
”Dasar iblis sinting ini, selalu saja membuatku ngeri. Tatapan tidak bersahabat, dan juga bibir seringai jahatnya. Siapa kelak yang akan mau jadi istrimu, aku saja terpaksa menikah denganmu.” batin Yixi.
Yanky dan Yixi duduk di kursi, yang berwarna putih cerah. Yixi mengiris daging bulat tipis, dengan pisau kecil yang sudah tersedia sejak awal. Yanky melilitkan garpu, pada mie saus pedas.
"Yixi, kau jangan makan seperti itu. Kelihatan sekali, bila kau sedang sandiwara. Ayo, suapi aku sekarang juga." titah Yanky.
"Oh baiklah." jawab Yixi, dengan terpaksa.
Yixi menyuapi Yanky dengan kasar, dan sengaja menyendok wartel lebih banyak. Dia tidak peduli, bila Yanky sebenarnya ingin makan daging.
"Belum cukup, kau menyiksaku di rumah. Nenek setiap hari, memasak sayur daun pepaya dan bunganya. Secara tidak langsung, kau telah menindas ku." gerutu Yanky.
"Maaf tuan Yan, karena sayur tersebut cocok denganmu. Aku rasa lidah pahit kau, setara dengan kepahitan sayur itu." jawab Yixi.
"Lama-lama kau berani melawanku, sangat cocok bila aku mengurangi bonus kerjasama." ancam Yanky.
__ADS_1
"Maafkan aku tuan Yan, berbaik hatilah sedikit." jawab Yixi, dengan rayuan yang santai.
Setelah menikmati jamuan, acara dansa akhirnya dimulai. Tuan Smith memanggil nama Yanky, dan juga nama Yixi.
"Ayo kita naik ke atas panggung." ajak Yanky.
"Bagaimana mungkin, aku tiada persiapan tuan Yan. Aku takut gerakan kaku ini, akan ditertawakan oleh semua orang." jawab Yixi.
"Bodoh, asal kau berani pasti bisa tampil. Asal kau percaya diri, hasilnya tidak seburuk yang terbayangkan. Asal kau berusaha, pasti bisa maksimal." Yanky mengoceh pada Yixi.
Yanky meletakan telapak tangannya di atas udara, supaya Yixi menyambut tangannya. Yixi meletakkan telapak tangannya, dengan telapak tangan Yanky. Lalu setelah itu, dia beranjak dari duduknya.
Yixi mulai berjalan menyeimbangi langkah Yanky, tidak lupa tebar pesona pada semua orang. Sekarang keduanya berada di atas panggung, dan memberikan hiburan untuk penonton.
"Cepat ikuti aku!" bisik Yanky, memberi titah.
__ADS_1
"Iya tuan." jawab Yixi.
Yanky bergerak ke kanan dan kiri, dan Yixi hanya mengikutinya saja. Yanky tersenyum jahat, sambil menoleh ke arah Yixi. Yanky terus menghayati gerakannya, sedangkan Yixi hanya mengingat gerakan yang dia hafal.
Yanky menarik Yixi, ketika hampir terjatuh. Dia tidak ingin Yixi membuat malu, di depan semua orang yang melihat. Yixi memaksakan diri, untuk kembali menari. Dia benar-benar merasa lelah, dengan gerakan yang tidak dia kuasai. Alih-alih memaksakan diri, rasanya ingin pingsan saat itu juga.
Plok! Plok!
Suara tepuk tangan riuh dari penonton, saat mereka usai berdansa. Yanky dan Yixi segera pergi, ke belakang panggung. Yanky berkacak pinggang, dengan tatapan tajam.
"Kau ini bagaimana, menari seperti anak itik dicekik." Yanky mengejeknya.
"Tuan Yan, tidak bisakah kau menghargai kerja kerasku. Apa kau tahu, mengenakan sepatu tinggi sambil menari tidaklah mudah." jawab Yixi, masih dengan menahan kesal.
"Aku tahu itu, namun tetap saja kau ceroboh. Lihatlah, dirimu tadi hampir terjatuh. Kalau tidak ada aku yang menolong, kau sudah habis jadi bahan olokan." ucap Yanky.
__ADS_1
"Biarkan saja bila mereka mau mengolok diriku, daripada harus terlihat sempurna namun membahayakan diri." jawab Yixi.