
Sepanjang perjalanan pulang baik Intan atau pun Azlan, mereka berdua tidak ada yang mengeluarkan suaranya.
Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing - masing.
Sesekali Intan melirik Azlan yang terlihat fokus pada jalan.
'Kenapa jadi canggung gini ya' batin Intan.
____
Sesampainya di apartement...
Tanpa sepata kata pun Intan turun dari mobil, dan langsung berjalan ke lift, Azlan memperhatikan Intan dalam diam.
Saat Intan akan masuk ke kamar dan Azlan pun mengikuti Intan daei belakang, dia juga ikut masuk ke dalam kamar.
"Tan... "
"Iya... "
Intan berbalik dan kaget saat ia menabrak dada bidang yang berotot milik Azlan.
"Awww..."
Intan mengusap usap kepalanya sendiri kemudian ia mendongak ke atas.
Azlan menatap Intan dengan wajah polosnya. Melihat Intan seperti itu membuat Azlan ingat kembali dengan adegan ciumannya dengan Intan tadi saat di rumah mamanya.
Azlan pun langsung kikuk sendiri, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
"Mm... Soal yang tadi... Itu aku minta maaf karena tiba - tiba langsung menciummu. Aku cuma buat alesan aja saat Surya mengetahui keberadaan kita. Karena udah lama aku mencurigai gerak geriknya. Jadi..."
"Nggak apa - apa... Santai aja, aku ngerti kok"
"Baguslah kalau kamu mengerti. Aku harap kamu nggak salah paham dengan semua ini, kalau gitu kamu tidur lah. Aku mau keluar dulu"
Dengan cepat - cepat Azlan keluar dari kamar.
Intan pun langsung terduduk di lantai saat mendengar ucapan terakhir Azlan yang mengatakan agar dirinya tidak salah paham. Intan memegangi bibirnya yang masih bengkak akibat ulah Azlan.
"Aku nggak boleh memasukkan ini ke dalam hati. Atau aku akan terluka nanti. "
"Tapi gimana caranya biar aku nggak memikirkan ini, dia selalu bersikap seenaknya padaku"
Intan pun berdiri dan beraring di atas ranjang, dia akan tidur agar semuanya terasa mimpi.
Sementara Azlan di luar, ia membaringkan dirinya di sofa. Malam ini dia putuskan untuk tidur di sofa.
__ADS_1
Intan maupun Azlan tidak bisa tidur dengan nyenyak, pasalnya mereka berdua sama - sama masih terbayang - bayang akan ciuman mereka tadi, ciuman yang begitu manis.
____
Ke esokkan paginya...
Seperti biasa Intan membantu bik Ijum menyiapkan sarapan, ia menata semua makanan di atas meja dan yang terakhir ia membuatkan kopi untuk Azlan.
Pagi ini Intan ada quis jadi dia harus cepat datang ke sekolah agar bisa membaca buku barang sebentar.
"Bik, nanti kalau tuan udah bangun. Bibik suruh dia sarapan ya. "
"Aku pergi dulu"pamit Intan menyandang tas ranselnya.
"Mau kemana kamu? " tanya Azlan yang baru datang dengan pakaian yang sudah rapi.
"Pertanyaan macam apa itu, sudah jelas aku amu ke sekolah, kemana lagi cobal jawab Intan acuh.
"Ohh"
Intan hendak pergi, namun ia mebghentikan langkahnya dan berbalik.
"Aku pergi dan jangan lupa sarapan" Intan mencium tangan Azlan.
"Gimana aku mau sarapan kalau, nggak ada yang mengidangkan. "
"Nggak enak makan sendiri, temenin ya. "
Intan terdiam.
"Biasanya juga sendirikan, udah nggak usah manja. " Intan melangkah pergi, kalau lama - lama dia di sini yang ada dia akan kesel.
"Hufftt... Gini amat ya, punya istri tapi rasa bujangan. "sindir Azlan sambil meliri Intan yang akan membuka pintu.
"Aish... "Dengan terpaksa Intan pun berbalik dan duduk di depan Azlan.
"Ayo cepat habiskan sarapannya. "ucap Intan malas. Azlan menyeruput kopinya sambil menahan senyuman.
'Dasar tukang maksa'dengus Intan
"Senyum! Awali pagi itu dengan senyuman bukan cemberut kaya gitu"
Intan pun tersenyum, senyum terpaksa pastinya.
Setealh selesai sarapan mereka bersiap untuk berangkat. Saat akan masuk ke dalam mobil masing - masing.
"Intan, Azlan! "
__ADS_1
Mereka pun menoleh, Intan langsung memeluk mamanya.
"Kalian mau kemana? Kok pake mobil masing - masing?"
"Aku mau kesekolah dan kak Azlan mau kekantor mah. "
"Kenapa nggak di antar Azlan aja ke sekolah nya?"
"Intan sekolahnya cuma bentar mah, takut kak Azlan nanti nggak bisa jemput"jawab Intan.
"Ooo... Mama kira apa, baik - baik ya nak. Harus jadi istri yang penurut" Fitri mengelus lengan anaknya.
"Mama sama papa, mau kemana? Kok pagi - pagi udah kesini? "tanya Azlan.
"Eh iya, ini kita mau bilang kalau mama sama papa akan pergi ke Paris untuk beberapa bulan"
"Apa? Selama itu, Intan boleh ikut nggak? "
"Mana boleh kamu ikut nak, kamu kan sekolah dan kamu itu sekarang sudah jadi istri Azlan jadi kalau kamu pengen pergi liburan ajaklah suamimu"balas Wisnu
"Hmmm... Yaudah kalau gitu, kalian berangkat lah, nanti telat"
"Sampai sana, telpon aku ya mah. " Intan kembali memeluk mamanya.
"Azlan tolong jaga Intan ya, nak"
"Iya pah, itu pasti."
"Yaudah mama, papa pergi dulu ya"
Mama dan papa Intan pun berangkat ke bandara. Begitu juga dengan Inta dan Azlan mereka pun pergi meninggalkan apartement.
___
Seaampainya di sekolah, Intan memakirkan mobilnya di tempat biasa. Disana sudah ada mobil Fei dan juga Mayang.
"Gara - gara dia aku jadi nggak sempat belajar. "dengus Intan bergegas beerjalan ke kelas.
Di dalam kelas semua murid sibuk baca bukunya, quis kali ini bukan sembarang quis. Karena kalau sempat nilai mereka tidak mencapai KKM maka habislah mereka. Dijamin tidak akan lulus.
"Oi Tan, lo kok lama sih datangnya. Udah tau ntar ada quis? Udah belajar belum? " tanya Fei, mengakihkan pandangannya saat melihat Intan masuk kedalam kelas.
"Tadi gue udah mau cepat tapi, pria itu selalu aja ngehalang - halang gue. "
Intan duduk di bngkunya dan mengeluarkan bukunya dan mulai membaca.
~ Bersambung
__ADS_1