
Intan masih melihat kerumunan orang itu , di sela-sela kerumunan masa Intan melihat motor milik korban yang bertengger di tepi jalan .
" lo itu kayaknya pernah lihat deh motornya," Intan menepikan mobilnya dan turun tak jauh dari tempat kejadian. Intan melerai kerumunan orang-orang dan berusaha melihat korban kecelakaan itu .
Intan pun membelalakkan matanya saat melihat korban kecelakaan itu adalah Devan teman sekelasnya.
"Devan?!"
Semua orang menoleh ke arah Intan.
"Kamu kenal sama orang ini?"
"Iya pak, dia temab sekelas saya. Pak tolong bantu angkat dia ke mobil saya. Biar saya bawa ke rumah sakit.
Bapak - bapak itu pun membawa Devan kedalam mobil Intan. Dengan penuh ke khawatiran Intan pun membawa Devan ke rumah sakit terdekat.
Intan dengan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, yang ada di pikirannya sekarang hanyalah bagaimana caranya agar Devam bisa di tangani dengan segera.
Sesampainya di rumah sakit, suster dengan cepat membawa Devan ke runagan ICU, sementara Intan mengurusi administrasinya.
Intan menunggu Devam di depan ruang ICU, tak la datanglah seorang dokter wanita dengan raut wajah was -was dan khawatir.
"Apa kamu yang membawa Devan ke rumah sakit?"
"Iya Dok, tadi dia mengalami tabrak lari kata warga yang ada di tepat kejadian"kata Intan..
Dokter itu pun memegang bahu Intan, kemudian berlalu kembali masuk ke dalam ruangan ICU.
"Aku hubungin keluarganya dimana ya, aku kan nggak punya nomor nya. Jangankan nomor keluarganya nomor dia aja aku nggak punya." gumam Intan.
2 jam berlalu....
Devan sudah di pindahkan ke ruangan pasien, Intan mengikuti suster dan dokter yang membawa Devan ke ruangan.
Intan tidak ikut masuk ke dalam, dia hanya menunggu di luar saja.
"Kamu nggak mau masuk?"
"Eh dokter, anu itu ehmm....saya di luar saja nggak apa - apa. Saya lagi bingung gimana caranya untuk menghubungi keluarga Devan dimana? Soalnya saya hanya teman sekelas dan kami tidak terlalu dekat dan saya juga tidak tahu di mana dia tinggal."
Dokter itu tersenyum kepada Intan.
"Nama kamu siapa?"
"Intan dok."
"Terima kasih Intan, kamu sudah menyelamatkan anak saya."
"Hah? Jafi dokter mamanya Devan?."
"iya"
"Ohh sama - sama dok, kalau gitu saya pamit pulang dulu ya dok. Sudah malam saya takut di cariin keluarga saya"
"Iya kamu hatj - hati ya"
Mama Devan pun megntarkan Intan ke depan sampai di depan mobil
____
__ADS_1
Sesampainya di rumah... Intan langsung masum ke kamarnya tanpa bertanya kepada pelayan apakah Azlan sudah pulang.
Tak lama Azlan pun sampai di rumah, ingin rasanya Azlan menemui I ta , namun gengsinya mengalahkan segalanya, ia pun mengurungkan niatnya untuk menemui Intan.
Pagi harinya karena Intan libur masih bermalas malasan di dalam kamar.
Azlan yang tadi malamnya tidur di sofa pun mulai membuka matanya. "Badanku rasanya seperti remuk."keluhnya.
Azlan berjalan ke washtafel dan mencuci wajahnya. Melihat bibik sudah menghidangkan makanan, Azlan pun langsung duduk di meja makan.
"Intan mana bok?"
"Masih di kamar tuan"bibik sedang menata sarapan di meja makan.
"Panggil dia dan suruh sarapan!"
"Baik tuan." bibik pun berjalan menuju ke kamar Azlan dan Intan.
Tok... Tok... Tok...
"Non... Non Intan!"
Intan menyibak selimutnya dan berjalan membuka pintu.
"Iya ada apa bik?"
"Itu non, diajak sarapan sama tuan"
"Bilang sama tuan, Intan nggak laper, suruh dia makan sendiri."
Bibik pun menganggul dan kembali ke meja makan dan Intan kembali menutup pintu kamar.
