
"Kenapa hanya aku yang tidak boleh berdekaatan dengan pria lain? Bagaimana denganmu?"
DEG!
Azlan tidak bisa menjawabnya, dia benar - benar bingung dengan apa yang tanya kan Intan.
"Sudah jangan banyak tanya. Sekarang kamu pergi mandi sana! Bau asem" ledek Azlan.
Intan mendengus kesal, " Sekarang aja bilang bau asam, tadi aja... "
Azlan hanya menanggapinya dengan senyum. Kemudian pria itu beranjak pergi meninggalkan Intan yang masih duduk di atas tempat tidur.
"Dasar pria mesum. " dengusnya kesal.
____
Sejak selesai mandi, Intan terus menerus menggerutu di depan cermin besar yang ada di ruang ganti, dia bahkan mengacak - acak isi lemari besar itu untuk menemukan baju yang sesuai.
Ia, kebingungan memilih pakaian, karena bekas jejak bibir Azlan yang bertebaran dari dagu hingga bahunya. Baju bermodelan turtleneckturtleneck pun tidak banyak menolongnya untuk menyembunyikan kios mak yang begitu kentara di kulitnya. Bagian leher dan bahunya emang bisa aman di sembunyikannya, tetapi satu tanda merah di bawah matanya benar - benar sangat sulit untuk di tutupinya.
Intan menghentak-hentakkan kakinya kesal, karena perbuatan Azlan, kulitnya jadi belang eperti macan tutul. Akhirnya, gadis cantik itu memilih memakai kaos turtleneck berlengan panjang berwarna putih yang di padukaan dengan rok jeans di bawah lutut berwarna peach.
Jejak merah di bawah matanya, disamarkannya dengan menggunakan foundation, berharap warnanya agak pudar dn tidak terlalu ketawa. Tambun panjangnya yang sedikit bergelombang di biarkan tergerai bebas, membuat saraf coklat nya itu melambai - lambai saat ia berjalan melangkahkan kakinya keluar kamar.
Intan menghampiri Azlan yang sedang duduk di sofa. Pria itu sedang asik memainkan ponselnya.
"Ayo"
Azlan mendongak, " Kemana?" dengan kening berkerut.
"Karena tadi, ba.. Kakak telah berbuat jahat padaku, maka aku ingin kakak menebus kesalahan kakak dengan makan di luar."
Azlan tersenyum senang, saat mendengar Intan yang sudah merubah panggilannya.
"Yang berbuat salah kan kamu, bukan aku." balasnya acuh.
"Pokoknya aku nggak mau tahu, pokoknya kita harus makan malam di luar. Apa kakak nggak lihat ini gara - gara bibir jahanam kakak itu aku jadi pusing di buatnya." dengus intan menekuk wajahnya.
__ADS_1
"Pusing? Kenapa pusing? Atau kamu mau lagi." jawab Azlan dengan sengaja menggoda gadis itu.
"Ogah banget, lihat ini, butuh waktu yang lama buat aku nutupi ini"
Bukannya merasa bersalah, Azlan malah tersenyum puas. " Seharusnya,nggak usah kamu tutupi, biarkan saja"
Intan membulatkan matanya, " Yang benar saja!"
"Yaudah, kita mau kemana?" tanya Azlan akhirnya.
"Kita makan di luar."
"Tapi, bik ijum udah masak makan malam buat kita. Sayang kan kalau nggak di makan"
Intan pun terdiam. Setelah lama berfikir akhirnya Intan mengurungkan niatnya yang hendak makan di luar. Dia tidak bisa mengabaikan makanan bik Jum. Wanita paru bayah itu pasti sudah capek membautkan makanan untuk mereka dan kalau nggak di makan, kan sayang banget.
"Gimana? Apa masih tetap makan di luar?" tanya Azlan.
Tanpa menjawab pertanyaan Azlan, Intan berbaik dan memanggil bik Ijum untuk menyiapkan makanannya.
"Bi, ayo kita makan!" teriak Intan.
___
Dikamar.
Setelah makan, Intan langsung mengerjakan tugasnya, dia tidak ingin di saat - saat terakhir nilinya jelek.
Melihat Intan yang sedang fokus mengerjakan tugasnya, Azlan pun memilih mengerjakan tugas - tugasnya di atas tempat tidur.
Sesekali Azlan melirik Intan yang sedang belajar di meja kerjanya. Intan terlihat sudah sangat mengantuk buktinya gadis itu selalu menguap.
"Kalau sudah mengantuk, jangan di paksakan lagi,, lanjutin besok aja!"seru Azlan, tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop yang ada di pangkuannya.
Intan menoleh, " tapi ini tinggal sedikit lagi, sangat nanggung." balasnya, yang kembali mencoba untuk fokus.
Tapi tak berapa lama, Intan kembai menguap sampai air mata gadis itu keluar.
__ADS_1
"Kamu yang berjaan ke sini atau aku yang akan menggendongmu kemari!" ucap Azlan dengan nada tidak bisa di bantah.
"Tc, Iya , iya, dasar pemaksa" dengus Intan.
Intan beraak dari duduknya berjalan ke kamar mandi, lalu masuk ke dalam walkin closet. Azlan hanya diam dan melirik gadis itu lewat ujung matanya.
"Ngapain dia di walkin closet lama gitu?" gumam Azlan, ia pun kembali fokus pada pekerjaannya.
Tak lama Intan pun keluar dari ruang baju itu, ia menghampiri Azlan. Naik ke atas ranjang, membaringkan tubuhnya di samping Azlan, tidak lupa Intan juga menarik selimut sampai bahunya.
Azlan yang merasa aneh pun menoleh ke arah gadis itu. Ia mengerjit bingung,
"Kamu ngapai?"
"Tidur, ngapain lgi." jawab Intan sekenahnya.
"Iya Aku tahu, tapi kenapa kamu terlihat aneh gitu?" tanya Azlan yang masih memperhatikkannya.
"Aneh gimana, ini tu style tidur biar kondisi aman dan terkendali" ucap Intan.
Azlan menatapnya bingung,
"Aku takut nanti kakak lepas kendli lagi, makanya aku jaga - jaga"
Azlan melongos tak percaya, bagaimana bisa gadis itu bisa menebak isi kepalanya.
"Udah ah, aku mau tidur, jangan ngganggu!"Ucapnya.
"Baiklah." Azlan masih menatap Intan dengan tatapan tak percaya.
"Apa tidak panas?"
"Panas lah, tapi demi keamanan dan ke nyamanan" balsa gadis itu.
Azlan hanya mengela napas pasrah, ia tak habis pikir dengan istri kecilnya itu.
~ Bersambung
__ADS_1