Menikahi Cewek Bar - Bar

Menikahi Cewek Bar - Bar
Tidak bisa tanpanya


__ADS_3

Setelah tugasnya selesai, Mayang memutuskan untuk pergi ke kamar kakaknya.


Tok... Tok... Tok...


"Kak, aku masuk ya"


"Masuk aja, nggak di kunci kok" sahut Sifa dari dalam.


Mayang masuk kedalam kamar Sifa, dia melihat Sifa yang sedang duduk di sofa yang ada di pinggir jendela. Sifa memandang keluar, menikmati pemandangan langit yang penuh dengan bintang.


"Kakak lagi apa?" Mayang duduk di samping Sifa.


Sifa hanya menggeleng. " Kamu di suruh mamah ya kesini?"


Bingo! Tebakan Sifa tepat sasaran.


"Aku ngerti kenapa kakak sedih, tapi..."


"Kakak sudah punya pilihan sendiri, May."


Deg!


Mayang terdiam, dia sangat paham dengan situasi kakaknya sekarang.


"Kakak nggak bisa ninggalin dia, jangankan buat ninggalin. Ngebayangin kakak pisah sama dia aja kakak nggak sanggup" lanjut Sifa.


"Kakak, udah kasih tau papa kalau kakak sudah punya pilihan?"


"Udah, tapi kamu kan tau sendiri kalau papa itu sangat keras kepala."


Benar kata kakaknya, papa mereka memang sangat susah untuk di bantah. Mayang pun ikut menatap keluar, dia benar - benar tidak bisa memasuki masalah ini.


"Dek..."


"Hmm..."


"Apa Kamu mau bantu kakak?" Sifa menghadap kearah Mayang.


"Caranya?"


"Kamu tolong bujuk mama dan papa"

__ADS_1


"kakak tau sendirikan aku keseni atas perinta papa sama mama"


"Aku jadi bingung kak."


"Aku benar - benar tidak ingin dengan perjodohan itu" Sifa mengusap wajahnya gusar.


____


Azlan pulang, saat memasuki apartemen,a mendengar suara tv menyala.


"Dia belum tidur?" Azlan pun melangkah ke sofa ruang tv, dan benar sajaia melihat Intan yang sedang tertidur dengan posisi duduk sambil memegang pena.


"Dasar bocah" Azlan menggeleng, ia meletakkan tas kerjanya dan mematikan tv.


Azlan membuka jas, menggulung lengan kemejanya.


Ia memindahkan Intan ke kamar. Setelahnya ia pun pergi membersihkan dirinya.


Tak butuh waktu lama, Azlan pun selesai membersihkan diri.


Azlan berjalan ke ranjang dan membaringkan tubuh letihnya di samping Intan. Saat hendak memejamkan mata,Azlan merasakan sebuah tangan yang memeluk nya.


Azlan menoleh dan tersenyum, " Tau aja kalau cuacanya dingin." Azlan membalas pelukan itu.


___


Azlan yang memang berjalan di belakang Intan pun menatap gadis itu heran.


"Kenapa?"


"Bannya kempes."


"Kok bisa?"


"Ya mana saya tahu pak"


"Terus gimana?"


"Nggak tau, kalau naik bis nggak akan keburu "


Azalan melirik jam tangannya. " Yaudah ayo aku antar" Ucapnya.

__ADS_1


Intan pun tersenyum, " Alhamdulillah peka juga"


Mereka pun berjalan ke mobil Azlan, dan meninggalkan basement gedung itu.


Di perjalanan, tidak ada percakapan di antara mereka. Intan yang baru ingat sesuatu pu langsung bersuara.


"Pak, tadi malam mamanya bapak nelpon dan nyuruh kita buat ke sana makan malam keluarga katanya"


"Jam berapa?"


"Kan udah aku bilang makan malam"


"Iya, tapi nggak mungkinkan kita perginya malam. Aku tanya kita jam berapa kesananya?" ucap Azlan.


"Gimana kalau jam 4, biar nanti aku bisa ngebantu mama buat apa gitu."


"Itu nggak perlu, kamu kan tahu sendiri kalau mama itu selal menyuruh orang."


Intan hanya mengangguk.


"Oiya, perlu kamu ingat itu, tolong jangan panggil aku bapak di sana. Nantii kita harus kelihatan sebagai pasangan yang bahagia."


"Iya tahu" ucap Intan.


"Udah turun!" Intan melihat keluar, dan ternyata mereka sudah berhenti di depan sekolahnya.


"Eh udah sampai, makasih pak"


"Udah di blangin jangan panggil bapak lagi!"


"Kan nanti malam, bukan sekarang"


"Udah aku berangkat" Intan mencium tangan Azlan lalu keluar dari mobil itu.


"Dasar bocah"


Saat melangkah kedalam sekolah, Intan melihat Devan yang sedang berdiri dengan satpam sekolah. Intan berusaha mengabaikannya, karena dia tahu kalau Azlan sekarang pasti sedang memandangnya.


"Woy, lurus aja. "tegur Devan, menghampiri Intan.


"Apaan Sih ngagetin aja."

__ADS_1


"Siapa sih cowok itu? Kenapa dari kemaren dia selalu menempel sama Intan?"


~Bersambung


__ADS_2