Menikahi Calon Kakak Ipar

Menikahi Calon Kakak Ipar
Will You Marry Me?


__ADS_3

Dhimas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Afika teriak ketakutan karena mereka berada di jalanan yang lumayan padat.


"Mas... jangan kencang-kencang aku takut!!" teriak Afika.


"Baiklah aku akan mengurangi kecepatan. Apalagi di depan sana ada razia hehe.." ucap Dhimas.


Afika bernapas lega.


-Bandung-


Setengah jam kemudian mereka melalui jalanan yang di kanan dan kirinya banyak ditumbuhi pohon pinus. Ternyata Dhimas membawa Afika ke suatu tempat yang asri. Disana memang jalanan tidak sepadat Jakarta karena sudah memasuki area pegunungan. Dhimas membuka atap mobilnya secara otomatis,mobil yang tadinya tertutup menjadi semi terbuka. Langsung saja Dhimas berkata.


"Ready Afika?"


"Ready,what?" tanya Afika.


Baru saja Afika selesai berkata Dhimas sudah melajukan mobilnya dengan kencang.


"Aaaaaaaaaa" teriak Afika sambil memejamkan mata.


"Louder Afika!! Teriaklah sekeras mungkin.." teriak Dhimas.


Setelah dirasa Afika sudah beradaptasi dengan cuaca lingkungan dan tingkah Dhimas,ia lalu perlahan membuka matanya.


Namun ketakutan dan kecemasan kini sudah tak dirasakan lagi oleh Afika,tergantikan dengan senyum dan tangan yang terbuka seperti sedang merasakan semilir angin.


"Bagaimana Afika,apa kau masih takut?" tanya Dhimas.


"No... I feel better... Udara disini segar sekali... hmmmmm haahhh..." Afika menghirup dan menghembuskan napasnya.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah kafe kecil di dalam area pegunungan tersebut. Kafe nya modern dan estetik,Afika tak menyangka Dhimas bisa menemukan tempat sebagus ini di tengah pegunungan.


"Sampai.." ucap Dhimas.


"Wow... this is a beautiful place. Bagaimana kau tahu tempat ini padahal sangat jauh dari kota dan harus memasuki area pegunungan." tanya Afika.


"Tak ada salahnya mengulik smartphone dengan google didalamnya." sahut Dhimas sambil tersenyum.


Lalu Dhimas menggandeng tangan Afika menuju ke dalam kafe yang berada di tengah area pegunungan tersebut. Meskipun berada jauh dari keramaian,kafe tersebut tetap ramai dikunjungi. Bahkan di parkiran banyak sekali mobil ber plat Jakarta hampir mendominasi.


Mereka berjalan menaiki tangga menuju lantai 2. Dhimas terkesan sudah hapal setiap inchi tempat tersebut,seperti bukan pertama kalinya ia berkunjung.


Dhimas dan Afika menuju meja dengan pemandangan langsung ke arah pohon pinus dengan dekorasi yang sangat romantis dan terlihat di meja bertuliskan Reserved.


Dhimas menarik kursi untuk Afika dan mempersilahkan Afika duduk. Setelah itu ia duduk berhadapan dengan Afika. Tak lama pelayan datang membawakan sebotol wine,buket bunga yang lumayan besar dan desert yang bertuliskan "Will You Marry Me,Afika?"

__ADS_1


Lalu seorang datang sambil meniupkan Saxophone dengan lagu Marry Your Daughter.


Afika melongo dibuatnya,tak lama tangannya menutupi mulutnya seakan tak percaya dengan pemandangan yang ia lihat.


"Mas.... ini...??"


"Will You Marry Me,Afika Hadiwijaya?" tanya Dhimas sambil berlutut dihadapan Afika yang sedang duduk terpaku. Tak lupa kotak kecil berwarna navy dengan bahan beludru dibukanya,dan tampaklah sebuah cincin yang berhiaskan berlian.


"Oh my...." Afika masih terpaku tak percaya namun akhirnya ia pun tersadar bahwa ia harus segera menjawab pertanyaan Dhimas.


*Ya Tuhan,Aku harus jawab apa?? Apa mungkin Mas Dhimas adalah jodohku? Tapi bagaimana dengan Devan? Ah,Sudahlah Afika mengapa kamu masih memikirkan lelaki brengsek itu!


"I.. I Will.... Yes,I Will" jawab Afika terbata dengan air mata yang menetes di sudut matanya.


"Yes!!! Thanks God!" ucap Dhimas.


Dhimas lalu memasangkan cincin berlian yang khusus ia pesan dari Italia dengan ukiran inisial nama mereka berdua A & D. Ukurannya sangat pas dengan jari mungil Afika.


