
"Ngapain bapak masih disini?"
"Loh kok anggil suami sendiri bapak sih, Ntan?"
"Eh itu ma, panggilan sayang . Maksudnya itu bapak dari anak - anak hehe..." ucap Intan. Pipinya pun memerah karena menahan malu, sementara Azlan ingin tertawa melihat ekspresi Intan seperti itu.
"Oohhh gitu... Jadi Azlan panggilan sayangnya apa?.."
"Ayang"Azlan tersenyum menatap Intan, seketika Intan pun melebarkan matanya.
"Iya kan Yang" Azlan melingkarkan tanganya di pibggang Intan membuat keduanya begitu menempel. Intan merasa tidak nyaman saat merasakan gesekan sesuatu yang keras di bawa sana.
CUP!!
Azlan mengecup kening Intan tiba - tiba, Intam senyum dengan sangat terpaksa.
"Iya ma."
"Ohhh so sweet banget kalian anak - anak mama
Mama nggaksabar pengen dapat cucu hihi..."
"Yang sabar dong mah,Azlan sama Intan nggak mau terlalu cepat punya debay, kita mau puas - puasin pacaran dulu. Jadi kalau udah punya debay, biar nggak ada rasa iri larena perhatiannya terbagi."
"Haha... Dasar kamu sama aja kayak papamu"
"Haha... Iya dong ma, Azlan kan anaknya papa"
Azlan masih terus memeluk pinggang Intan dengam sesekali mencium kening dan pipinya. Jangan di tanya gimana kondisi Intan sekarang pipinya yang merah seperti tomat dengan debaram jantung yang begitu cepat membuat Intam semakin salah tingkah. Sepertinya Azlan begitu memanfaatlan keberadaan orang tuanya saat di ru.ah itu.
Papa dan mama Intan baru sampai...
"Hallo jeng..."
"Baru sampai ya?" tanya Herlin.
Azlan dan Intan menyalami mamanya. Intan tidak hanya menyalaminya tapi dia memeluk mamanya dengan sangat erat.
"Adek rindu mama" lirihnya.
Fitri tersenyum." ih nggak malu sama suami dan mertuanya, udah besar dan punya suami lagi masih aja manja gini"
Azlan dan Herlin pun tersenyum melihatnya.
"O iya, ini mama bawain oleh - oleh yang banyak buat kalian, kemaren mama temanin papa ke luar kota."
"Mama bawa apa?"
"Banyak banget sayang, nah ini buat kalian"
"Udah jadi ya baksonya?" Fitri meletakkan bawaannya ke atas meja.
__ADS_1
"Belum mh, ini masih buat pentolnya."
Oohh gitu.."
Azlan meninggalkan Intan dan para mama di dapur, ia menemui papa dan papa mertuanya di depan, mereka pun mengobrol hangat bersama.
___
Baksonya sudah siap di meja makan, Intan di suruh untuk memanggil Azlan dan para papa.
"Pah, itu baksonya udah jafi, mama suruh makan."
"Iya nak. Ayo Nu" papa Azlan menepuk bahu papanya Intan.
"Ayoo"
" Para papa berjalan duluan di susul Azlan Namu Azlan menarik tangan Intam dan membuat merek berpelukan.
"Lepasin!" Intan meronta minta di lepasin.
"Dengar ya! Kamu jangan pernah ngomong sama mereka soal yang kamarin!"
"Iya."
"Bagus"
Azlan pun melepaskan pelukannya, Intan langsung bergegas berjalan menuju ke meja makan. Tidak baginya jika harus berlama - lama ada di dekat pria itu.
'Kenapa aku sangat senang saat menyentuhnya ya? Beda banget kalau saat aku bersama dia. Bahkan aku sanvat tidak ingin untuk menyentuhnya, saat kami bersama' batin Azlan sambil memegang dadanya.
___
Intan pun ke dapur untuk membabtu bibik mereskan dapur dan sementara Azlan pergi ke kamanya dan bersiap untuk hang out bersama kekasihnya.
Tak lama Azlan pun sudah tampak rapi dan tampan dengan berpenampilan casualnya.
Intam tidak menanyakan apa pun dia malah langsung masuk ke kamar. Ada rasa kecewa di dalam hati Azlan, namun ia mencoba untuk bersikap biasa aja.
___
Azlan menikmati waktunya dengan kekasihnya, dia seakan lupa dengan masalahnya bersama Intan.
"Sayang kita makan dulu ya, aku lapar." gadis itu membawa Azlan menuju ke salah satu restoran yang ada di mall itu.
Masuk kedalam restoran dan memesan makanan.
"Setelah ini kamu mau kemana lagi?"
"Aku mau kita nonton."
"Apa belanjanya udah selesai?" gadis itu melihat kearah paper bagnya dan menggeleng.
__ADS_1
"Udah semua deh Yang, sekarang kita nonton terus pulang" Azlan hanya mengangguk.
____
"Makasih ya sayang aku senang banget hari ini" gadis itu menggenggam tangan Azlan dan bersender di bahu Azlan
"Malam ini kamu nginep yah di apartemen aku..."
"Hmm... Nggak bisa sayang, kita kan nggak muhrim dan aku takut khilaf"
"Ih kamu alesannya itu mulu, agian nggak papa khilaf, toh kelak kamu juga nikahin aku kan"
"Sayang meskipun kelak aku akan menikahin kamu, tapi tetap aja aku nggak mau merusak kamu ."ucap Azlan mengelus rambut kekasihna itu lembut.
"Terserah kamu deh... Sekarang ayo kita makan malam, aku laper lagi"
Azlan tersenyum dan membawa gadis itu me restoran favorit mereka.
Setelah selesai makan Azlan pun mengantarkan Sifa ke apartemant nya.
Azlan ikut masuk untuk sekedar membawakan paper bag belanjaan gadia itu yang memang cukup banyak.
"Ayo masuk dulu"
"Iya" Azlan masuk ke dalam apartement.
"Ini di tarok di mana, Yang?"
"Atas meja aja yang" Azlan pun meletakkan belanjaan itu di atas meja.
"Ini minum dulu"Sifa menyerahkan segelas air dingin pada Azlan.
"Makasih, aku langsung pulang ya"Azlan meletakan gelas yang sudah kosong itu di atas meja.
"Aku pergi" Azlan pun melangkah menuju pintu, namun baru beberapa langkah Sifa menariknya , memeluknya dan mengelus dada pria itu.
"Sayang, apa kamu yakin nggak mau nginap?"
" Jangan seperti ini." Azlan melepaskan pelukan Sifa.
"Aku pulang, jangan lupa kunci pintu" Azlan dengan langkah lebarnya dan keluar dari apartement itu.
Azlan meninggalkan apartement Sifa dan pulang ke apartemennya.
Sesampainya di apartement Azlan langsung masuk ke dalam kamar, di sana dia melihat Intan yang sudah tertidur pulas.
Azlan berjalan ke kamar mandi, membersihkan dirinya yang terasa lengket karena keringat.
Setelah selesai mandi, Azlan langsung mendekati ranjang, membaringkan tubuhnya di samping Intan.
Saat Azlan hendak menutup matanya, tiba - tiba Intan memeluk tubuhnya.
__ADS_1
Azlan menoleh " Kalau begini, mana bisa tidur aku. Intan kenapa kamu menyiksaku sih." dengus Azlan.
~ Bersambung