
Sore harinya, Intan baru pulang sekolah, ia segera mandi dan menyegarkan badannya yang sudah terasa lengket. Setelah itu Intan pergi kedapur untuk membuat cemilan malamnya, malam ini Intan berencana akan begadang.
"Lagi apa non?"
"Ini lagi bikin cookies bik,"jawab Intan.
"Apa ada yang bisa bibik bantu?"
Intan menghentikan kegiatannya, menoleh pada bibik dan tersenyum.
"Nggak usah, bibik istirahat aja. Ini biar Intan yang bikin" ucapnya.
"Baiklah "bibik tersenyum.
Intan kembali sibuk dengan semua bahan - bahan kuenya. Ia menghabiskan waktu satu jam hanya untuk membuat kue.
Setelah kuenya mateng, Intan pun memindahkannya ke dalam toples. Ia juga tidak lupa untuk membaginya dengan bibik, karena bik Ijum sangat suka dengan kue buatannya.
"Bik, ini di makan ya. Tapi aku nggak bisa jamin rasanya, karena ini resep baru"kata Intan.
"Iya non, semua masakan nona pasti enak kok" balasnya tersenyum.
"Yaudah, kalau gitu Intan ke depan ya, mau nonton"
"Iya, nanti nona laper, panggil bibik ya. Biar masakannya bibik panasin dulu nanti."
"Iya bik."
Intan pun berlalu pergi meninggalkan dapur dan pergi ke ruang Tv.
____
Malam harinya sekitar pukul tujuh, Azlan pulang di antar oleh seorang pria yang tidak di kenal Intan. Intan yang sedang asim menonton pun sabgat kaget melihat kondisi Azlan.
__ADS_1
"Dia kenapa pak?"tanya Intan,
"Tadi bapak tiba - tiba hilang kesadaran bu" jawab pria itu. Ia pun menyerahkan tubuh Azlan pada Intan.
"Kalau begitu, terima kasih ya pak"jawan Intan, ia memegangi Azlan dengan susah payah. Intan sengaja tidak minta tolong pada pria itu untuk mengantarkan Azlan sampai ke dalam kamar. Dia takut nanti terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkannya.
Pria itu mengangguk dan berlalu pergi. Intan menutup kembali pintu apartemen.
Bik Ijum pun berlari tergopoh - gopoh menghampiri Intan yang sedang ke susahan membawa Azlan.
"Astagfirullah, non. Tuan kenapa?"tanya bibik.
"Nggak tau bik, tapi tadi kata pria itu kak Azlan tiba - tiba pingsan."
"Ayo bik, bantu aku bwa dia ke kamar" Intan dan bik Ijum pun membopong tubuh Azlan ke dalam kamar.
Setelah berhasil membaringkannya, Intan menatap Azlan khawatir. Bagaimana pria itu bisa tiba - tiba sakit padahal tadi pagi dia sangat baik - baik saja.
"Apa yang terjadi dengannya sebenarnya?"gumam Intan.
Intan membenarkan posisi tubuh Azlan dan dia juga menyelimuti pria itu.
Intan meletakkan tanganya di dahi Azlan. " badanya panas banget" gumamnya.
"Dia demam"
Tak lama bik Ijum pun datang dengan semangkuk bubur dan segelas air putih, tak lupa handuk kecil dan juga sebaskom air hangat.
"Non, ini buburnya. Sebaiknya tuan makan bubur dulu sebelum minum obat. Dan ini bibik bawa handuk kecil dan air hangat untuk menyeka tubuh tuan, karena tadi bibik lihat tuan sangat banyak mengeluarkan keringat."kata bibik.
"Apa harus aku yang menyeka keringatnya bik?"tanya Intan.
Bibik menatap Intan, " Kalau bukan nona, siapa lagi? Tidak mungkin bibik yang melakukannya."