Azlan langsung berdiri saat melihat bibik tidak membawa Intam ke meja makan. Azlan bergegas ke kamar.
Tok... Tok... Tok...
"Ada apa lagi sih nok?"Intanembuka pontu dan kaget melihat Azlan yang berdiri di depan pintu.
"Pak Azlan." Setelah pertengkaran itu Intan pun memutuskan untuk kembali memanggil Azlan ' Bapak' karena menurutnya hanya bapak - bapaklah yang suka marah - marah.
Azlan langsung menarik tangan Intan dan menyeretnya ke meja makan.
"Duduk dan makan"
Intan menuruti Azlan dia nggak mau berantem sama pria itu. Duduk dan mengambil nasi goreng. Kemudian ia menyantap makanannya.
"Setelah ini, aku mau bicara sama kamu!."
"Iya"
Tak lama terdengar suara bel apartemen, bibik pun dengan segera membuka kan pintu.
"Eh nyonya, yuan selamat pagi."
"Pagi bik,dimana Azlan dan Intan?"
"Lagi sarapan, nyah."
"Oohhh.."
__ADS_1
Papa dan mama Azlan pun menuju ke ruang makan.
"Papa, mama" Intan dan Azlan begitu kaget dengan ke datangan kedua orang tuannya yang tiba - tiba.
"Hai sayang, pada sarapan ya."
"Iya mah." Azlan dan Intan pun menyalami mama dan papanya.
"Sarapan bareng yuk, mah"
"Mama dan papa udah sarapan tadi di rumah. Mumpung hari libur, jadi mama dan papa pengen jenguk kalian."
"Ohh gitu."
"Oh iya ini mama bawa bahan makanan, nanti kita bikin bakso. Mama dan papamu bentar lagi juga ke sini"Herlin menunjukkan bawaannya pada Intan.
"Iya mah." Intan mengangguk.
Mereka pun selesai sarapan , Intan membereskan meja makan dan mencuci piring.
"Ntan, kita bikin bakso pentolnya dulu ya."
"Iya mah, tadi Intan sudah menyuruh bibik buat rebusin air."
"Ya udah kalau gitu, mama siapkan bahan kuahnya ya." Intan mengangguk mengiyakan.
Azlan menghmapiri mama dan Intan yang sedang mengubrek abrik di dapur.
"Lagi ngapain mah?"
"Ini lagi nyiapin bahan buat bikin kuah bakso" Azlan ber o ria.
Azlan melihat Intan yang sedang membulat - bulatkan bakso, tiba - tiba ia memeluk Intan dari belakang. Sontak saja karena kaget Intan menjatuhkan sendoknya ke lantai.
"Bapak ngagetin aja." Intan menginjak kaki Azlan
"Aduh sakit, Ntan"
"Ya lagian ngapain kayak gitu?!"Intan berusah melepaskan pelukan Azlan. Mama Herlin melihat keduanya berantem kecil kafi senyum - senyim sendiri.
"Cuma pengen bantuin Istri masak!"Azlan berbisik di telinga Intan dan itu membuat Intan gugup dan tegang.
"Aish... Minggir aku mau ambil sendok!"
Azlan pin mundur 2 langkah ke belakang kemudian Intan menunduk untuk mengambil sendok dan tidak sengaja menyenggol empunya Azlan dan membuatnya tegang. Intan mengambil sendok dan merasakan ada ganjalan keras tepat di belakangnya.
"Ngapain bapak masih disini?"
"Loh kok anggil suami sendiri bapak sih, Ntan?"
"Eh itu ma, panggilan sayang . Maksudnya itu bapak dari anak - anak hehe..." ucap Intan. Pipinya pun memerah karena menahan malu, sementara Azlan ingin tertawa melihat ekspresi Intan seperti itu.
"Oohhh gitu... Jadi Azlan panggilan sayangnya apa?.."
"Ayang"Azlan tersenyum menatap Intan, seketika Intan pun melebarkan matanya.
"Iya kan Yang" Azlan melingkarkan tanganya di pibggang Intan membuat keduanya begitu menempel. Intan merasa tidak nyaman saat merasakan gesekan sesuatu yang keras di bawa sana.
CUP!!
__ADS_1
~ Bersambung