
"Wina lo apa - apaan?!" Devan membentak gadis itu.
"Itu hukuman buat cewek yang suka rebut pasangan orang lain" kata gadis yang di panggil.
"APA?" Pekik Intan, Fei dan bmayang.
"Jangan sok berlagak bodoh"
"Kayanya lo salah paham..."
"Salah paham? Lo pikir gue ini bocah yang bisa diam aja"
"Jadi, mau lo apa?! " tantang Fei yang mulai emosi dengan kelakuan gadis yang tidak di dekatnya itu.
"Sekarang lo pergi! Atau lo bakalan menyesal nantinya! " ancam Devan.
Tanpa berucap apa pun, Wina dan teman - temannanya meninggalkan meja mereka, Depan melihat Intan yang seperti itu jadi kasihan. Bagaimana bisa Intan hanya diam saja saat di perlakukan seperti itu. Tidak seperti biasanya, Intan akan selalu menyerang orang yang berbuat padanya.
"Lo, nggak apa - apa kan , Tam?"
"Iya, gue nggak apa - apa.
"Nggak apa - apa gimana, lo uyup gitu, Tan." sahut Fei, yang mencoba mengeringan baju Intan dengan tissu.
"Serius nggak apa - apa."
"Hmm... Kalau gitu gue pulang ya, ngga nyaman banget basah gini" kata Intan
"Gue antar." kata Devan, Intan menatap Devan penuh tanya.
"Antar, yang benar aja, lo nggak sadar ya alau lo itu numpang sama Intan." sela Mayang. Ketiga gadis itu pun mulai tertawa.
"O iya, gue lupa." Devan nyengir.
"Dasar!" ketiga gadis itu pun menggeleng.
"yaudah kita pulang du. Kalian langsung pulang juga atau nggak?" tanya Intan.
"Kita juga pulang deh, soalnya, capek bnaget." kata Fei yang diangguki oleh Mayang.
"yaudah, bye"
Devan dan Intan pun berlalu pergi. Saat di luar cafe, Devan melihat buti yang ada tidak jauh dari cafe.
"Kita mau ngapain kesini?" tanya intan.
"Lo bersihin dulu tu bajnya, ntar kalau di biarin, lo bisa masuk angin. "
"Baiklah." Intan pasrah, toh mereka juga sudah,sangat lelah"
Intan pusn masuk kedamam toitay dan mebersihkan bajunya
Devaan menyerah kan sebuah pakaian dan tanpaa banyak tanya Intan pun menerimanya begitu saja .
Intan pun melihat baju piliha,
__ADS_1
"Bagai mana bisa dia mengetahui ukuran tubuhku" gumam Intan saat melihat baju itu.
Tak lama Intan pun keluar, dan menemui Devan yang sedang berdiri di empat baju. Bukn berdiri lebih -tepatnya pria itu sedang memilih - memilih pakaian.
"Lo masih lama?" tanya Intan menghampiri Devan.
"Yuk, gue juga lagi nungguin elo"
"Tunggu gue bayar ini dulu." Intan menunjuk baju yang di pakainya.
"Nggak usah, udah gue bayar kok. Yuk balik" kata Degan tersenyum.
"Eh... "
"Udah, yuk. "Devan menarik tangan Intan, membawanya keluar toko.
Devan membuka kan Intan pintu mobil, dan menyuruhnya masuk. intan pun tersenyum mendapat perlakuan seperti itu dari Devan.
Devan pun masuk dan duduk di bangku pengemudi.
"Cocok banget... " kata Intan mengandung ucapannya..
"Maksudnya?"
"Lo cocok banget jadi supir idaman gue" lanjutnya.
"Kurang adem lo. "Devan meninju lengan Intan Pelan.
"Gede, ayo cepat gue udah telat banget nihh pulangnya "
"Masa sih? "Intan kaget. Karena mobilnya tidak pernah mogok sebelum nya.
____
Azlan pulang dengan tampang yang lesuh, dia berjalan gonta dan langsung duduk di sofa.
"Bik, tolong ambillah minum!"punyanya.
Tak lama bibi pun datang dengan segelas air putih.
"Ini tuan" Azlan mengambil gelas itu dan langsung meminum nya.
"Intan mana bik? "Azlan mengulurkan kembali gelas kosongnya pada Bibi
"Nona belum pulang tuan" Azlan menatap bibik tak percaya. Ia melihat jam tangannya.
"Udah jam 7 malam? Dan dia belum pulang?" tanya Azlan tak habis pikir.
Dengan wajah kesal ia mengeluarkan ponsel nya dari saku celananya.
"Tidak ada pesan atau pun telpon darinya, dan dia tadi hanya bilang mau ke toko buku. "Azlan berbicara sendiri
"Tapi nggak mungkin dia selama ini di toko buku? memang nya berapa buku yang di belinya? "Azlan mulai khawatir.
"Atau terjadi sesuatu padanya "lanjutnya, berdiri dan kembali menyambar kunci mobil nya yang tadi di lemparnya sembarangan.
__ADS_1
"Tuan mau kemana? "tanya bibi
"Aku akan mencari Intan bik, takutnya terjadi apa - apa sama dia" Azlan pun keluar apartement
Azlan berjalan cepat menuju basemen. Ia sangat khawatir dengan gadis kecilnya itu, tapi apa ini?
Azlan menghentikan mobilnya saat ia melewati gerbang ia melihat Intan yang berada di dalam taxi dengan seorang pria dan mereka sedang tertawa bersama.
Deg!
____
Intan keluar dari taxi. "Makasih ya, dan hati -hati" Intan melambaikan tangannya.
Devan tersenyum, "Iya, sana masuklah! " ucapnya dan di angguki oleh Intan.
Intan berjalan dengan sangat riang, dia mengelus pelan baju yang di pakainya.
"Nggak pernah memikirkan deh kalau Devan bakal beloon gue baju" gumamnya.
Intan membuka pintu apartemen dan betapa jahatnya dia saat mendapati Azlan yang berdiri di depan pintu dengan wajah yang menyeramkan.
"Dari mana saja kamu?!"Intan belum sempat mengucapkan salam,
"Aku habis dari toko buku, kan udah char sebelumnya"jawab Intan sambil membuka sepatu nya.
"Selama ini? berapa buku yang kau beli? dan mana mobil, kenapa naik taxi? "
Intan menatap Azlan tak percaya, bagaimana pria itu tau kalau Intan naik taxi.
"Bapak, menata -mataiku? "tanya Intan.
"Nggak, buat apa buang - buang waktuku saja. "
"Lalu kenapa bapak bisa tau?"
"Saat ini bukan saatnya kau memberi pertanyaan pada ku. sekarang jawablah, mana mobil? "tanyanya lagi.
"Tc, mobil ku mogok di depan butik"
"Butik? sejak kapan butik jual buku? "
"Itu... "
"Dan siapa itu tadi yang bersama mu? apa kau lupa posisi mu sekarang? "
"Itu... "
"Baiklah aku akan mengingatkannya, di mana posisinya sekarang !" Azlan tidak memberikan Intan kesempatan untuk bicara. dia menarik Intan dengan kasar menuju kamar mereka.
Bik Ijum yang sedari tadi hanya diam memperhatikan pertengkaran itu pun hanya diam.
"Semoga hubungan kalian tetap langgeng" hujan bik Ijum pelan, dia menghela napas nya kemudian masuk ke dalam kamar nya.
~ Bersambung
__ADS_1