
Rumah sakit yang begitu besar, Elesh melangkah memasuki ruangan yang penuh dengaan aroma obat itu.
Ia kembali meratakan lotion anti alerginya, karena memang itu rumah sakit sudah semestinya ia bertemu wanita walaupun itu cuma Monica atau perawat yang kebetulan lewat di sana.
Elesh bersama Yohan memasuki ruangan yang cukup besar, ruang rawat pribadi dokter Zayn kini di gunakan untuk merawat Esmeralda, bukan tanpa alasan namun itu adalah keinginan atau perintah dari Elesh sendiri.
"Apakah dia baik-baik saja?" tanya Elesh saat melihat dokter Zayn habis memeriksa Esmeralda.
"Tentu dia baik. Namun tidak tau kapan dia akan bangun." ucap dokter Zayn sambil melepas sarung tangan medis yang ia gunakan.
"Dimana kakak ipar?" tanya Yohan sambil clingak clinguk mencari Monica,
"Dia itu seorang dokter, pasti sedang melayani pasien." ucap dokter Zayn sambil duduk di kursi yang ada di ruangan itu.
__ADS_1
Elesh mendekati ranjang Esmeralda, wanita itu bak tertidur dengan cantik nan lelap. Bulu mata yang lentik, bibir tipis yang tersenyum. Entah apa yang sedang wanita itu mimpikan dalam tidurnya yang panjang itu.
Elesh duduk di kursi samping ranjang Esmeralda, ia membelai rambut wanita itu.
"Aku tidak tau kenapa aku peduli denganmu. Namun jika kamu bangun, aku akan membantumu untuk membalas seluruh dendammu dan keluargamu. Aku akan mencari tahu semua penyebab kematian orang tuamu." ucap Elesh sambil membelai rambut Esmeralda.
Entah Esmeralda mendengarkan atau tidak, ia hanya mengatakan yang ia bisa untuk menyadarkan wanita itu. Sudah seminggu lamanya wanita yang biasanya tersenyum itu hanya tertidur di ranjang rumah sakit tersebut.
Yohan dan dokter Zayn sedang berbicara mengenai banyak hal, bagaimana pengobatan Esmeralda selanjutnya. Bagaima juga cara menawar alergi Elesh agar laki-laki itu terbebas dari penyakit Alergi wanita nya.
"Elesh, pergilah! Aku harus mengganti pakaian Esmeralda." ucap seorang wanita yang tak lain adalah Monica istri dari dokter Zayn.
"Kakak ipar." ucap Elesh sambil, mengusap air matanya. Wanita yang lemah tak berdaya itu benar benar membuat dirinya tidak tau harus berbuat apa. Jalan hidup yang berliku-liku membuat dirinya benar-benar harus berfikir panjang untuk tindakan selanjutnya
__ADS_1
"Kau jangan bersedih, selama kamu bisa merangsang motoriknya dia akan bangun." ucap Monica wanita yang menyandang status ustri dokter Zayn dan juga dokter rumah sakit tersebut.
"Kakak ipar? Kenapa aku peduli dengan wanita ini. Jelas-jelas dia hanya wanita penari yang tinggal di bar. Untuk kesempurnaan ia jauh dibawah standarku." ucap Elesh sambil menatap tubuh Esmeralda.
"Cinta itu tidak memandang bibit, bebet dan bobotnya Elesh. Mungkin kamu sudah jatuh hati terlalu dalam kepada nona Esmeralda." jawab Monica sambil menutup korden tempat itu.
Monica ingin mengganti baju Esmeralda, sehingga Elesh pun keluar dari ruangan pribadi dokter Zayn itu. Muka di tekuk, tanpa menatap Yohan dan dokter Zayn ia duduk begitu saja di sofa besar yang ada disana.
"Kau kenapa?" tanya Yohan heran, ia beberapa kali menatap dokter Zayn namun dokter muda itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Menurutmu, menurut kalian apakah benar yang di katakan kakak ipar?"
"Kakak iparmu bilang apa?" tanya Dokter Zayn penasaran.
__ADS_1
"Bilang jika aku telah jatuh hati dengan wanita itu. Jika ia bagaimana cara agar aku bisa mempertahankan dia di sisiku."