
Rintik hujan turun, gerimis tidak menghalangi langkah kaki Karina menuju rumah sakit MALIK. Rumah sakit itu sangatlah besar dan paling besar di kota ini, jadi sangat mudah untuk mencari rumah sakit itu.
Mudah memang mencari rumah sakitnya, namun sangat sulit untuk mengetahui ruang rawat Esme. Karina menuju gedung khusus pasien perempuan dan anak, ia menuju meja resepsionis yang ada di bagian depan rumah sakit. Namun ia tidak menemukan jawaban, tidak ada pasien atas nama Esmeralda di rumah sakit tersebut.
"Selamat malam, saya ingin menanyakan kamar pasien atas nama Esmeralda." ucap Karina lembut, ia mengucapkan selamat malam karena memang hari itu sudah cukup malam.
"Sebentar saya cek silahkan tunggu." ucap salah satu orang yang berada di balik meja itu.
"Mohon maaf kami belum menerima pasien atas nama Esmeralda, atau tidak ada pasien tersebut di rumah sakit kami." balasnya dengan lembut setelah memastikan memang benar tidak ada pasien tersebut.
"Benarkah nona? Bisa kau cek sekali lagi? Temanku habis kecelakaan dan kabarnya dia dibawa ke rumah sakit ini." ucap Karina sambil berdiri, nampak jelas pelupuk matanya mengandung air.
"Sekali lagi mohon maaf tidak ada pasien tersebut. Namun ada pasien pribadi yang di rawat oleh kepala rumah sakit kami, mungkin saja itu teman anda." ucap wanita tersebut sambil menatap Karina.
__ADS_1
"Lupakan saja temanku hanya orang biasa. Dia tidak punya banyak uang, mana mungkin kepala rumah sakit anda mau merawatnya." ucap Karina, setelah mengucapkan permisi ia langsung bergegas pergi. Air matanya begitu tidak terkendali mengalir begitu saja, bagaimana bisa dia ditipu laki-laki dalam telefon dan langsung percaya begitu saja terhadap laki-laki asing yang menggunakan nomor ponsel Esmeralda. Mungkin saja Esme diculik dan di sembunyikan, mungkin seperti itu batin Karina saat ini.
Wanita itu terus berjalan bak tak ada arah, duduk di pinggiran seperti orang ling lung menangis sambil menarik rambutnya. Menyesal apa yang ia sesali.
Ia memberanikan diri untuk merogoh ponselnya, dirinya hendak menelfon nomor telfon Esmeralda.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif....." Begitulah nada yang keluar dari panggilan telefon itu, Karina menjerit ia sangat putus asa dalam bayangannya hal-hal mengerikan benar-benar terjadi kepada sahabat satu satunya itu.
"Permisi nona? Kenapa kamu menangis di sini." Seseorang menepuk pundak Karina, Karina berbalik dan melihat orang itu tersenyum kepadanya. Seorang wanita yang mengenakan jas putih, mungkin saja dia adalah dokter di rumah sakit ini. Wanita itu mengulurkan tangan ke arah Karina sambil tersenyum berharap agar karina bangun dari tempat duduknya.
"Saya dokter monica, barangkali ada yang bisa saya bantu." ucap Dokter Monica setelah berhasil membantu Esmeralda berdiri.
"Anda dokter di rumah sakit ini? Apakah anda kedatangan pasien atas nama Esmeralda. Dia sudah hilang satu minggu, Tadi aku menelfon nya tapi justru laki-laki aneh yang menjawab telfonku." ucap Karina sambil menyeka air matanya.
__ADS_1
"Hemmmm... wanita itu ya? Apakah kamu temannya?"
"Benar dok saya sahabatnya. Dia menghilang, apakah dokter tau dimana dia berada?"
Karina menyeka air matanya, ia berusaha sekuat mungkin untuk mencari Esme. Ruang pribadi tidak dikatakan oleh Yohan, sementara Karina beranggapan tidak mungkin bagi seorang Esme untuk menempati ruang pribadi dengan prioritas khusus. Karena Dia hanya seorang wanita biasa, darimana bisa mendapatkan kehormatan dirawat dalam ruang khusus.
Dokter Monica tidak menjelaskan tentang kondisi Esmeralda, namun Karina tau dari telefon jika sahabatnya itu sedang koma. ia berusaha tersenyum, ia harus memastikan semuanya baik baik saja.
"Baik, ayo ikut aku menemui temanmu." ucap dokter Monica yang di jawab anggukan oleh Karina. Wanita berjas putih itu tersenyum lembut kemudian berjalan menuju ruangan pribadi nya. Seperti biasa disana ada dokter Zayn yang merupakan suaminya.
"Masuk dan ganti bajumu dengan pakaian steril!." ucap dokter Monica.
"Sayang dia siapa?" tanya dokter Zayn sambil mengelap kacamata nya.
__ADS_1
"Dia adalah teman nona Esmeralda." jawab dokter Monica sambil mengambil pakaian steril kemudian menyerahkan pakaian tersebut kepada Karina. Ia juga memberi tahu letak kamar mandi agar wanita tersebut bisa segera mengganti pakaian.