
Intan berjalan murung, di sepanjang koridor sekolah, semua murid menatapnya. Mereka heran melihat Intan yang seperti itu. Bagaimana mungkin Intan yang selalu semangat sekarang tampak murung.
Setibanya di kelas, Intan langsung duduk di bangkunya. Menenggelamkan wajahnya di lipatan tangannya di atas meja.
Doorrr....
Intan mengangkat kepalanya, menatap sesorang yang sedang berdiri di depannya.
"Lo tidur?"
"Kagak?"
"Terus barusan apaa?"
"Meditasi."jawab Intan asal.
"Lo ngapain kesini? Tumben datang cepat"
"Nggak tau kenapa gue tadi pagi cepat bangun dan karena bosen di rumah makanya gue cepat datang"
"Yaudah sana! Jangan ganggu gue!" Intan mengibaskan tangannya mengusir, Devan.
"Ih apaan sih, pagi - pagi udah sensi aja.PMS lo ya?" tebak Devan asal
"Tau apa lo, soal PMS?"
"Gue tahu segalanya, emang kayak lo yang nggak tau apa - apa" dengus Devan.
"Bodoh ah... Minggir jangan ganggu gue"Intan kembali merebahkan kepalanya di atas meja.
"Kantin yuk!" ajak Devan
"Pergi sendiri, lagian gue udah sarapan."
"Tapi gue belum, lo temenin gue napa?"
"Ogah, pergi!!"
"Tega banget lo, padahal gue kan baru sembuh, kalau gue jatuh atau gimana di perjalanan menuju kantinnya gimana? Siapa yang bakal banytu gue?"
"Itu bukan urusan gue"Intan masa bodoh.
Tapi bukan Devan namanya jika tidak, melakukan apapun semaunya. Devan menarik tangan Intan dan membawanya ke kantin bersamanya.
"Aihs... Resek banget sih lo!!"
____
Setelah sarapan Azlan pun pergi, tadi dia berjanji pada Sifa untuk menjemput gadis itu ke apartemennya. Entah apa yang terjadi sehingga kekasihnya itu minta di jemput sepagi ini.
"Hai sayang, Selamat pagi" sapa Azlan saat Sifa memasuki mobilnya.
__ADS_1
"Pagi, apa kamu udah sarapan?"
"Udha tadi, bibik bikinin nasi goreng sea food."
"Bibik? Sejak kapan apartemen kamu pakai bibik?" Sifa mengerutkan keningnya,
"Hmmm... Itu.. Itu... Mama yang kirim, "
"Wah, benar tukeputusan tante, tau aja anaknya super sibuk"
"Hmm..."
"Jadi hari ini kita kemana?" tanya Azlan.
"Berhubung hari ini kamu nggak ada kerjaaan, jadi hari ini kamu harus temanin aku buat gasih materi seminar di SMA N BAKTI"
"Baiklah, tapi tumben kamu mau ngisi seminar di SMA, kenapa?"
"Kamu kayak nggak tau aja sama adek aku, dia itu maksa banget minta aku buat adain seminar di sana"
"Jadi, di sana ada adek kamu? Trus kita bagaimana?"
"Kamu tenang aja, biar nanti aku bilang kalau kamu itu rekan aku."
"Baiklah"
____
Semua murid kelas 12 di SMA N BAKTI, berkumpul di aula. Anggota osis tampak sibuk mengatur semuanya. Tapi berbeda dengan Intan dan kedua sahabatnya. Mereka juga anggota OSIS tapi mereka tidak ikut sibuk seperti anggota lainnya.
"Emang lo nggak dengar kemaren, kan udah di umunin sama Kemal sang ketua OSIS."
"Nggak, gue malas banget lihat dia kalau lagi ngomong , buang - buang waktu. aja"
"EH Intan, kamu ajalah anggota lain buat ambil snack ke kantin!" perintah kemal.
"Banyak nggak?" tanya Fei,
"Nggak kok, cuma 2 kotak, buat tamunya aja. Kalian tinggal ngabil aja, tadi udah aku pesan"
"Ok!"
