
Yixi dan Airav tersenyum saling pandang, sambil sesekali mengedipkan mata. Hanya mereka yang tahu, apa yang ada dalam pikiran. Pelayan akhirnya datang juga, meletakkan pesanan di atas meja.
"Oh iya, apa nama toko online shop kamu?" tanya Ubay.
"Toko online shop milikku, namanya adalah Yixi Design." jawab Yixi.
"Kamu pintar tentang desain iya." ujar Ubay menggodanya.
"Haduh, sudah pernah sekelas namun tidak tahu. Coba deh kamu lihat karya Yixi, bagus-bagus banget tau." Airav memancingnya.
"Aku yakin Yixi perempuan berbakat, aku pasti akan melihat hasil karyanya." ujar Ubay.
"Kamu bisa saja, aku ini masih pemula." jawab Yixi.
Pada sore harinya, Yixi pulang ke rumah. Dia mendapatkan tatapan tajam, dari Yanky. Pria itu mendapat laporan dari sekretaris Jean, bahwa Yixi bertemu pria sambil melemparkan senyuman mempesona.
"Kenapa pergi dengan seorang pria, tanpa meminta izin?" tanya Yanky.
"Maaf, aku rasa ini sudah seharusnya. Dalam surat perjanjian tidak tertulis, harus minta izin setiap saat." jawab Yixi.
__ADS_1
"Maka, mulai sekarang catat dalam pikiranmu." ucap Yanky.
"Huh, baiklah." jawab Yixi mengalah.
"Sebagai hukuman, sekarang juga susun buku di ruang perpustakaan. Buku harus sesuai dengan kategori, dan warna juga harus dibedakan. Rak buku di sana juga, perlu dibersihkan sampai mengkilat." titah Yanky.
"Baiklah tuan muda, aku pergi dulu." Berlari dengan rasa kesal.
Yixi masuk ke ruang perpustakaan, lalu menyusun buku-buku tersebut. Yixi menatap rinci judul-judul buku, beserta warna kulitnya juga.
"Bagaimana ini, sedangkan kategorinya sama. Tapi, kok ini beda iya warnanya. Dia pasti sengaja mengerjai aku. Iblis sinting mulai kumat, dia kehabisan obat kali." gerutu Yixi.
Yixi menyusun berdasarkan kategori saja, sedangkan tentang warna dia acuhkan. Bukankah kategori lebih penting dari warna pikir Yixi.
"Yanky, mana istri kamu?" tanya Zero.
"Dia sedang membaca buku di perpustakaan." jawab Yanky gugup.
"Ternyata, Yixi suka juga membaca buku." ujar Nifsah.
__ADS_1
"Seorang arsitektur pemula, memang harus banyak membaca. Dari gambar perumahan modern, Yixi bisa mendapatkan inspirasi." jawab Yanky.
Nifsah dan Zero segera melangkahkan kakinya, menjauh dari pintu kamar Yanky. Mereka hanya mengatakan, tentang sup ceker yang sudah dimasak. Yanky segera ke ruang perpustakaan, dan mendapati Yixi yang tengah tertidur pulas.
"Dikasih hukuman, malah enak-enakan tidur. Dasar tidak tahu diri kamu Yixi Vaurasati." ejek Yanky.
Yanky membenarkan rambut Yixi, yang menutupi wajahnya. Dia benar-benar tidak sadar, masih membenamkan posisi kepala pada meja. Yanky melangkahkan kakinya mendekati rak buku, memeriksa hasil kerja keras istrinya. Yanky mendekat ke arah Yixi lagi, hendak menyentuh kedua pipi istrinya. Yixi membuka kedua bola matanya, lalu Yanky secepat mungkin menjauhkan tangannya.
"Tuan Yanky, kenapa kamu di sini?" tanya Yixi.
"Tentu saja, melihat hasil kerja kerasmu." jawab Yanky.
"Tugasku sudah selesai tuan Yanky, semua permintaan anda sudah terpenuhi." ujar Yixi.
"Mana bisa begitu, jelas-jelas masih berantakan." jawab Yanky.
"Apanya yang salah, semuanya sesuai perintah tuan. Buku sudah disusun berdasarkan kategori." Yixi protes.
"Tapi, susunan warna tidak sesuai." jawab Yanky.
__ADS_1
"Harusnya pilih salah satu saja, kalau seperti itu membuat pusing orang lain." gerutu Yixi.
"Terima saja hukuman." jawab Yanky.