
Rizi memasuki sebuah hotel mewah setelah mendapat kabar jika rekan bisnisnya tuan Ricardo akan melakukan pertemuan yang bersifat pribadi, maka Rizi pun mengiyakan sebab tuan Ricardo sudah jauh jauh dari luar negeri hanya untuk pertemuan ini.
Setelah bertanya di resepsionis hotel Nya , Rizi melangkah menuju kamarnya tanpa menaruh sedikitpun rasa curiga sebab Rizi dan Ricardo memang sudah lama bekerja sama
Kamar 247, Rizi kembali terus mencari, sampai ia menemukan kamar yang ia maksud
Dengan senyum mengembang Rizi terus melangkah kekamar tersebut yang hanya berjarak kurang dari beberapa meter dari tempatnya berdiri.
Laki laki yang sudah mempunyai Anak satu itu, tak pernah sedikitpun memiliki rasa curiga ke setiap orang.Ia berteman dengan orang orang yang baik, dan profesional.
Sekilas Rizi menatap sign board yang bertuliskan no kamar tersebut hanya untuk memastikan Nomor kamar ya dimaksud resepsionis.
Pintu terbuka Dan...
Bruk..
Rizi pingsang saat pukulan mendarat di kepala nya, ia diseret kedalam kamar tersebut,
"Honey..Apa ini tidak berbahaya, Aku bisa digantung oleh kakak jika ia tau Maslah ini," kata Richard saudara kembar tuan Ricardo
"Diam. kita tidak akan ketahuan jika kau tidak mengatakannya."Serka perempuan itu
"Kau tidak tau tuan Rizi bukanlah orang biasa pengawalnya kemana mana,Bahkan pengawalnya pun saat ini sedang mengintai pergerakan kita.
"Tidak akan, Aku sudah menyuruhnya untuk datang sendiri melalui pesan chat." Kata perempuan itu lagi untuk meyakinkan kekasihnya.
"Aku heran, dendam apa yang kau miliki sama tuan Rizi," Selidik Ricard tak habis pikir dengan kekasihnya itu.
"Dia pernah mencoblos kan aku ke penjara dan gara gara pria brengsek ini, Aku harus menderita selama ini.
"Terus kita mau ngapain."
"Diam lah . kau cerewet sekali, entah kenapa aku bisa menjadi kekasihmu, kau terlalu payah."Gerutu perempuan itu.
__ADS_1
"Angkat pria brengsek itu keatas tempat tidur, lalu buka semua bajunya, Aku akan menghancurkan kebahagiaannya dan membuatnya menderita sama seperti yang aku rasakan selama ini," Ucapnya disertai Seringai liciknya.
"Saat Akan mengangkat tubuh Rizi keatas pembaringan tiba tiba pintu dibuka dengan sangat kerasnya.
Bruk...
Nampak kedua sosok pria yang datang dengan gaya Angkuhnya serta gaya yang sok cool, pria yang tak pernah ada kata Akur diAntara mereka selalu saja dengan tingkah konyolnya, Mereka berdiri tegak diAmbang pintu menatap kedua sosok Manusia bejat di depannya.
"Kalian pikir akan lolos begitu saja..? Jangan Mimpi.!" Ucap Daiyan tersenyum menyeringai
Disaat seperti ini Jerry malah mengejek Daiyan disamping nya itu." Ternyata kau bisa bersikap Tegas juga ya." bisik Jerry dengan setengah menyindir.
" Kita harus bersikap tegas jika tidak, kita akan mati ditempat ini. kau liat laki laki di depan itu " Tunjuk Daiyan dengan menggunakan dagunya. Pria tinggi dan berbadan sangat besar, jika dilihat postur tubuh kita kalah jauh dari dia Aku tidak mau mati penasaran disini," ucap Daiyan pelan sambil Menatap laki laki itu kemudia beralih menatap tubuhnya yang tak seberapa.
"kok mati penasaran memangnya kau penasaran dengan siapa." Jerry terus menggodanya.
" Aku masih penasaran dengan wajah Anakku yang sebentar lagi akan lahir 'Bego' . Semoga saja dia mirip dengan papanya "Daiyan sudah menerawang jauh dengan wajah anaknya kelak yang akan mirip dengannya..
