
"Dia su... Susternya aku pak, iya dia itu Bodyguardnya aku tapi aku sering nyebut dia suster. Kan sama - sama ngsuh pak" potong Intan cepat. Bisa panjang urusannya kalau pak Yono sampai tahu kalau Azlan adalah suaminya.
"APA?" teriak Azlan kaget.
"is, jangan teriak malu di liatin orang tu." kata Intan pelan .
"Kamu bilang aku apa?" tanya Azlan yag tak terima dengan perkataan gadis itu. Pak yono hanya diam memperhatikan mereka berdua.
"Tc, iya - iya kauu cerewet sekali." dengus Intan.
"Pak, sebenarnya dia ini adalah suaminya aku." kata Intan. Pak yono menaikkan alisnya.
"Bapak pasti merasa aneh ya, tapi inilah kenyataanya." kata Intan. Intan pun mulai menjelaskan semuanya pada pakk Yono. Pak Yono sudah dianggap sebagai keluarga oleh Intan, mereka sudah kenal sejak intan SMP.
"Jadi kalian di jodohkan?" tanya Pak yono.
"Iya pak ." jawab Azlan.
Pak yono menghela napasnya, " kamu yang sabar ya nak." ucap pak yono menepuk bahu Azlan. Azlan dan Intan mengernyitkan keningnya.
"Maksud bapak?"tanya Azlan yang tidak mengerti maksud dari perkataan pak Yono.
"Iya, kamu harus sabar menghadapi istri seperti dia ini." ucap pak Yono.
Azlan menahan tawanya, sementara Intan membelalakkan matanya. " Bapak! Kok ngomongnya gitu sih. Bapak kira aku seperti apa? Apa bapak tidak tahu kalau dia itu pria yang paling beruntung mendapatkan istri seperti aku" ucap Intan.
Azlan hanya mencibir, " Bagaimana , apa makanannya enak tanya Pak yono pada Azlan.
"Enak pak, ini sangat enak" puji Azlan.
"Apa aku bilang, kita tidak perlu ke restoran mahal untuk makan enak' kata Intan.
"Iya kamu benar."
____
Sepulang dari warungnya pak Yono, Intan dan Azlan pun pulang dan perjalanan tiba - tiba Intan menyuruh Azlan berhenti.
"Kenapa?" tanya Azlan
"Berhenti sebentar, aku mau turun beli martabak" ucap Intan, sambil menunjuk penjal martabak.
"Apa kau belum kenyang? Padahal tadi kau makan dengan sangat banak."
"Sekarang aku memang kenyanng tapi, nanti kalau aku lapar lagi bagaimana? Apa bapak mau menemaniku keluar?" tanya Intan.
"Ya sudaah sana keluarlah!" ucap Azlan.
"Kenapa masih di sini?" tanya AAzlan saat melihat Intan yang ta bergeming.
__ADS_1
"Minta uang!" kata Intan menengadahkan tangannya.
Azlan menggeleng, kmeudian memberikan satu lembar uang merah. Tapi Intan masih menengadahkan tangannya.
"Apa lagi?" tanya Azlan
"Tambah, mana ckup segini" kata Intan.
"Itu lebih dari cukup, memangnya kau mmau beli berapa porsi?" tanya Azlann.
"Banyak." balas Intan.
"Dasar rakus." dengus Azlan, lalu menambah 4 lembar lagi. Dengan senym terbaiknya Intan mengcapkan terima kasih pada pria itu.
Denga semangat Intan menghampiri penjual martabak langganannya itu. Dia memesan begitu banyak martabak.
Azlan hanya melihat kelakuan Intan dari dalam mobil, dia tidak mengka kalau istri kecilnya itu akan sangat rakus.
Setelah mendapakan pesanannya, Intan pun meletakan semua Martabak tersebut di jok belakang, kemudian baru dia duduk di sebelah Azlan.
"apa kau sdah puas?" tanya Azlan.
