
Hai guys jangan lupa Like dan Comment nya ya karena support kalian adalah semangatku!!!
Biar kalian juga tambah semangat aku kasih visual para karakter novel Menikahi Calon Kakak Ipar (MCKI)
Check It Out!!!
1.Afika Hadiwijaya
Adhimas Ardhiga
Afina Hadiwijaya
Devan Wijaya
Chelsea Hanggono
Denny Wibowo (Sekretaris Denny)
***
"Jadi begitu awal cerita Afika bertemu dengan Devan ayah." jelas Afika.
"Hm.. ayah akan mencari tahu tujuan Devan mendekatimu itu apa. Tapi yang pasti ayah tidak akan pernah merestui hubungan kalian."
"Ya ayah.." jawab Afika dengan menunduk lemas. Afika memang anak yang berbakti kepada orangtua,ucapan orangtua adalah perintah baginya.
Afika masuk mobil dengan tertunduk lesu. Anggi menatap dari kaca spion tengah,namun tak berani mengatakan apapun karena hari ini pasti hari yang melelahkan bagi Afika.
Afika sejenak memejamkan mata dan pandangannya ia alihkan ke jendela sebelah kanannya.
Lampu merah menyala mobil Afika berhenti. Saat ia sedang melihat ke jendela sebelah kanan datanglah mobil sport mewah berwarna kuning ia melihat seseorang di dalam sana yang Afika kenal. Devan bersama dengan wanita.
"Devan bersama wanita? Siapa dia? Oh My God! Chelsea?!" Afika menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Lalu dengan cepat ia mengambil ponselnya dan memotret mereka.
Afika geram melihatnya lalu ia menelepon Wilham.
__ADS_1
(Percakapan Afika di telepon)
"Hallo Sekretaris Wilham,aku mau minta tolong."
"Tolong cari tahu tentang Devan Wijaya dan Chelsea Hanggono."
"Ya,Devan anak Tuan Arya Wijaya dan Chelsea anak Tuan Rudy Hanggono."
"Baik terima kasih Sekretaris Wilham."
Afika menutup telepon dan tak lama lampu hijau menyala. Mobil Afika melaju bersamaan dengan Afika yang masih saja menatap geram ke arah mobil Devan.
'kalau memang ada apa-apa diantara mereka aku tak segan-segan menghancurkan mereka' gumam Afika dalam hati.
***
Sesampainya dirumah Afika langsung menuju kamarnya dan mandi untuk merefreshkan otak dan merilekskan tubuhnya. Afika memasukkan bubble bath bomb wangi Lavender ke dalam bath tub dan setelah melepaskan seluruh pakaiannya ia pun masuk ke dalam bathtub dan merendam tubuhnya. Sambil memejamkan mata Afika me rewind seluruh kejadian hari ini. 12 jam yang melelahkan hati dan pikiran pikirnya.
"Apakah Devan hanya memanfaatkanku demi menjatuhkan ayahku?"
"Bila memang betul seperti itu dia benar-benar tega padaku. Ya Tuhan apa salah dan dosa keluargaku hingga kami selalu dikhianati orang terdekat.."
Handphone Afika berdering..
Dhimas menelepon.
"Video Call? Tumben sekali dia."
Afika mengangkat Video Call dari Dhimas.
"Iya mas ada apa tumben video call." kata Afika.
Dhimas menelan saliva nya melihat Afika dalam keadaan sedang berendam di bath tub meskipun bagian dada nya tertutup busa tapi tetap saja itu adalah pemandangan yang tak biasa bagi Dhimas. Bahkan selama pacaran pun tak pernah ia melihat Afika dalam kondisi seperti itu.
"Aa...Afika.. kau sedang mandi?"
Afika baru menyadari bahwa ia mengangkat telepon nya sambil berendam di bath tub,mungkin karena banyak hal yang sedang dia pikirkan.
Afika langsung mematikan handphonenya tiba-tiba.
"Astagaaaa.... aku lupa lagi mandi! Aduh apa yang sudah ku lakukan. Maluuuuuu!!"
Dhimas menelepon lagi dengan telepon biasa.
"Hallo,Afika kenapa dimatikan teleponnya ahh baru saja aku melihat pemandangan indah!" seru Dhimas.
"Mas!!! Aku lupa kalau sedang mandi!"
