
Pagi harinya, Intan sedang membantu bibik untuk menyiapkan sarapan di meja makan.
"Udah non, sekarang nono duduk aja biar bibik yang melakukan sisanya"
"Nggak apa - apa bik, lagi pula tinggal kopi dan susu kan. udah bibik istirahat lah."
Tak lama Azlan pun keluar dari kamarnya, dengan pakaian yang rapi.
"Pagi tuan."
"Pagi bik.."
Azlan duduk dan mengambil piringnya...
Intan meletakkan kopi Azlan di atas meja. kemudian dia duduk di kursinya. Mereka makan dengan diam.
"Aku selesai, aku duluan"
Intan berdiri dan menyandang tas sekolahnya.
"Tunggu!" Intan berhenti dan menoleh kearah Azlan.
"Ada apa?"
"Apa begitu caramu berpamitan dengan yang lebih tua?"
Intan menghela napasnya , kembali menghampiiri Azlan lalu mencium tangannya.
"Puas!" Intan berlalu pergi, meninggalkan Azlan yang tersenyum.
Saat Intan sampai di lobi apartement ia bertemu dengan Adam, ia sempat kaget melihat Adam ada di sana pagi - pagi.
"Bang Adam?"
"Kamu... Intan ya?"
"Iya."
Adam melihat Intan ari atas sampai bawah ke atas dan atas ke bawah. Penampilan Intan sangat berbeda.
"Kenapa bang? Kok bengong?"
"Aku pangling lo sama kamu, Ntan."
"Jelek ya?"
"Nggak, kamu tetep canik kok, tapi kenapa tampilan kamu berubah ?"
"Jelas berbeda lah bang, ini kan aku lagi mau ke sekolah bang, bukan ke kondangan." Intan tersenyum.
"Tapi kamu beda banget sama Fei, dia..."
"Kan beda orang beda selera bang." potong Intan.
"Kamu benar."
"Bang Adam, cari kak Azlan ya? Ada tuh dia lagi sarapan di dalam"
"Eh enggak, abang ke sini mau jemput kamu"
"Jemput aku?"
"Iya, ayo abang anter ke sekolah"
"Tapi aku bawa mobil bang dan lagi pula aku juga belum minta izin sama Kak Azlan "
"Udah ayo, nanti biar abang yang izinkan sama kakakmu itu."
Intan tampak berfikir. " baiklah, kalau abang memaksa"
__ADS_1
Intan pergi bersama Adam menuju sekolhnya, tak lupa juga Adam sudah mengirimi Azlan pesan.
Hai bro, gue anter Intan ya. Jangan lupa mampir ke cafe gue ntar sore.
___
Azlan membaca pesan Adam langsung meradang, ia begitu marah saat Intan pergi bersama Adam.
"Bik, aku berangkat." Azlan langsung berangkat ke kantornya dengan suasana hati yang buruk.
___
Di dalam mobil Adam mengajak Intan ngobrol dengan santai, nampak diam - diam Adam memperhatikan Intan yang begitu cantik dan polos.
Meskipun sekarang ini Intan tidak memakai make up dan hanya menggunakan pelembab dan liptin saja tapi bagi Adam Intan adalah wanita baik, cantik, sexy denggan kepolosannya. Ingin rasanya Adam memiiliki intan setuhnya
"Ntan, kamu punya pacar nggak?"
"Hah? pacar? Nggak ada bang..."
' Tapi aku punya suami bang' lanjut Intan dalam hati .
"Mau nggak jadi pacara abang?"
"Hehe... Aku mau fokus sekolah dulu bang, lag pula aku nggak doyan yang tua. Hehehe" Intan terkekeh.
"Bisa aja kamu, abang ini nggak tua - tua banget"
"Kamu cantik kalau tertawa gitu. Pokoknya abang akan menunggu kamu sampai suka sama yang tua - tua gini"
Wajah Intan bersemu merah saat mendengar gombalan Adam.
Sampailah mereka di sekolah...
"Makasih ya bang"
"Iya bidadari kecil"
Intan langsung masuk kedalam kelas dan Adam pun langsung pergi ke cafenya.
Sesampainya di kelas, Intan melihat Mayang dan Fei sedang duduk di mejanya.
