
Suara keran air dimatikan,dari dalam bilik toilet keluarlah sesosok Pria maskulin dengan dada bidang dan perut sixpack nya berbalut handuk putih,siapa lagi kalau bukan Devan Wijaya. Hal pertama yang ia lakukan setelah prosesi mandi malamnya adalah mengecek ponselnya apakah ada pesan dari Afika.
"5 panggilan tak terjawab dari Mirza. Mungkin ia sudah dapat petunjuk,sebaiknya ku telpon dia." Devan lalu menekan tombol call dan tersambung kepada Mirza.
"Hallo. Malam Tuan Devan."
"Hallo malam juga Mirza. Maaf saya tadi sedang mandi,ada info apa?" tanya Devan.
"Saya sudah menemukan beberapa petunjuk dari kasus nona Chelsea dan Tuan Dhimas."
"Tell me" tutur Devan siap mendengarkan dengan seksama.
"Nona Chelsea tidak sedang mengandung. Menurut informan kami hasil tespek yang ia tunjukkan itu adalah milik teman kampusnya yang kebetulan sedang hamil. Ia sengaja memalsukan kehamilannya agar Tuan Devan tidak meninggalkannya."
"Hmm.. sudah kuduga. Lalu info lainnya?" tanya Devan serius.
"Tuan Dhimas memang bekerja sama dengan Ayah Anda untuk memisahkan Tuan dan Nona Afika. Selebihnya tidak ada alasan lain menurut informan kami Tuan." jelas Mirza.
"Oke. tolong temukan teman kampus Chelsea yang sedang hamil tadi. Buat dia mengaku dihadapanku bahwa Chelsea menggunakan tes kehamilannya untuk menipuku dan keluargaku." tegas Devan.
"Laksanakan Tuan." Mirza dan Devan saling menutup teleponnya.
"Fiuhh... kupikir selesai sudah tugas penyelidikan ternyata bertambah lagi.... Untung cuannya gede." ujar Mirza sembari menghela napas panjang.
"Chelsea! Berani-beraninya dia menipu keluarga Astrawijaya." geram Devan.
Tring..
Terdengar bunyi notifikasi pesan.
"Pesan dari Afika.." gumam Devan.
'Besok temui aku di Blue Moon Cafe pukul 10'
"Dingin sekali.. Ga ada kata sayang gitu terselip." Devan lalu membalas pesan tersebut.
__ADS_1
'Ok Blue Moon Cafe pukul 10'
Setelah membalas pesan tersebut Devan mematikan ponselnya karena ia ingin istirahat tanpa gangguan.
***
Afika memasuki rumahnya dengan langkah gontai. Ia masih memikirkan kejadian di mobil tadi bersama Dhimas. Tak dipungkiri ia pun merasakan perasaan yang panas saat itu,tapi entah mengapa bayangan yang hadir saat itu adalah saat dirinya berada di Fixing Room bersama Devan,maka ia pun menyudahi perkara panas tersebut.
"Aku pulang..." Afika memberi salam saat masuk ke dalam rumah namun tak ada yang menjawab.
"Apa dirumah tidak ada orang?" gumam Afika.
Afika berjalan ke dapur untuk menuntaskan dahaganya,lalu Bik Darmi yang mendengar suara berisik dari arah dapur segera memasuki area dapur.
"Non Fika sudah pulang? Maaf bibi tadi sedang di kamar kaki bibi kumat lagi asem uratnya." jelas Bik Darmi.
"Iya bik baru saja Fika sampai. Besok kita ke dokter ya bik,hayo pasti abis makan yang ijo-ijo jadi asem uratnya kambuh lagi ya.."
"Hehehe non Fika tahu aja.. Iya bibik abis makan lalap daun singkong sama sambel terasi non."
"Ya sudah besok jam 9 saya antar check up ke Rumah Sakit ya sekalian kita tengok ka Afina. Karena setelah jam makan siang Fika ada meeting bik."
"Udah bibik tenang aja . Saya ke kamar dulu ya.."
"Enggeh non... Non Fika sudah cantik baik hati calon suaminya juga guanteng.. Semoga Non Afika selalu bahagia..." lirih bik Darmi.