Dhimas pun berdiri dan membantu Afika untuk berdiri dari tempat duduknya dan mengajaknya berdansa diiringi lantunan musik dari Saxophone.


Airmata Afika tak bisa tertampung lagi. Laki-laki yang pernah mengisi hari-hari indahnya dulu lalu mencampakkannya. Sekarang ia kembali dengan membawa harapan meskipun jalan yang mereka tempuh cukup rumit namun inilah yang disebut jodoh.


Dhimas menyeka airmata Afika,mencium tangan Afika dengan lembut lalu menatapnya tajam.


"I Love You too,Mas..."


Dhimas lalu mencium bibir Afika dengan lembut dan memeluknya dengan erat. Afika memejamkan matanya di pelukan lelaki yang sebenarnya adalah calon kakak iparnya,namun takdir berkata lain sebentar lagi lelaki itu akan menjadi pendamping hidupnya.


krucukkkk...


"Ups!!" teriak Afika dan membenamkan kepalanya di dada Dhimas,ia malu dengan suara perutnya yang keroncongan. Mereka memang sudah melewatkan jam makan siangnya.


"Hahahahahaa" Dhimas tertawa begitu renyah,ia tak sanggup menahan tawanya karena Afika yang dikenalnya sebagai wanita yang sangat jaim kini harus menahan malunya karena suara perut yang tidak bisa diajak kompromi.


"Haha... maaaf" ucap Afika.


"Never mind. You know what aku lebih suka Afika yang no jaim. Hahaha" lanjut Dhimas dengan tawanya yang lepas.


"Oke,kita duduk dulu ya. Aku akan pesankan kamu makanan yang mengenyangkan."


Dhimas mengajak Afika duduk dan memberi kode kepada pemain Saxophone agar menghentikan permainannya. Afika sibuk memilih makanan dalam menu,dibolak balikannya menu tersebut hingga matanya terpaku pada satu titik. Dhimas lalu memanggil pelayan.


"Waitres.."


"Ya pak silahkan"

__ADS_1


"Saya pesan nasi ayam betutu untuk 2 porsi ya."


"Baik pak"


"Hei,kok kamu tahu aku akan memesan itu?" tanya Afika.


"Ya dong aku kan cenayang."


"Hahaha ada-ada aja kamu!"


"Aku tadi melihat kamu bingung sekali memilih makanan. Sampai akhirnya manik matamu yang indah itu terpaku pada satu titik. Yaitu ayam betutu." Dhimas tersenyum hingga terlihat gigi rapinya.


Afika tersenyum padanya.


Dhimas sangat perhatian padanya,dari dulu dan tidak berubah sampai hari ini. Membuat Afika semakin yakin bahwa Dhimas memang jodoh yang telah diatur Tuhan untuknya.


"Anyway,kapan Mas menyiapkan ini semua?" tanya Afika.


"Haruskah aku memberitahumu?" tanya Dhimas dengan mencondongkan kepalanya mendekati Afika.


"Yes Of course,aku penasaran hihi"


"Well,yang paling utama kau harus tahu,bahwa aku menyiapkan ini sendiri tanpa bantuan dari siapapun." kata Dhimas sedikit menyombongkan diri.


"Seriously? Kau benar-benar tidak membutuhkan bantuan Adit atau Fikri atau ...." kata-kata Afika tersela oleh Dhimas.


"Sama sekali tidak. Hebat kan aku hahaha" kata Dhimas.


"Hmm yaa aku akui ini hebat. Seorang Adhimas Ardhiga Executive muda yang sibuk sekali menyiapkan ini sendirian? That sounds great!" kata Afika dengan mata berbinar.


"Do you like it?" tanya Dhimas.


"Sangat... sangat suka... Ini impianku Mas. Dilamar oleh seorang lelaki yang ku cintai ,meminangku dengan berlutut di tengah pemandangan pegunungan yang indah. Terima kasih sudah mewujudkan impianku Mas..." kata Afika berkaca-kaca.


"Kamu ingat ga kalau kamu pernah ngmg kayak gitu ke aku?" tanya Dhimas.


"Ha? Maksudnya?"


"2 tahun lalu saat kita sedang berbincang tentang masa depan. Kamu yang menceritakannya padaku semua keinginanmu." ungkap Dhimas.


Afika mencoba mengingatnya... Ya,saat itu mereka sedang bercengkerama sambil berjalan di pinggir pantai Miami ,bercerita tentang rancangan masa depan. Namun semua itu kandas saat Dhimas menerima perjodohan kakeknya.


Tak disangka kini mereka dipertemukan kembali walau harus melalui jalan yang berliku. Karena jika Tuhan sudah berkehendak semua ketidakmungkinan bisa saja terjadi.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2