"Lalu kenapa kau bersikap seolah tidak memiliki rasa takut sedikitpun." Jerry terus melayangkan pertanyaan untuk menggoda Daiyan , Baginya sangatlah menarik jika menggoda manusia langkah di depannya itu.
Ricardo akan melayangkan satu pukulan Namun dengan gesitnya Jerry menangkis dan memelintir tangannya kebelakang.
"Dai.."Ayo pukul ! teriak Jerry yang masih mengunci tangan Ricard dari belakang
Namun dengan santainya Daiyan malah duduk di sofa panjang," Gak ah, Aku gak mau tanganku kotor memukul orang itu, Selly bentar lagi lahiran, kata orang, pamali memukul orang jika istri lagi hamil
"Kamu pikir Aliyah gak lagi hamil ?" Disaat mereka sedang berdebat Ricardo seolah mengambil kesempatan untuk memberi satu pukulan untuk jerry dengan menendang kaki Nya membuat pria itu meringis kesakitan.
Ricard dan perempuan itu memiliki kesempatan untuk melarikan diri, Namun belum juga sampai di luar Anton Asisten Rizi datang melayangkan beberapa pukulan hingga Ricard jatuh tersungkur ke lantai dengan darah yang sudah keluar dari hidungnya.
Anton melirik kedua pria berperawakan tubuh tegak didepannya itu,"Anton Menatap seakan mengejek mereka berdua.
"Tubuh saja yang berperawakan tinggi tegak, Tapi menghadapai satu orang saja gak becus" BANCI." Sindir Anton sambil menekankan kata BANCI pada pria didepannya itu.
__ADS_1
" Wih..kurang Asem Asisten om Jerry nih. Mulutnya perlu di sekolahkan ." Geram Daiyan yang sudah melayangkan Tatapan membunuh kearah Anton Namun yang di tatap tak bergeming sedikitpun tak ada rasa takutnya Baginya Daiyan adalah laki laki yang sangat langkah yang pernah ia temui.
"Anton, Kau bawa dia ke markas .Biar aku yang bawa Rizi dari sini," Jerry tak menanggapi perkataan yang berisi kata sindiran oleh Anton.
"Baik.! jawab Anton Asisten Rizi
***
Beberapa menit kemudian Rizi menggeliat dari tidurnya, masih mengumpulkan sisa sisa kesadarannya, Menatap herang disekelilingnya ruangan yang Asing bagi ya.
"Gak usah kebingungan deh om, Kita lagi di kamar hotel," Ucap Daiyan dengan santainya Sambil menghabiskan makanan di depannya
"Yaa...!!Kau mengambil makananku brengsek. " Protes Jerry seakan tak peduli Rizi yang sudah dalam kebingungannya.
"Dikit doang, Pelit Amat." Daiyan mendengus kesal saat Jerry mengambil makanan itu lagi.
" Kalian Diam.! "Sentak Rizi masih memegang kepalanya yang terasa pusing, berusaha mengembalikan ingatannya .
"Om kenapa jadi bodoh begini, gak bisa bedain mana tuan Ricardo mana saudara kembar nya," Gerutu Daiyan kini beranjak dari duduknya menghampiri omnya yang masih dalam kebingungannya.
Daiyan menyodorkan sebuah iPad kearah omnya, semua percakapan Antara Nola dan saudara kembar tuan Ricardo terekam disana saat merencanakan kejahatannya,
Jika ditanya dimana Daiyan dapat semua itu jangan heran , Jerry Ahlinya yang sudah menempatkan Pengawalnya kemana mana untuk Menjaga Rizi dan keluarganya dari jarak jauh.
" Kurang ngajar...!! " Geram Rizi sambil melempar ipad itu.
"Ayo! Rizi kemudian bangkit dari tempat tidur dan mengajak kedua orang tak berakhlak itu.
" Kemana Om," Tanya Daiyan dengan bodohnya
Satu pukulan mendarat di kepala Daiyan dilayangkan oleh Jerry" ke markas b*g*
"Santai aja kali, gak usah mukul juga."Kesal Daiyan mengusap kepala nya
__ADS_1
" Itu kepala isinya apa aja di dalamnya, kenapa jadi bodoh begini," Jerry menggeleng gelengkan kepalanya tak habis pikir
Merekapun melangkah meninggalkan hotel dan melaju kendaraan nya ke Markas untuk memberi pelajaran kedua orang itu...