Intan dan Fei pergi ke kantin dan mengambil pesan Kemal. Tak lama Devan pun datang menghampiri mereka.
"Eh kalian lahi ngapain?" tanya Devan menghampiri mereka.
"Lo, udah sembuh , Van?"
"Belum sih, tapi gue bosan di rumah"
"Tukar posisi aja ama gue."
__ADS_1
"Hust, lo nggak boleh ngomong gitu!" tegur Intan. menyerahkan satu nampan buat Fei bawa.
"Yuk! Lo ngapain kesini Van? Nanti Kemal liat, habis lu di hukum."
"Biarin aja, ge nggak takut sama dia. Gue ke sini buat nyusulin kalin, bosen banget di dalam."
Merepun kembali ke aula, sepanjang perjalanamn Devan nggak henti - hentinya, mengganggu Intan. Intan luarnya aja kesal, tapi hatinya sangat lah berbunga - bunga.
Intan dan Fei meletakkan nampannya di atas meja, saat Intan mendongakkan kepalaya, dia sangat kaget dengan kehadiran Azlan di sana.
'Bagaimana mungkin dia bisa ada di sini?' batin Intan kaget.
Ia hanya diam dan kembai ke tempat duduknya, dan entah sejak kapan Devan sudah duduk di sampingnya. Tidak jauh bedanya dengan Intan, Azlan juga tidak kalah kagetnya dengan Intan. Pria itu tidak melepaskan pandangannya dari Intan.
' Ternyata dia sekolah di sini?' Azlan mengerutkan keningnya saat melihat pria di sebelah Intan.
'Siapa dia? Kenapa dia sangat dekat dengan Intan?'
Acara berjalan dengan lancar, dan sepanjang acara Azlan duduk di depan dengan mata yang selalu mengawasi Intan. Gadis itu terlihat tidak memperhatikan acara, dia lebih fokus mengurus teman prianya yang ada di sebelahnya.
"Baiklah adek - adek, terima kasih atas sambutan nya. Dan maaf kalau materi yang kakak - kakak berkan tidak terlalu memuaskan. Kakak doakan kalian semua sukses dan bisa menggapai impian kalian. Hmmm.... Bagaimana kak Azlan apa ada yang ingin di sampaikan?" Sifa menoleh kearah Azlan.
Azlan pun tersenyum" pesan saya cuma satu. Kalian harus memiliki pendirian dan tidak boleh ragu - ragu dalam mengambil keputusan. Itu saja terima kasih." Azlan pun tersenyum.
Semua siswi pun menjerit tertahan melihatnya.
Acara pun bubar dan semua murid kembali ke kelas kecuali anggota OSIS , karena mereka akan mengadakan foto bersama sebagai dokumentasi.
"Eh, lo kenapa nggak pergi ke kelas?" Intan heran melihat Devan yang masih duduk di sebelahnya.
"Apa urusannya sama lo, gue mau disini. Enak aja kalian foto - foto tanpa gue"
"Dasar alay."
"Biarin, asal bisa foto bareng sama kak SIfa yang cantik"
"Awas ya lo kalau macam - macam sama kakak gue!" sahut Mayang yang duduk di samping Fei.
"Nggak macem- macem kok, cuma minta foto bareng sama nomor wa nya."
"Idih.... Nggak sudi banget kalau lo naksirin kakak gue." kata Mayang tak terima.
"Apaan sehatusnya o bersyukur, karena punya abang ipar yang ganteng kayak gue."
"Idih, lebay. Kakak gue itu udah punya pacar kali" balas Mayang yang tidak ma kalah.
"Masih pacarkan, itu mah gampang..."
Cukup, apa kalian akan terus berantem? Pusing gue dengarnya.
____
__ADS_1
Acara foto pun selesai, Intan dan Fei pun menemani Mayang yang mengantarka kakanya ke pakiran. Sepanjang jalan Intan hanya diam saja, entah kenapa dia masih kesal dengan Azlan, dan jangan tanya alasannya karena Intan sendiri tidak tahu alasannya.
~ Bersambung