
Intan sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah, ia pun keluar dari kamar, ia meletakkan tasnya di sofa kemudian berjalan menuju meja makan.
Tak lma Azlan pun keluar dari kamar, Intan hanya menatapnya sekila namun tidak ingin menyapanya.
"Tan, kamu ke sekolahnya bareng aku aja. "
Intan menghentikan langkahnya yang hendak mengambil tas di sofa. Gadis itu menoleh kearah Azlan dan menatapnya sekilas.
"Iya, balasnya sambil mengangguk.
Mereka pun tidak sarapan di rumah pagi ini, karena mereka langsung berangkat.
"Kita sarapan di luar saja. "kata Azlan.
"Iya"balas Intan acuh, entah kenapa dia rasanya sangat malas untuk membalas ucapan pria itu.
Azan menatap Intan sekilas, kemudian mulai menjalanka mobilnya, meninggalkan gedung apartemen. Tak jauh dari mereka tampak mobil Devan yang mulai mendekat gedung apartemen Intan.
"Apa Intan udah berangkat ya? Tapi mobilnya kan masih di bengkel. Apa gue tanya security aja kali ya."
Devan pun memutuskan untuk keluar dari mobil dan berjalan ke security yang kebetulan berdiri tidak jauh darinya.
"Permisi pak. "
"Iya dek, ada apa? "tanya security itu.
"Apa Intan sudah pergi? Hmm... Apa bapak kenal dengan Intan? "tanya Devan, dia takut nanti capek - capek nanya, eh tenyata bapaknya malah nggak kenal dengan Intan. Kan nggak lucu.
"Oo... Dek Intan? Iya saya kenal, karena hanya dia penghuni di sini yang masih SMA. "
Devan bernapas lega
"Apa dia sudah berangkat? "
"Iya, nona Intan sudah pergi beberapa menit yang lalu. " balas pak security.
"Baiklah kalau gitu pak, makasih. "
Devan pun kembali ke mobil dan meneruskan perjalanannya ke sekolah.
____
Azlan menghentikan mobilnya di restoran cepat saji. Ia memesan 2 porsi burger besar dan 2 gelas coklat milo untuknya dan juga Intan.
"Ini makanlah! "seru Azlan.
"Makasih pa... Kak. " Intan belum terbiasa memanggil Azlan dengan sebutan kakak.
Setelah selesai makan, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ke sekolah Intan.
__ADS_1
"Tan, kamu suka ya sama teman kamu yang kemarin?"tanya Azlan membuka suara.
"Kenapa? "Intan menoleh.
"Tinggal jawab apa susahnya."
"Enggak"balas Intan Acuh.
"Kalau sama Adam? "
"Enggak"
"Jadi kamu sukanya sama siapa? " tanya Azlan menatap Intan, dan Intan pun ikut menoleh.
Deg! Jantung Intan berdetak cepat saat pandangan mereka bertemu.
"Emm... Enggak ada, udah fokus aja nyetirnya"
"Termasuk sama aku, kamu juga nggak suka?" tanya Azlan.
Azlan menghentikan mobilnya, saat lampu merah. Ia pun kembali menoleh pada Intan, Intan pun membalas tatapan Azlan.
"Iya aku nggak suka kak Azlan! Kak Azlan egois! Kak Azlan suka marah - marah nggak jelas sama aku!"ucap Intan menggebuh, Intan pun memalingkan wajahnya.
"Pffffttthahaha... " tawa Azlan pun pecah saat melihat ekspresi Intan.
"Lucu kalau kamu lagi marah, Ekspresi kamu itu kalau marah bukannya nakutin tapi malah gemesin"
"Terserah bapak aja" ucap yang kesal dengan Azlan dan dia pun sengaja kembali memanggil Azlan dengan panggilan bapak.
Lampu sudah kembali hijau dan Azlan kembali melanjutkan perjalanannya.
Sampailah merka di depan gerbang sekolah Intan...
Saat Intan akan turun dari mobil, tiba - tiba Azlan menarik tangan Ibtan sedikit lebih keras hingga membuat Intan terpaksa mendekat ke wajah Azlan.
"Ada apa? "
Entah apa yang merasuki Azlan, tiba - tiba Azlan mengecup bibir Intan yang ada di depannya saat itu. Diraihnya tengkuk Intan dan memperdalan ciuman mereka.
Intan membuka lebar matanya karena merasa kaget dengan serangan tiba - tiba Azlan itu.
Intan pun mendorong Azlan, namun bukannya melepaskan Azlan malah semakin memperdalm ciuman mereka.
Intan pun memutar otaknya, dan dia mendapatkan ide yang muncul tiba - tiba di benak nya. Intan menggigit bibir bawah Azlan
"Awww... Sakit Tan"keluhnya.
"Bodo amat! Salah siapa main nyosor aja! " pipi Intan sudah merah seperti tomat.
__ADS_1
"Tapi kamu suka kan?! "goda Azlan sambil tersenyum cengengesan.
"Dasar tua - tua playboy!" dengus Intan.
Intan pun segera keluar dari mobil dan membanting pintu mobil Azlan keras, saking kesalnya dia. Azlan pun hanya terkekeh sambil memegang bibirnya yang terluka.
"Sial!!, bagaimana bisa aku menciumnya begitu! Kenapa aku nggak bisa mengontrol diriku kalau ada di dekat Intan. "
Azlan pun menjalankan mobilnya menuju ke kantor...
Sesampainya di kantor...
Azlan tengan sibuk memeriksa laporan proyek barunya, tidak lama Sifa pun datang membawakan kopi kesukaan Azlan.
"Pagi sayanggg"sapa gadis itu manja.
"Emm... Sifa, iya pagi.. "
Sifa sangat kaget saat melihat bibir bawah Azlan yangbterlihat terluka.
"Eh sayang, itu bibirnya kenapa Kok bengkak gitu?"tanya Sifa.
"Eh ini, tadi nggak sengaja ke gigit sendiri" kawab Azlan berbohong. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada gadis yang ada di depannya.
"Oohhh gitu.. . Kok bisa ya. Pas lagi makan ya yang." balas Sifa yang tau pasti kalau Azlan sedang berbohong dengannya.
"Kamu ngapain ke sini pagi - pagi begini? "tanya Azlan mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Aku mau kamu nanti siang temanin aku belanja dan sekalian aku mau ngomong sama kamu"kata Sifa.
"kenapa nggak telpon aja yang?"
"Coba kamu lihat deh, udah berapa kali aku telpon kamu tapi kamu nggak pernah angkat".
Azlan mengambil ponselnya dan kaget melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari Sifa.
Semalam saat pulang kerja dia terlalu memarah dengan Intan sehingga dia jadi melupakan benda pipih itu.
"Sorry, semalam aku kecapean jadi tidur cepat. "
"Dasar" dengus Sifa
"Yaudah, kalau gitu aku pergi ya. Jangan lupa jemput aku" Sifa pun berlalu pergi meninggalkan Azlan yang terdiam.
"Maaf kan aku Sifa. " gumamnya
"Seperti nya aku harus membuat keputusan untuk masakanku ini, tidak mungkin selamanya hidupku seperti ini. Aku tidak ingin terlalu lama menyakiti mereka berdua" lanjutnya.
~ Bersambung
__ADS_1