
Keterkejutan benar-benar tidak bisa di sembunyikan dari raut wajah mereka. Bagaimana bisa tiba-tiba Elesh memutuskan untuk menikahi Esmeralda hanya karena ingin mengungkapkan asal usulnya yang tidak jelas. Jika Esmeralda tau semua itu hanyak akal-akalan dari Elesh Alexsandriano ia pasti akan marah besar merasa tidak dihargai atau merasa ia mengecewakan orang tua yang sudah mengasuhnya puluhan tahun ini.
"Bagaimana kau bisa mengambil keputusan yang tidak masuk akal. Jika dia tau, dia akan membencimu atau mungkin akan meninggalkanmu." ucap Moana sambil menyilangkan tangannya di dada.
"Ibu, itu adalah resiko. Lagian aku tidak mencintainya, tidak peduli ia akan membenciku atau tidak. Namun identitas nya harus terungkap benar atau tidak. Jika benar, ia akan menjadi ancaman bagi keluaraga Alexsandriano." jawab Elesh tegas.
"Tapi jika dia bukan bagian dari kelompok itu! bagaimana kamu akan menyikapinya."
Moana mencecar anaknya dengan pertanyaan-pertanyaan yang benar-benar mengirakan sekiranya keputusan Elesh ini sangat tidak masuk akal, menikah demi menarik musuh keluar dari sarang.
"Ibu, tidak apa-apa semua akan baik-baik saja. Aku bisa bercerai jika dia bukan bagian dari kelompok itu." ucap elesh menenangkan sang ibu.
"Aku justru berharap dia bukan bagian dari semua ini, dan bisa memberiku cucu yang manis."
Moana berucap ia berkali-kali menghela nafas dengan semua ini. Namun, keputusan Elesh bukanlah apa yang bisa ia ganggu gugat.
"Baiklah, terserah padamu. Rencanakan saja aku hanya ingin kamu baik-baik saja."
__ADS_1
Elesh mengangguk kemudian ia berpamitan untuk pergi ke kamar nya untuk membersihkan diri sebelum makan malam tiba.
Sementara itu jauh di tempat Lain Esmerlada dan Karina sedang bercanda ria mereka tengah merencanakan sesuatu agar di izinkan Elesh untuk kembali pergi ke sekolah. Saat itu juga telfon nya berdering.
Kringgg....Kringgg....Kringgg...
Sebuah panggilan dari nomor tidak di kenal masuk, siapa dia bagaimana dia bisa tahu nomor telepon nya. Esmeralda menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan dari orang asing itu.
"Mungkin sebaiknya tidak kau jawab." ucap Karina khawatir, dia sangat mengkhawatirkan keadaan sahabatnya itu bagaimanapun dia adalah orang yang paling takut Esmerlada kenapa-kenapa.
Tombol hijau berhasil di geser, detik demi detik panggilan muncul di layar benda berbentuk pipih tersebut.
"Hallo." jawab Esmerlada sambil menyalakan loudspeaker supaya karina ikut mendengar panggilan tersebut, memang sebaiknya tidak ada rahasia di antara mereka.
"Hallo, benar dengan nona Esmerlada?" tanya seorang laki-laki asing di balik panggilan telefon.
"Ya ini siapa?" tanya Esmeralda gugup.
__ADS_1
Keterlibatannya dengan keluarga Alexsandriano membuat dirinya tidak bisa makan atau tidur dengan tenang. Ada sebagian orang yang ingin menggunakan dirinya sebagai alat untuk dekat dengan pebisnis terkemuka tersebut, atau menggunakan dirinya untuk dekat atau mendapatkan kontrak bisnis dengan keluarga Alexsandriano.
"Siapa?" bisik karina. Esmeralda hanya menggeleng orang dibalik telepon hanya menutup diri tak lagi bersuara.
"Hallo. Ini siapa?" tanya Esmeralda.
"Bukan siapa-siapa. Peringatan untukmu jika Elesh menikahimu tugasmu hanya menolak. Jika tidak aku akan membunuhmu dan seluruh keluargamu." ucap Laki-laki dari balik panggilan telefon.
siapa dia, dan siapa keluarga yang dia maksud. Esmeralda sedang berfikir keras. Apa Elesh menikahinya tidak mungkin itu terjadi, Elesh adalah laki-laki yang terlahir dengan sendok perak di tangannya tidak mungkin menikahi dirinya yang hanya rakyat jelata.
.
.
.
.
__ADS_1