
Pilihan yang sulit untuk mempertahankan dirinya di sisimu tanpa perasaan. Namun jika ada sedikit paksaan mungkin semuanya akan baik-baik saja.
Perasaan bimbang dan ragu yang menghantui laki-laki tampan itu.
Sosok wanita yang ia idam-idamkan mengisi relung hatinya benarkah ia berasal dari kasta golongan kelas rendah seperti itu. Dulu saat dia masih kecil selalu bermimpi ketika ia telah dewasa ia ingin menikahi seseorang dari kasta bangsawan untuk membantu menumbuhkan benih kekuasaan dan memajukan bisnisnya. Namun sekarang dirinya sudah berusia 28 tahun dan tidak tertarik dengan wanita bangsawan seperti keinginannya saat ia masih kecil.
Semua wanita membuatnya alergi, dia harus menahan gatal dan panas setiap mendatangi perjamuan atau pun bertemu klien wanita. Biarpun sekarang dokter Zayn sudah menemukan obat untuk meminimalisir rasa sakit dan kambuh untuk sementara, namun itu bersifat sementara tidak mengobati secara permanen. Wanita selain ibunya hanya dia, ya Esmeralda telah merubah pandangan jika wanita itu adalah makhluk yang tidak baik. Makhluk yang membuat dirinya kesakitan setiap hari.
Mobil melaju dengan sempurna, Elesh dan Yohan kembali ke kediaman Alexsandriano. Semenjak Elesh menguasai perusahan IMORTAL, Yohan memilih untuk tinggal bersama Elesh menjadi tangan kanan Elesh untuk mengelola perusahaan besar tersebut.
Dering suara ponsel, di luar sana ada seorang wanita yang panik dan khawatir dengan kondisi Esmeralda baru-baru ini dirinya baru tau jika Esmeralda sudah di usir dari tempat tinggalnya. Bahkan dirinya telah pergi ke bar ALPHA namun dirinya tidak menemukan petunjuk kemana perginya Esmeralda. Semua orang di bar menutup rapat tentang Esme yang di bawa pergi Elesh dan Yohan.
"Astaga, dia benar-benar membuatku khawatir. Jika dia bertemu denganku akan ku jitak kepalanya sampai botak." ucap Karina sambil menempelkan ponselnya ke telinga.
"Kelihatannya ponsel nona Esmeralda berbunyi. Mungkin pacarnya sedang khawatir dengan keadaannya." ucap Yohan sambil terus memutar stir menyetabilkan laju mobilnya.
"Angkat." jawab Elesh dingin, pacarnya? Dia benar-benar tidak tau jika wanita ini memiliki pacar. Kenapa kata pacar itu mengganjal dalam hatinya, bukankah wajar jika orang muda memiliki kekasih karena memang dia masih lajang.
__ADS_1
Yohang mengambil benda pipih di sampingnya, kemudian ia menggeser tombol hijau. Belum juga dia mengucap hallo sudah ada wanita yang ngomel-ngomel di dalam sana.
"Hallo dimana kamu? Ternyata kamu masih ingat padaku. Butuh waktu berapa lama kamu untuk mengangkat tefonku? Apakah kamu sudah gila mau membuatku mati khawatir, jawab jangan diam saja. Tau tidak perusahaan HUANG yang ingin kamu hancurkan karena presiden direkturnya cabul itu telah bangkrut begitu saja. Aku tidak tau apa yang terjadi namun ini berita bagus!. Aku sudah mencarimu kemana-mana ,ke apartemenmu ke bar tempat kamu bekerja tapi kamu tidak ada. Ak7 sudah bilang kalau ada masalah itu cerita sama aku, aku merasa tidak berguna jadi sahabatmu. Heii kamu apakah kamu sudah bisu seminggu tidak bertemu." celoteh seorang wanita yang berada di balik panggilan telefon yang sudah di loudspeaker itu, bagaimana Yohan menjawab wanita itu begitu agresif.
"Ha-lo." ucap Yohan pelan.
"Lah, kok laki-laki. Dimana Esme? Dimana kau sembunyikan dia. Jangan-jangan kau culik dia." ucap Karina dengan penuh nada curiga.
"Nona maaf anda tenang dulu! Kami tidak menculiknya namun nona Esmeralda sekarang sedang koma di rs MALIK. Anda bisa datang kesana menemuinya." ucap Yohan dengan keringat bercucuran, dia bisa menangani seorang klien sesulit apapun namun dia gagal dalam menangani wanita yang ngomel ngomel tidak karu karuan.
"Apa yang kamu lakukan kenapa bisa koma? Hiks hiks hiks." Suara Karina mulai serak, wanita itu menangis dalam panggilan telfonnya.
Tuttt ......
Panggilan telfon itu terputus begitu saja, Yohan tidak tau apa yang akan dilakukan wanita dalam telfon selanjutnya. Sementara itu ia melirik ke arah Elesh.
"Apa maksudmu memberi tahu dia dirawat dimana?" tanya Elesh dengan tatapan membunuh.
__ADS_1
"Dia sahabatnya bukankah memang seharusnya dia tau." jawab Yohan sambil kembali mengemudi dengan baik.
"Bagaimana kamu tau jika dia sahabatnya."
"Tidak tau aku hanya yakin saja. Jika kamu tidak percaya kepadaku, kamu mau percaya siapa lagi. Bandingkan saja, bagaimana jika aku kehilangan kamu atau kamu kehilangan aku?."
"Aku akan mencari asisten baru."
"Yakin ada yang sebaik aku?"
"Tidak." jawab Elesh dengan pandangan lurus ke depan, ia melihat jalanan ramai itu dengan penuh pemikirian.
Bagaimana jika dia kehilangan Yohan, apakah pondasinya masih berdiri dengan kokoh. Bagaimana jika suatu saat Yohan Berhianat, apakah dirinya bisa berdiri dan mensetabilkan nya.
.
.
__ADS_1
.