"Ga lupa juga ga apa-apa kok!"
"Haisshh... ada apa mas?"
"Aku sedang dalam perjalanan kerumahmu. Papa dan Mama juga mungkin mereka akan tiba sebentar lagi karena kita beda mobil. Kamu bersiap ya!"
"Hah? ada apa?"
"Mau membicarakan perihal pernikahan kita."
hening .
"Afika?"
"Ya sudah aku mandi dulu. Bye"
"Oke Bye"
Afika segera menyelesaikan ritual mandinya dan segera meraih kimono handuknya lalu menuju ke walk in closet miliknya. Tak berapa lama pintu kamar diketuk seseorang.
__ADS_1
tok..tok..tok..
"Siapa?"
"Ini ibu Afika.."
"Oh masuk bu"
"Nak sedang apa?"
"Baru selesai mandi bu lagi pakai baju. Ada apa?"
"Keluarga Ardhiga ingin silaturahmi kerumah kita. Sebentar lagi mereka sampai. Kau bersiap,pakai pakaian yang sopan ya."
Afika berjalan ke arah ibu nya dan mengajaknya duduk di sofa.
"Bu,bagaimana jika nanti kak Fina sadar sementara aku sudah menjadi istri Dhimas? Apakah itu tidak akan menyakiti hatinya?" tanya Afika.
Ibu menghela napas panjang.
"Itu yang ibu khawatirkan Afika,tapi bagaimana lagi keputusan ayahmu sudah bulat. Apa kau masih ragu dengan hatimu?"
"Bukan begitu bu,kalau ragu karena dua pilihan antara Dhimas dan Devan mungkin nomer dua tapi yang utama adalah perasaan kak Fina saat dia sadar nanti. Aku tidak ingin dibenci olehnya bu..."
"Pastinya nanti kita harus memberi penjelasan kepada Fina dan ceritakan saja hal yang sejujurnya terjadi antara kamu dan Dhimas dulu. Ibu yakin kakakmu adalah anak yang baik dan penurut pasti ia mengerti."
"Mm.. baiklah jika ibu berpikir demikian."
"Ya sudah kamu segera pakai baju dan turun ke bawah."
"Ya Bu.."
Afika memilih memakai baju dress putih renda selutut dengan tangan panjang tak lupa dengan heels 3cm berwarna hitam. Rambut coklat nya ia biarkan tergerai natural.
Terlihat klasik namun elegan.
ting..tong..
Suara bel rumah berbunyi. Pelayan membukakan pintu nampak Mama dan Papa Dhimas datang membawa beberapa buah tangan untuk keluarga Afika.
Ternyata orangtua mereka telah memiliki janji makan malam bersama di rumah keluarga Afika. Sekaligus membicarakan tentang kesepakatan pernikahan antara Afika dan Dhimas.
Namun belum nampak keberadaan Dhimas disana. Ternyata dia memang beda mobil dengan orangtuanya karena tadi Dhimas ada urusan terlebih dahulu.
Mereka berkumpul di meja makan tak lama kemudian Dhimas pun sampai dengan membawa buket bunga mawar putih kesukaan Afika disusul dengan turunnya sang putri bungsu Chandra Hadiwijaya dari tangga menuju ruang makan.
Dhimas tercengang melihat kecantikan Afika yang natural dan anggun. Dengan dress putihnya yang semakin matching dengan buket bunga yang Dhimas bawa.
Dhimas menyambut Afika dengan memberikan buket bunga tersebut kepada Afika dan mengulurkan tangannya agar Afika berpegangan pada dirinya kemudian menuju ruang makan tempat berkumpulnya orangtua mereka.
"Tuan Rahadi dan Nyonya Cathy perkenalkan ini adalah Afika putri bungsu kami." kata Tuan Chandra memperkenalkan Afika.
"Hallo sayangku,you're so beautiful." kata Cathy.
"Hallo Om Tante."
"Wah pantas saja anak kita sampai belum bisa move on ternyata memang secantik ini loh Afika." kata Rahadi.
"Papa.." kata Dhimas menahan malu.
Rupanya Dhimas sudah bercerita perihal kisah cintanya dengan Giselle alias Afika pada masanya.
"Memang kalau jodoh tak lari kemana ya" kata ibu Afika.
Lalu mereka lanjut dengan makan malam.
__ADS_1
***
Bersambung