__ADS_1
"Menyeka tubuhnya dengan air hangat bisa menurunkan demamnya dengan cepat non" lanjut bik Ijum yang melihat keraguan Intan.
"Ta-pi bik, aku harus menyeka tu-buhnya?"ucap Intan tergagap.
"Iya non, Jika tidaj di seka, khawatirnya keadaan tuan akan semakin memburuk karena keringat dingin yang di biarkan bisa menyebabkan masuk angin." jelas bik Ijum.
Intan menatap Azlan ragu, bagaimana dia melakukannya. Dia tidak pernah melihat tubuh pria toples secara nyata kecuali di drama - drama yang dia tonton.
"Kalau gitu bibik keluar dulu Non, kalau butuh sesuatu non panggil bibik aja." Bik Ijum pun berlalu pergi keluar dari kamar Intan dan Azlan.
Tanganya terulur membuka kancing kemejanAzlan sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. Namun, baru setengah dari keseluruhan kancing yang di buka, tangan Azlan menarik tangannya hingga membuat Ibtan memekik kaget karena wajahnya menabrak dada bidang yang setengah telanjang itu.
"Akhh!" pekik Intan terkejut saat Azlan menarik lengannya hingga wajahnya mendarat tepat di dada bidang pria itu dengan kancing kemeja yang sudah terbuka separuh.
Setengah tubuhnya terjatuh di atas tubuh Azlan yang berbaring terlentang, Intan hedak bangkit, tetapi secara tiba - tiba Azlan membalikkan posisi mereka sehingga kini Intab berada di bawah kungkungannya dan tangannya mencengkram pergelangan tangan gadis itu dengan kuat. Mungkin karena demam tinggi membuat Azlan jafi berhalusinasi dan mengira yang ada di depannya adalah Sifa sang kekasih.
"Sifa kenapa.... Kenapa kamu melakukan ini pada ku?... Salahku apa Sifa kenapa kamu tega melakukan ini..." Azlan berteriak, suaranya serak sarat akan kepedihan yang mendalam . Sorot matanya memancarkan akan kepedihan yang mendalam.
"Sifa? Siapa itu Sifa? " gumam Intan.
"Kak sadarlah, aku bukan Sifa!"teriak Intan meronta - ronta berusaha melepaskan diri, tetapi tentu saja tubuhnya kurusnya takkan mampu membuat Azlan bergeming.
Namun, tanpa di duga Azlan malasn mencium nya dan kini Azlan menciumnya dengan kasar tidak seperti ciumannya tadi pagi yang sangat lembut dan manis. Tapi sekarang ini, ciuman ini sarat akan kemarahan .
Intan membulatkan matanya, dia sangat kaget dengan serangan dadakan dari Azlan.
Intan tidak membalas ciuman pria itu, dia hanya diam dan terus berusaha melepaskan diri dari pria yang ada di atasnya ini. Dalam pikiran Intan masih berkecamuk mengenai nama yang di sebutkan Azlan tadi. Apakah itu nama kekasih pria itu.
Paru - parunya mulai memberontak dan sisa - sisa napasnya terasa mencekik lehernya, Intan menggigit bibir Azlan berharap agar pria itu menyudahi apa yang sedang di lakukannya dan itu berhasil. Napas Intan tersengal, dadanya naim turun, lalu menghirup udara dengan rakus saat Azlan melepaskan pertautan bibirnya. Tetapi, tak di pungkiri jantungnya berdetak kencang saat ciuman itu berlangsung.
"Kakak, Aku Intan sadarlah!"dengan napas yang tersengal Intan berteriak sekencang - kencangnya.
suara teriakan Intan akhirnya berhasil menarik kembali kesadarannya, Aslan terkesiap saat menyadari tubuhnya mendidih intan dan mencengkeram pergelangan tangan Gadis itu sekuat tenaga. Ia melepas cengkramannya lalu segera bangkit dan turun dari ranjang.
__ADS_1
~ Bersambung