Intan tersenyum, "Apa kau tidak ikhlas?"tanya nya.
"Sangat ikhlas, apa sekarang langsung pulang atau masih ada yang kau inginkan?" tanya Azlan.
" Untuk apa?" tanya Azla menatap masker tersebut.
"Pakai saja, nanti bapak juga akan tau sendiri." balas gadis itu yang mulai memakai maskernya.
Walau pun bingung, tapi Azlan hanya menuruti perkataan gadis itu. Intan menyuruh Azlan memelankann mobilnya, walau pun bingung tapi Azlan tetap mengikuti perkataa gadis itu.
Intan mulai turun dari mobil saat melihat segerombolan anak yang tidur di tepi toko. Intan membagikan martabak yang di beliya tadi pada anak - anak itu.
Alan tercengang dengan perilaku Intan, dia tidak menyangkah kalau istri kecinya itu akan membagikan makanan pada orang. Dengan inisiatifnya, Azlan pun mulai ikut turun dan membagikan martabak itu kepada semua orang jalanan yang mulai berdatangan.
Sekitar pukul 11 malam mereka sampai di rumah, Intan menghempaskan tubuhnya ke sofa. Dia sangat lelah, tak jauh berbeda dengan Azlan, pria itu berjalan ke dapur dan mengambil minuman untuk Intan.
"Ini minum lah!" Intan membuka matanya, duduk dan mulai meminum air yang di berikan Azlan.
"Terima kasih" ucapnya.
"Sejak kapan kau mulai melakukan ini?" tanya Azlan tiba - tiba.
"Melakukan apa?" tanya Intan.
"Yang tadi"
"Hmm... Sejak SMP, atau mungkin sejak aku sudah mendapatkan izin untuk kelua dan mendapatka mobil sendiri" jawab Intan kembali berbaring di sofa.
__ADS_1
"Apa keluargamu tahu?" tanya Azlan lagi, Intan pun menggeleng.
"Kneapa?"
"Karena aku ingin ini menjadi rahasiaku sendiri."
"Tapi kenapa kau memberitahuku?" tanya Azlan lagi.
"YA, itu karena kau suami ku dan tadi aku juga tidak membawa dompet." ucap Intan.
Azlan tersenyum, "aku suamimu?" tanya Azlan. Intan hanya diam, dia menyesali ucapannya, dia yakin pasti sekarang pria itu salah paham dengannya.
Azlan mendekati Intan, dia duduk di sebelah gadis itu, menunduk dan menatap nya Intens.
"Kau mau apa?" tanya Intan
"Melakukan yang seharusnya suami lakukan pada istrinya" ucapnya enteng.
"Apa?" Intan seketika mendorong Azlan dengan sekuat tenaga hingga pria itu terjungkal kebelakang.
"Aw... Kebiasaan banget sih, kalau dorong tu pelan dikit napa sih." ucap Azlan mengusap pinggangnya.
"rasain, siapa suruh dekat - dekat"kata Intan, duduk. Dia sangat kaget dengan apa yang di lakukan pria itu tadi.
"Apa salahnya suami dekat dengan istrinya, "kata Azlan.
"Tidak boleh!"
"Lah kenapa? Bukannya tadi kau sendiri yang bilang kalau aku ini suamimu."
"Iya sih, tapi aku tidak mau kau dia apa apain sama bapak?"
"Apa - apain, apa nya aku tuh cuma duduk"kata Azlan.
"Duduk? Duduk apanya,tadi kau sudah mendekat seperti ingin..."
"Ingin apa?" goda Azlan.
"Ingin... Ingin..." Intan tidak bisa melanjutkan ucapanya.
"Bicaralah yang jelas, ingin apa?" desak pria itu.
"Argh... Sudahlah, lupakan, aku ngantuk" Intan beranjak berdiri dan berlari ke kamar.
Azlan tersenyum puas melihat rona merah di wajah istri kecilnya itu.
"Sangat lucu." gumamnya.
~ Bersambung
__ADS_1