Afika menaiki tangga menuju ke kamarnya di lantai dua. Setelah itu ia melepaskan seluruh pakaiannya dan bersiap untuk mandi. Terpampang tubuh putih bening nyaris tanpa cela. Afika melihat tanda merah yang ditinggalkan oleh Devan pagi tadi yang sekarang sudah berubah menjadi ungu kegelapan. Afika mengingat kejadian itu serta kejadian di mobil Dhimas yang membuat hawa panas ditubuhnya naik dan ada perasaan tak nyaman di bawah sana.
Tring...
Bunyi notifikasi pesan mengaburkan lamunan Afika. Lantas ia pun melihat pesan tersebut.
"Devan? Blue Moon Cafe jam 10? Bukankah seharusnya dia menunggu kabar dariku sebelum bertemu. Tapi besok aku sudah janji dengan Bik Darmi... Hmm kalau begitu aku antar bibik,melihat ka Afina sebentar baru menemuinya. Jam 10 kurasa bisa." Afika mencoba membuat jadwal untuk kegiatannya besok.
Afika lantas membalas pesan tersebut.
__ADS_1
'See you there'
Afika lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya kemudian tertidur pulas karena esok kegiatannya cukup banyak dan perutnya pun sudah cukup terisi makanan saat di cafe tadi sore.
***
Keesokan paginya saat terbangun dari tidur lelapnya Devan langsung menyalakan ponselnya. Berharap wanita yang dicintainya segera membalas pesannya.
"Afika membalas... "
Devan segera beranjak dari tempat tidurnya untuk bersiap mandi agar dirinya terlihat fresh saat menemui kekasih hatinya nanti.
Namun saat menuju kamar mandi dering telepon berbunyi,Mirza is calling..
"Selamat Pagi Tuan. Saya ingin menyampaikan bahwa pagi ini nona Grace dan suaminya sedang berada di Jakarta. Tim kami sudah mengintimidasi mereka agar memberi penjelasan kepada Tuan dan Nyonya Astrawijaya terkait pemalsuan tes kehamilan yang dilakukan Nona Chelsea." jelas Mirza.
"Bagus.. kalau begitu aku akan bersiap pulang kerumah. Aku akan memberi kejutan spesial untuk Chelsea ." Devan Menyeringai.
"Baik Tuan demikian informasi yang dapat saya sampaikan saat ini."
"Ya terima kasih Mirza."
Devan dan Mirza menutup telepon,ia pun segera mandi dan bersiap.
15 menit kemudian Devan sudah siap dengan setelan jaket kulit hitam dan tak lupa kacamata hitamnya yang membuat dirinya bagaikan ketua Mafia yang kejam namun bertampang manis.
Devan dengan wajah bengisnya berjalan menuju mobil sport miliknya yang sudah terparkir di lobby hotel. Terlihat para karyawan hotel menundukkan kepala saat Devan melewatinya kemudian masuk ke mobilnya dan melaju kencang ke suatu tempat.
"It's a lucky day. Grace dan Chelsea harus menjelaskan semuanya kepada papa dan mama."
Grace adalah teman satu angkatan mereka di universitas yang sama. Namun Grace bukan termasuk dalam inner circle mereka,ia merupakan mahasiswi asal Indonesia yang biasa-biasa saja bukan anggota club house tajir melintir seperti circle pertemanan Devan. Saat musim panas lalu ia memang sudah melangsungkan pernikahan dengan Hans yang sudah dipacarinya selama 3 tahun. Grace memiliki kista dalam rahimnya dan mengakibatkan rahimnya harus diangkat. Namun sebelum Grace melakukan operasi pengangkatan rahim mereka memutuskan untuk menikah terlebih dahulu dan memiliki anak. Hal tersebut cukup membuat Grace dan Hans mengeluarkan kocek yang tidak sedikit,lalu Chelsea menawarkan sejumlah uang dengan hanya meminjamkan alat tes kehamilan yang dimiliki Grace.
Hari ini Grace dan Hans sedang berada di Jakarta. Guna menemui dokter obgyn senior yang namanya sudah terkenal seantero ibukota. Mirza dan timnya menemui mereka dan segera membawanya menuju kerumah Devan guna mempertanggung jawabkan perbuatannya ke hadapan Tuan Arya Astrawijaya.
__ADS_1
***
Bersambung