Menikahi Cewek Bar - Bar

Menikahi Cewek Bar - Bar
Diundang ke rumah Devan


__ADS_3

Sebelum Azlan bangun, Intan sudah keluar dari apartement itu, dia rasanya tidak sanggup bertemu dengan Azlan.


"Aku harus kemana?"


"Ih.. Ni mulut kalau ngomong nggak mikir dulu deh, kan ribet jaidnya"


Intan melirik ke kanan dan ke kiri, dia merasa lapar karena memang belum sarapan.


"Makan bubur enak kali ya" Intan menepikan mobilnya ke pedang bubur yang ada di pinggir jalan.


Intan turun dan memesan bubur untuknya.


"Fei sama Mayang mau nggak ya" Intan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi kedua temannya.


"Pak tolong bungkusin 2 ya!" Intan memesankan untuk kedua sahabatnya.


"Kalau mereka nggak mau, nanti aku kasih ke yang lainaja" gumam Intan, karena tadi pesan dan panggilannya tak di balas oleh mereka.


"Ini neng buburnya." ukang bubur meletakan semakuk bubur di depan Intan.


"Makasih pak."


Intan mulai menyantap buburnya dengan lahap. Dia seakan beum makan dari kemaren.


"Pak, buburnya enak" Intan memberikan selembar uang merah.


"Ini kembalinnya neng."


"Nggak usah pak, ambil aja pak buat bapak" Intan tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan tukang bubur itu.


"Zaman sekarang ternyata masih ada orang baik seperti dia. Padahal tadi say kira dia itu sangat sombong" ucap pedang bubur pada tukang roti di sebelahnya.


___


Intan sampai di sekolahnya, di datang berbarengan dengan Mayang dan Fei.


"Wihhh... Tumben lo cepat?"


"Iya, ini tadi gue makan bubur dan rasanya enak, jadi gue beliin kalian dua sekalian.


"Widiihh... Kebetulan gue tadi nggak sempat sarapan" Fei mengambil makanan itu.


"Sama gue jugga, maachiuuu sayang akyuu" Mayang memeluk Intan.


"Yuk kita makan di kantin" mereka pun berlalu pergi ke kantin untuk makan bubur itu.


____


Bik Ijum dari tadi berusaha membangun kan Azlan, namun tidak ada pergerakan dari tuannya itu.


"Aduhh... Kenapa sudah banget sih bangun tuan. Ini sudah jam 7 dia bisa terlambat ke kantornya.


Bik Ijum tidak kehabisan akal, ia pergi ke dapur dan mengambil sesuatu. Lalu ia kembali ke ruang tv.


"Maafkan saya tuan" Bik Ijum menarik nafas, sebelum.

__ADS_1


TENGGGG~


"ARGHH..." teriak Azlan kaget, ia langsung berdiri dan menatap bik Ijum tajam.


"Ada apa Bik?"


"Itu tuan, anu.."


"Bicara yang jelas bik!" Azlan duduk di sofa dan memegang dadanya.


"Sudah pukul 7 , apa tuang tidak ke kantor?" Azlan membelalakkan matanya saat mendengar perkataan bik Ijum.


"Kenapa baru bangunin saya bik? Aduhhh saya ada meeting pagi ini" Azlan berlari ke kamar.


Bik Ijum geleng - geleng melihat tingkah tuan muda nya itu.


"Mungkin mereka memang jodoh, tingkah tuan sama persis dengan nona kalau sedang kegat atau panik."


Tak butuh waktu lama, Azlan pun keluar kamar dengan pakaian yang sudah rapi, ia meletakkan tas kerjanya di Sofa, kemudian berjalan ke meja makan.


"Intan mana bik?" Azlan menyeruput kopinya dan memanka roti lapisnya.


"Nona sudah berangkat tuan." Azlan menghentikan makanya.


"Kapan dan sama siapa?"


"Bibik kurang tahu tuan, tapi tadi saat bibik baru bangun, nona sudah rapi dengan seragamnya"


Azlan hanya diam, kemudian ia beranjak berdiri.


___


Intan mencoba untuk tidak memikirkan masalah rumah tangganya. Dia harus fokus belajar, karena hari ini dia ada kuis.


"Lo udah belajar belum , Tan?" Fei menoleh ke belakang.


"Lo pikir, gue serajin itu, sampai belajar " Mayang menggeleng.


"Udah kita lalui aja seperti biasa"


"Semua buku dan tas mohon di letakan di lantai. Jangan sampai ada yanng kedapatan mencontek!" Guru pun mulai kelilng memeriksa laci setiap meja.


"Baiklah, kuisnya kita mulai. " Soalpun muai di bagikan


Kepala Intan rasanya sangat pusing, setelah selesai kuis, Intan langsung menarik kedua sahabatnya untuk ke kantin.


"Gue benar - benar lapar di buatnya"


"Nggak heran, udah sana borong semua makanannya!" Mayang membantu Intan untuk memesan semua jenis makanan.


Ibu kantin tidak heran dengan hal itu, karena setiap selesai ujian Intan dan teman - temannya memang butuh makan banyak.


"Bu, kita habis kuis, seperti biasa ya !" Mayang pun kembali kursinya.


"Ibu cepetan ya!" teriak Intan dari meja.

__ADS_1


" Sumpah soalnya susah banget, " Intan meletakkan kepalanya di atas meja.


Ibu kantin dan karawannya pun mengantarkan pesanan Intan dan teman - temannya.


Setelah makan Intan dan kedua sahabatnya memutuskan untuk duduk di taman belakang sekolah.


"Perut gue penuh banget"


"Tapi gue puas"


"Intan!"


Intan menoleh kearah sumber sumber suara. Ia melihat Yuni berjalan ke arahnya.


"Iya, apa Yun?"


"Itu... Hari ini kakak gue pulang dari rumah sakit dan mama nyuruh lo untuk datang ke rumah."


Intan mengerutkan keningnya. " Mon maaf ni ya. Kan yang pulang kakaknya lo, hubungannya sama gue apa?" tanya Intan.


"Lagi pula gue kenal juga nggak sama kakak lo itu"


"Aish... Gue lupa bilang, hari ini Devan pulang dri rumah sakit, dan mama bilang kalau lo bisa datang kerumah."


Intan dan kedua sahabatnya pun menatap yuni bingung.


"Kalian masih belum mengerti?" Intan dan kedua sahabatnya pun menggeleng.


"Tc, benar - benar deh lo pada. Gue sama Devan itu kakak adek"


"Kandung?" tanya Mayang dan di balas dengan anggukan oleh Yuni.


"Gimana, lo mau nggak, Tan?"


"Kita berdua nggak di ajak, Yun?"


"Boleh, kalian juga"


"Ok, kita pergi ntar."


"Ok, gue tunggu ya, kita berangkatnya bereng aja."


Yuni pun pergi meninggalkan mereka.


"Gue masih nggak percaya kalau Yuni sama Devan itu kakak adek."


"Sama gue juga."


____


Sesuai dengan janjinya mereka pun pergi ke rumah Yuni. Sebelum pergi Intan mengirim pesan terlebih dulu pada Azlan. Meski pun dia sedang perang dingin dengan pria itu, tapi setidaknya Intan masih ingat dengan ajaran agama yang selama ini ia pelajari.


Pak, aku pulang sekolah kerumah teman. Dia kemaren habis ke celakaan trus pulang hari ini.


Setelah mengirim pesan itu, Intan kembali memasukkan ponselnya kedalam tas. Mereka ke rumah Devan menggunakan mobil masing - masing.

__ADS_1


~ Bersambung


__ADS_2