Menikahi Cewek Bar - Bar

Menikahi Cewek Bar - Bar
Pindah


__ADS_3

Semua orang mengantarkanAzlan dan Intan sampai di depan rumah. Vian dan Mahi membantu Azlan memaskkan barang - barang Intan.


Intan memeluk mamana manja, "Udah sayang, kamu pasti bisa" ucap Fitri memeluk tubuh putrinya. Intan mengangguk.


"Sering - seringlah mai ke rumah ya,mama sama papa pasti akan sangan merindukanmu." ucap Wisnu mengusap kepala putrinya.


"Kami titip Intan, ya. Tolong jaga dia, dan bimbing dia kejalan yang benar." kat Mahii.


"Kakak, kenapa pesannya seperti itu, apa kakak kira selama ini aku tidak dijalan yang benar, Mah lihat lah kakak" aduh Intan pada Fitri.


"Bagaimana kau bisa menjadi istri, kalau kau saja masih manja seperti ini?"kata Mahi mencubit pipi adik kecilnya.


"Azlan, kau harus sabar ya menghadapinya. " tambah Vian, Azlan hanya diam.


"Awas ya kalian, aku nggak akan mendengarkan curhatan kalian lagi, awas saja" ancam Intan.


"Sudah - sudah, kalian jangan ribut, apa kalian tidak malu di lihatin sama Azlan dan keluarganya." kata Wisnu.


"Apa kalian lihat mereka akan selalu ribut kalau sudah bertemu" kata Wisnu pada Rusdi dan Herlin.


"Tidak apa - apa, bukan kah akan sangat seru karena rumah tidak pernah sepi dan sekrang kalian pasti akan sangat merindukan mereka" kata Rusdi.


"Begitulah.." Wisnu menghela napas.


"Intan, ayo kita berangkat." ajak Azlan.


intan pun mengangguk. Mereka berpamitan pada semua orang. Fitri dan Wisnu sangat sedih.


____


Sepanjang perjalanan Intan terus saja menangis, bahkan sekarang mobil Azlan sudah penuh dengan tisu. " Apa kau ingin terus menangis sampai air mata mu itu kering" kata Azlan.


"Ka.... Kau Ja...ja..ngan me...nge...jek.. Ku... Hiks... Hiks" Azlan menggelengkan kepalanya, dia benar - benar tidak beruntung, bagaimana bisa dia punya istri bocah. Azlan memijit kepalanya


___


Di sini hanya ada satu kamar, dan itu adalah kamarku." kata Azlan.


"Lalu di mana kamarku?"tanya Intan.


"Ya mau nggak mau kau juga akan tidur di sini tapi di sofa itu." balas Azlan menunjuk sofa yang ada di sudut kamar.

__ADS_1


"Bagaimana bisa aku tidur di sana? Bapak jangan ngadi - ngadi" kata Intan tidak terima.


"Yasudah kalau kau tidak mau tidur di sana, kamu bisa tidur di lantai kalau begitu."


"Tidak, aku akan tidur di sini, bapak aja yang tidur di sofa atau di lantai" kata Intan duduk di ranjang king size Azlan.


"Apa kau lupa kalau ini adalah rumahku?"


"Ok, kalau gitu kita akan pindah ke apartemenku saja. Disana ada dua kamar, jadi kita tidak perlu ribut masalah kamar." kata Intan.


"apa kau sudah gila? Apa kau ingin memberitahukan pada keluarga kalau hubungan kita tidak baik"


"Nyatanya kan memang begitu, tidak ada yang harus di tutup tutupi." balas Intan


"Kau masih kecil jadi tidak akan mengerti"


"makanya buat lah aku mengerti" balas Intan.


Azlan menghela napas. "Buatlah, apa pun yang kau inginkan, aku sagat lelah." ucap Azlan berjalan ke kamar mandi.


"O iya, pak..."


"Apa salahnya dengan panggilan itu, aku sangat menyukainya" balas Intan.


"Tapi itu sangat menyebalkan, kau tahu." kata Azlan melanjutkan langkahnya.


