
Keesokan harinya, Yanky membereskan barang-barang ke dalam koper. Dia akan segera pergi ke Jerman.
"Yixi cepatlah bersiap, kita akan pergi secepatnya." titah Yanky.
"Iya tuan." jawab Yixi.
Yixi sudah selesai membereskan barangnya, lalu segera pergi meninggalkan ruangan tersebut. Pesawat lepas landas, meninggalkan negara Italia.
Sementara di sisi lain, ada San dan juga Cheryl, yang pergi bermain ke rumah Bonai. San Xia ingin berbincang-bincang, dengan kedua orangtua Yanky.
"Apa kabar Om, Tante?" tanya San ramah.
"Kabar kami baik nona San." jawab Shirka, cukup mewakili jawaban Bonai.
"Aku dengar kalian pulang kemarin, makanya aku datang ke sini." ujar San.
"Iya, kami baru saja mengantar Yeye ke Italia." jawab Shirka.
"Kamu biasanya tidak pernah pulang, kecuali ada hal penting. Hayo, ada tujuan apa?" Bonai menggodanya.
"Biasalah, menjenguk Papa dan Mama." jawab San.
"Kabar Papa Mikky baik-baik saja, aku bertemu dengannya sebelum ke Italia." ujar Bonai.
__ADS_1
"Namun, tetap saja harus menjenguk. Kita tidak pernah tahu, kapan batas pertemuan dengan seseorang." jawab San.
"Anak yang berbakti!" puji Shirka.
"Tante bisa saja." jawab San.
"Maka dari itu Ma, aku ingin Yanky menikah dengan San Xia. Tapi aku juga tidak ingin egois, untuk memaksa menjodohkannya." ujar Shirka.
"Yanky adalah orang yang hebat, pasti dia sudah menentukan pilihan. Orang hebat tidak mungkin, akan menikah dengan perempuan sepertiku." San Xia tersenyum samar.
"Kamu tidak boleh bicara seperti itu. Kamu adalah perempuan hebat, kebanggaan orangtua." ucap Shirka.
"Iya Tante, terima kasih telah menghibur." jawab San.
"Hai Ubay!" sapa Yixi.
"Eh Yixi, kamu ngapain di sini." jawab Ubay.
"Aku menemani teman, kalau kamu sendiri?" tanya Yixi.
"Aku sedang ada tugas dadakan dari perusahaan." jawab Ubay.
"Oh gitu iya, kelihatan sibuk sekali." ujar Yixi.
__ADS_1
"Tidak juga, lain kali kita seduh kopi latte bersama." jawab Ubay.
"Boleh, boleh, besok pagi saja. Sekalian, makan hotpot ala Jerman." Yixi tersenyum ceria.
"Setuju, besok iya jam 08.00. Aku tunggu kamu, di kedai seberang jalan apartemen ini." Ubay segera melambaikan tangan, berlalu dari hadapan Yixi.
Yixi masih menatap jejak Ubay, sambil tersenyum-senyum sendiri. Yanky merasa risih, melihat tindakan Yanky.
”Giliran dengan orang asing saja, kamu bertindak ramah. Giliran dengan aku saja, kayak orang ketangkap maling itik sekandang. Bawaannya darah tinggi terus, seolah diintrogasi warga.” batin Yanky kesal.
"Orangnya sudah menghilang di balik tembok pembatas, kenapa masih ditatap terus. Belum puas, bertemu secara tak sengaja itu." Yanky mendekapkan tangannya di dada.
Yixi tersenyum, sambil memperhatikan kedua bola matanya lekat. "Tidak bisakah, sekali saja jangan mengganggu kesenangan hidupku. Selama ini, kerjasama kita sudah membuat aku terkekang. Aku hidup bagaikan dalam penjara, harus melakukan sesuatu yang bukan tujuanku."
Keesokan paginya, Yixi melakukan panggilan video dengan Airav. Gadis mungil itu, ternyata hanya ingin memberitahu sesuatu.
"Yixi, aku hari ini akan melakukan penyelidikan tentang seorang penari." ujar Airav.
"Semoga lancar iya, namun alangkah baiknya kau pindah profesi." jawab Yixi.
"Kenapa kau tak mendukungku jadi wartawan? Aku ingin mewawancarai seorang penari agar kelak aku bisa profesional, di atas panggung impian." Airav memanyunkan bibirnya.
"Bukan tidak mendukung, aku khawatir padamu sahabatku tersayang." Yixi tersenyum tulus.
__ADS_1