretaris Wilham.
"Sudah siang rupanya,aku harus ke rumah sakit melihat Afina. Ohya sepertinya Afika masih disana,biar nanti ia pulang dulu. Kita harus segera mengajarinya tentang sistem di perusahaan. Aku tidak ingin posisi Direktur terlalu lama kosong karena Afina yang sedang sakit."
"Baik Tuan,akan saya buatkan jadwal untuk nona Afika belajar di perusahaan." kata Sekretaris Wilham.
"Berkas yang sudah ku tanda tangani langsung kau bawa ke kantor agar segera di proses,aku tak ingin klien kita menunggu terlalu lama karena itu akan mempengaruhi nama baik perusahaan." lanjut Tuan Chandra.
"Ya Tuan,baiklah. Apa Tuan mau sekalian saya antar ke rumah sakit? Kebetulan satu arah dengan kantor Tuan." kata Sekretaris Wilham.
"Ya,tentu. Tak usah membangunkan istriku biar dia istirahat saja dirumah."
Tuan Chandra pun keluar ruangan dengan dibukakan pintu oleh Sekretaris Wilham.
Bersamaan dengan itu nampak pemandangan yang tabu yang tak pantas dilakukan oleh calon adik ipar dan calon kakak ipar.
"Dhimas,Afika!!!! Apa-apaan kalian!!!"
Tuan Chandra nampak geram dengan pemandangan itu,bagaimana tidak Afika dan Dhimas berciuman mesra di depan kamar sebelah pojok tepat didepan mata kepala Tuan Chandra.
Afika tidak menyadari bahwa dia berada di depan ruang kantor ayahnya.
__ADS_1
"Aa..ayahh...!!" sahut Afika gelagapan.
"Oo,,om..." kata Dhimas panik.
"Apa-apan kalian!!!!! Masuk ke ruanganku sekarang!" teriak Tuan Chandra.
***
Mereka pun akhirnya berada di ruang kerja Tuan Chandra. Afika nampak gemetar dan air matanya terus menerus keluar tanpa suara,hanya isakan tangis yang terdengar di ruangan itu.
"Tolong jelaskan kepada Ayah apa yang sedang kalian lakukan!" teriak Ayah Chandra.
"Maafkan kami om,tapi ini adalah salahku bukan Afika. Saya minta maaf,sebenarnya ada hal yang harus saya jelaskan dan luruskan perihal ini." kata Dhimas yang berusaha membuat Afika bebas dari kemarahan ayahnya.
"Baiklah ceritakan semuanya dengan detail!" kata Chandra.
Akhirnya Dhimas menceritakan kisah mereka berdua,hingga akhir cerita ayah Chandra bergeming karena tak disangka kisah cinta anak beliau begitu rumit.
"Apaa!!! Menikah?? Tetapi ayah,bagaimana dengan kak Afina??" tanya Afika kaget.
"Kondisi Afina tidak akan bisa pulih dalam waktu 3 minggu nak,bagaimanapun juga pernikahan ini harus berlangsung. Kalau tidak ayah akan menanggung malu yang amat sangat di depan klien ayah dan juga keluarga kita yang sudah menyempatkan waktunya untuk datang. Karena mereka sangat sibuk sekali. Sama halnya dengan orangtuamu Dhimas,Om yakin orangtuamu akan berpikir hal yang sama denganku." Kata Ayah Chandra.
"Baik om,bagaimana baiknya om saja. Saya manut om." kata Dhimas.
"A..ayah maafkan Afika.. Aku tidak bermaksud untuk mengkhianati kakak,tapi aku benar-benar terkejut setelah tahu hal yang sebenarnya." kata Afika sambil terisak dan berlutut dibawah kaki ayahnya.
"Bangunlah nak,ayah mengerti ini adalah takdir. Bukan salah kalian,pasti ada hikmah mengapa kakek Ronggo Ardhiga sangat ingin sekali menjodohkan cucunya dengan anakku." kata ayah Chandra dengan emosi yang sudah mereda.
"hiks..terima kasih ayah." kata Afika sambil memeluk ayahnya.
'Apa aku harus memberitahu kondisi Afina kepada Om Chandra sekarang? Tapi nanti pernikahanku dengan Afika akan dibatalkan. Sebaiknya tak usah ku ceritakan hal ini kepada Om Chandra.' kata Dhimas dalam hati.
"Kalau begitu ayah akan menuju rumah sakit untuk melihat keadaan kakakmu. Kamu istirahat saja dirumah,temani ibumu. Dia pasti merindukanmu karena belum sempat ngobrol denganmu nak." kata ayah Chandra.
__ADS_1
"Baik ayah." kata Afika.
Lalu mereka keluar dari ruangan itu. Afika dan Dhimas berbicara empat mata di ruang tamu,segera setelah ayahnya dan Sekretaris Wilham pergi menuju rumah sakit.
"Aku tidak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi kepadaku." kata Afika dengan sedikit terbengong.
"Hmm.. ya nasi sudah menjadi bubur.. Lagipula sebenarnya ini memang kembali ke tempat yang tepat." kata Dhimas.
"Maksudmu apa sih?"
"Ya kakekku ingin menjodohkan aku dengan anak keluarga Hadiwijaya kan,awalnya memang kita sudah bertemu. Karena satu dan lain hal kita berpisah,dan sekarang kita dipersatukan kembali." kata Dhimas.
"Kamu ingat saat kita berpisah,aku berkata bahwa jika kita berjodoh pasti akan kembali? Dan Tuhan telah menjawab doa kita." lanjut Dhimas.
Afika hanya bisa diam,dalam hati ia berkata bahwa betul juga apa kata Dhimas. Tapi ada 2 hati yang akan tersakiti jika mereka menikah. Afina dan Devan...
"Devan? Astaga ia sedang dalam perjalanan pulang ke Indonesia!! Aduh bagaimana ini!!!" kata Afika kaget dan panik setelah ia mengingat Devan.
"Siapa itu Devan,pacarmu yang disebutkan oleh sahabatmu tadi? Pria rasa buah? Cih,childish sekali." kata Dhimas yang sepertinya sedang dilanda cemburu.
"Oh My God,why this is happened to me.."
"Haish... and me too..." kata Dhimas dengan raut wajah di buat-buat.
Jujur saja perasaan Dhimas senang sekali saat ayah Chandra meminta nya untuk menikahi Afika. Memang itu yang ditunggu-tunggu. Dhimas tidak jahat,hanya saja perasaan memang tidak bisa dibohongi bahwa ia sangat mencintai cinta pertamanya itu.
"Sebaiknya kau segera pulang,bukankah kau berkata bahwa akan ada meeting setelah jam makan siang,lihat ini sudah jam 11 siang." kata Afika yang mencoba mengusir Dhimas secara halus,karena ia saat ini tidak bisa mengontrol moodnya...
"Astaga!! Betul juga,baiklah aku akan pulang. Bye calon istriku (Cupp) ." Dhimas mengecup kening Afika.
"Iiihhhh Dhimas!!!!! " Afika berteriak kesal dengan kelakuan calon kakak iparnya ups calon suaminya....
*Bersambung*
__ADS_1