"Dia selalu saja marah - marah apa dia tidak takut hipertensi dan itu bisa saja membuatnya mati cepat.." dengus Intan


___


Intan sudah selesai menyusun barang - barangnya, dia pun sudah menyelesaikan tugas sekolahnya. Intan melirik jam yang ada di meja belajar dadakannya. Yap, karena Intan yang membutuhkan meja untuk belajar, jadi dengan terpaksa Azlan menyuruh Intan untuk bejar di meja kerjanya.


"Aku sangat capek." Intan merenggangkan ototnya. Ia pun beralan menuju kamar, dia melihat Azlan yang sedang duduk di ranjang sedang melihat I-pad di tangannya.


Dengan ragu Intan berjalan menghampirinya. "Jadi kita akan tidur di ranjang yang sama?" tanya intan


"Lalu kauu mau di mana lagi? Kau kan tidak mau tidur di sofa atau di lantai dan aku pun juga tidak, jadi kita seranjang saja." jawab Azlan tanpa engalihkan pandangannya dari I-padnya.


Dengan ragu Intan menaiki ranjang, dia meletakan bantal guling di tengah - tengah mereka. Menarik selimut dan mulai tidur, saat menutu mata dia mendengar kalau Azlan membuang bantal guling itu.


Intan kembali duduk dan menatap Azlan dengan tatapan tak percaya. "Kenapa di buang?" tanya Intan.

__ADS_1


"Aku tidak suka dengan guling itu, itu membuat ranjangku sempit." ucap Azlan.


"Tapi..."


"Tidur atau keluar dari sini!" seru Azlan tegas tanpa penolakan.


"Dasar pria gila."Dumel Intan.


"Awas saja kau kau menyentuhku?"


"Kenapa memangnya, bukanya aku sudah berhak atas dirimu?" kata Azlan


"Aku tidak mau tahu pokoknya kau tidak boleh menyentuhku? Kalau kau melanggarnya, kau akan menyesal nanti."


"Apa kau sedang mengancamku?" tanya Azlan.


"Terserah kau mau menganggapnya apa yang jelas jangan lewati batasmu." Intan membaringkan tuubunya, ia memunggungi Azlan. Azlan tersenyum melihat tingkah istri kecilnya itu.


"Menggemaskan." gumamnya pelan.


___


Pukul Intan terbangun saat mendengar azan subuuh, ia pun menggeliat. Dia merasa tidurnya sangat nyenyak. Intan merasakan ada yang aneh, kenapa dia tidak bisa menggerakan tubuhnya dengan leluasa. Ia melihat ke samping dan yang benar saja, dia sedang memeluk tubuh Azlan dan begitu pun dengan pria itu.


"Kenapa aku bisa memelukkan dan dia pun kenapa juga memeluk ku seperti ituu? Atau jangan - jangan dia..." intan dengan segera menoleh ke bawa, dan syukurnya dia melihat kalau pakaiannya masih aman.


Dengan gerakan pelan Intan beranjak dari tidurnya, dia melepaskan tangan pria itu pelan.


Intan berjalan ke kamar mandi dan berwudhu, Intan menjalankan rutinitas ibadah subuhnya. Setelah sholat Intan berjalan keluar, dia Ingin berolahraga sebentar sebelum mandi dan pergi ke sekolah.


Intan tidak berniat membangunkan pria yang sedang tidur pulas di atas ranjang.


Setelah bersiap - siap, Intan menoleh ke arah tempat tidur, dia tersenyum. " aku tidak akan membangunkanmu, biar kau tahu rasa." gumam Intan, ia melirik jam tangannya. Sudah pukul 7,sudah bisa di pastikan kalau pria itu akan terlambat ke kantor nantinya.


"Pak tua, aku pinjam mobilmu ya..." bisik Intan dan mengambil kunci mobil Azlan di atas meja kerjanya.


"Ini adalah hukuman , karena kau telah memelukku" ucap Intan. Dengan riang dia pun berjalan keluar apartemen. Dia bisa membayangkan bagaimana marahnya Azlan setelah ini.


Bukan Intan namanya kalau takut dengan seorang pria, dia malahan dia merasa tertantang untuk terus mengerjai Azlan


~ Bersambung

__ADS_1


__ADS_2