"Kenapa kalian natap gue gitu? Nggak pernah liat orang cantik ya"
"Cieee.... Lagi d deketin sama cogan"
"Apaan sih?"
"Kita tahu kali, Tan. Kalau bang Adam lagi deketin lo"
" Dan lo, gue mersa terbenani karena itu" Intan duduk di kursinya.
Fei dan Mayang saling pandang.
"Kenapa?"
"Fei, lo tahu sendirikan kalau gue udah bersuami." Intan memelankan suaranya.
"Benar juga Fei,"
"Tapi mau gimana lagi. Biaralah bang Adam mengetahuinya sendiri, karena dia itu tidak mudah percaya sama orang " Fei masa bodoh.
"Sudah lo nikmati aja, abang gue itu bak dan dia nggak kurang ajar ko" Fei tersenyum. Sebenarnya Fei lah yang menyuruh abang nya untuk mendekati Intan.
Fei tahu kalau Intan sedang tidak baik - baik saja.
___
Azlan melampiaskan kekesalannya pada sekretarisnya, sedari pagi sampai jam makan siang Azlan terus saja berteriak pada sekretaris atau pun setiap karyawan yang masuk ke dalam kantornya.
__ADS_1
Dan perubahan mood Azlan pun menjadi bahan perbincangan di setiap staff dan menagement.
Apa lagi di kantin, namanya terus saja di sebut - sebut.
"Apa kau tidak lihat bagaimana ekspresinya tadi, demi apa pun aku gemetar menghadapi nya."
"Iya, sama aku juga."
"Apa sebenarnya yang terjadi dengan direktur? "
"Entalah, tapi yang jelas. Sekarang entah bagaimana nasibku yang sebentar lagii harus menghadapnya... Apa yang harus aku lakukan?" ucap seorang karyawan yang mulai gugup mendengar cerita teman - temannya.
___
Bel pulang pun berbunyi.
Semua kelas pun sudah bubar, kini hanya tersisa kelas Intan. Mereka sedang menunggu wali kelasnya untuk membesuk Devan di rumah sakit.
"Gue nggak nyangka kalau yang nolong Devan itu Intan" ucap Ricky.
"Iya sama, gue kira Intan itu orangnya cuek dan angkuh ternyata dia baik juga ya" tambah teman Ricky.
"Itu karena kalian yang negatif thinking sama dia" sahut Fei.
Semua hanya diam, tak laama wali kelas mereka pun datang dan mereka pun berangkat menuju rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, intan langsung di saambut hngat oleh mamanya Devan.
"Wah, calon mertua nggak jadi ni" bisik mayang, Intan menyikut perut Mayang.
"Saya sangat mengucapkan terima kasih kepada nak intan, karena kalau nggak ada dia mungkin anak saya nggak bisa di tolong" ucap mama Devan tersenyum kearah Intan.
" Sekali lagi terima kasih ya , nak"
"Iya sama - sama, dok. " Mama Devan memeluk Intan.
Mereka tidak lama menjenguk Devannya karena pihak rumah sakit tidak memperbolehkan mereka beramai - ramai di sana.
"Tan , lo bareng siapa?"
"Gue naik taxy aja"
"Bareng kita ja udah."
"Nggak usah Fei, kita kan nggak searah" tolak Intan.
"Eh kitan hang out dulu yuk, " ajak Mayang.
"Yuk, gue juga lag malas pulang." timpal Fei.
"Lo, harus ikut ya, Tan" ucap Fei yang melihat gelagat Intan yang hendak menolak.
"Tapi..."
" Udah ini masih sore, kak Azlan nggak akan marah"
___
Intan dan kedua sahabatnya pun menghabiskan waktunya bersama. Mereka pergi ke salah satu mall besar. Setelah selesai menonton film , mereka memutuskan untu pergi makan di satu restoran.
Saat sedang menunggu makanan, Intan seperti melihat seseorang yang sangat familiar dengannya. Intan melihat dengan jelas dan duganya benar
"Aku di marahin berdekatan dengan pria lain , sedangkan dia? Dasar egois"batinya
Tanpa sadar Intan meneteskan air matanya.
"Lo kenapa,Tan?"
Intan mengusap pipinya. " Gue masih baper fillm tadi." Intan tersenyum.
__ADS_1
~ Bersambung