Menikahi Cewek Bar - Bar

Menikahi Cewek Bar - Bar
Hukuman ( cemburu )


__ADS_3

Azlan melepaskan cengkramannya di tangan Intan, menurunkan baju gadis itu hingga melewati bahu lalu membenamkan wajahnya di sana. Ia kembali mencicipi kelembutan kulit Intan yang beraroma begitu manis dan membuatnya berdesir dengan hebatnya.


Saat bunyi robekan terdengar jelas di telinganya, saat itulah Intan yang tenah terpejam tenggelam dalam gejolak yang merayap membakarnya, tiba - tiba tersentak dan membuka keduamatanya penuh dengan kewaspadaan.


Secara refleks, tangan Intan ang terbebas mendorong tubuh azlan sekuat tenaga ketika nalarnya kembali menguasainya. Azlan hampir saja terguling karena tidak siap dengan gerakan Intan yang tiba - tiba. Gadis itu beringsuut berusaha menjauh dari Azlan dengan sudut mata yang mulai menggenang.


"Apa... Apa yang bapak lakukan padaku?!" pekik Intan di susul dengan isakan yang tertahan di tenggorokannya.


Azlan terkesiap saat menyadri dirinya yang tiba - tiba lepas kendali saat bersentuhan dengan Intan. dilihatnya gadis berkulit pucat itu terisak dengan ambut dan pakaian yang acak - acakan, serta jejak merah yang bertebaran dari dagu, leher, hingga bahu akibat ulahnya.


Intan menekuk lututnya memiringkan tubuhnya membelkakngi Azlan, sekujur tubuhnya terasa lemas, punggungnya bergunang dan gemetar karena terlalu terkejut dengan apa yang baru saja di alaminya.


Rasa bersalah merayap di hati Azlan, ia juga tidak mengerti dengan dirinya, kenapa ia begitu marah dan tidak terima saat melihat Intan bersama dengan pria lain, membuat satu rasa yang bernaa cemburu mulai menggerogoti hatinya.


Azlan mendekati gadis yang sedang menangis itu, dengan lembut ia menyentuh bahu telanjangnya. Intan berjengit dan makin erat memeluk dirinya sendir, Azlan membetulkan letak pakaian Intankemudain berbisik penuh penyesalan ke telinganya.


"Maaf, maafkan aku, maaf" Perlahan - lahan Azlan membalikan posisi Intan yang membelakanginya hingga kini mereka saling berhadapan. Azlan menghembuskan napas beratnya dan jemarinya menghapus air mata yang membasahi wajah di hadapannya.


Intan memukul - mukul dada Azlan sambil terisak, rasa marah, terkejut dan juga da satu rasa yang belum bisa di mengertinya sedang berkecamuk di dadanya.


"Pukul saja aku sepuasnya, aku memang pantas mendapatkannya," Ucapnya seembut mungkin, ia berusaha untuk menenangkan. Azlan menenggelamkan Intan dalam pelukn kokohnya, di kecupnya berkali - kali punca kepala Intan penuh kasih sayang.


Intan terus memukuli dada dan juga punggung pria yang memeluknya sambil menangis tersedu-sedu, lama-kelamaan pukulannya melemah dan dia meluapkan tangisnya di dada bidang Azlan sepuas-puasnya . Anehnya walaupun Intan merasa marah Tetapi dia menyukai pelukan tubuh Koko itu, terasa melingkupinya dengan aman dan nyaman . akhirnya Intan malah membalas pelukan itu sama adanya tetapi masih dengan air mata yang tumpah ruah dari bola mata cantiknya .


setelah puas menangis Intan mengurai pelukannya, Azlan menatap Intan dengan tetapan lembut tak seperti biasanya , mata garis Itu sebab dengan bulu mata panjangnya yang masih basah. hidungnya memerah, dengan bibir ranum merekah sedikit membengkak karena tadi dia menciumnya habis-habisan .

__ADS_1


Azlan berusaha mengontrol dirinya, walaupun bibir ranum itu kembali menyihirnya . dia mengangsurkan jemarinya merapikan rambut Intan yang terurai menutupi wajahnya.


"Kenapa bapak melakukan itu pada ku?" tanya Intan masih terbata karena sisa - sisa tangisan yang masih mengusainya.


CUP!


Azlan kembali mengecup bibir Intan, gadis itu merengut.


"Itu adalah hukuman karena kamu masih manggil aku dengan sebutan bapak.


"Mana ada hukuman seperti ini?" dengus Intan.


"Suka - sukalah, kan yang punya peraturankan aku." Balsa Azlan.


"Aku... aku juga tidak mengerti dengandiriku. Apa kamu terkejut?" tanya Azlan. Intan mengngguk dan dengan polosnya berkata.


"Ini adalah pengalaman pertamaku, bahkan ciuman pertamaku, juga Ba... kakak yang merenggutnya" kata Intan sambil menutup mulutnya.


Azlan tersenyum, melihat tingkah Intan yang terlihat sangat menggemaskan


sudut hati Aslan mengangkat dan itu menular hingga membentuk sebuah senyuman yang tersungging di bibirnya. Entah mengapa hatinya begitu lega saat mengetahui bahwa dirinya adalah pria pertama bagi Intan .


" apa kamu menyukainya , ciuman ku ?" godanya tanpa tahu malu , sambil tersenyum menipiskan bibirnya .


"Ja-jangan, membahasnya!" wajah Intan berwarna merah mendengar pertanyaan semacam itu.

__ADS_1


" apa kamu tahu ? apa yang kita lakukan tadi itu bukanlah sebuah kesalahan Karena kita adalah pasangan yang sudah sah, bahkan yang lebih dari ini pun bukanlah satu dosa. Mungkin, kita harus membiasakan diri , secara perlahan , tentang hubungan ini " adalah mengutarakan pendapatnya .


"Ke - kenapa, Kenapa kita harus membiasakan diri ? bu - Bukankah pernikahan ini hanyalah... hanyalah ...."ucapan Intan tertahan .


" aku tahu , tapi sepertinya aku ingin meralat semua jawabanku sebelumnya , kurasa sekarang aku ... aku sudah menganggapmu sebagai seorang wanita , bukan Adikku lagi ."


Intan membubarkan matanya mendengar pernyataan Azlan, dia termenung berusaha mencerna apa yang baru saja didengarnya .


"A... Aku, tidak mengerti, apakah... Apakah sebelumnya aku ini bu - bukan wanita? Ta- tapi ke - kenapa?' tanya Intan tergagap dengn plosnya, dirinya masih kebingungan akan ucapan Azlan.


Azlan tersenyum menipiskan bibirnya kemudian mendudukkan dirinya dan bersila di atas tempat tidur, di susul oleh Intan yang melakuan hal serupa.


"Terlalu di pikirkan, biarkan saja mengalir seperti air mengalir, tapi satu hal yang harus selalu di ingat ialah, bahwa kamu sekarang sudah menikah. Aku juga yakin kamu juga tahu, bahwa wanita yang sudah menikah tidak sepantasnya terlalu akrab dengan pria manapun di luaran sana. " kata Azlan, menasehati Intan.


"Kenapa hanya aku?"


"Maksudnya" Azlan bingung dengan pertanyaan Azlan.


"Kenapa hanya aku yang tidak boleh berdekaatan dengan pria lain? Bagaimana denganmu?"


DEG!


Azlan tidak bisa menjawanya, dia benar - benar bingung dengan apa yang tanya kan Intan.


~ Bersambung

__ADS_1


__ADS_2